Siapa yang tak mengenal Ali Alatas? Mantan Menteri Luar Negeri era Orde Baru yang dijuluki singanya ASEAN. Kontribusinya yang besar dalam dunia diplomasi telah diakui dunia internasional.
Namun, bagaimana perjuangan Ali Alatas untuk bertumbuh menjadi diplomat ulung dengan kemampuan negosiasinya yang gemilang? Selamat membaca!
Awal Mula Karier Ali Alatas
Tepat di hari Jum’at, 4 November 1932, lahir seorang legenda diplomat Indonesia, Ali Alatas. Beliau adalah sosok di balik penyelesaian berbagai konflik berkepanjangan di Asia Tenggara.
Namun, di balik kisah pengabdiannya yang tak tertandingi, Ali Alatas meniti karier diplomasinya dari titik paling dasar. Beliau tumbuh di lingkup keluarga berpendidikan.
Dikutip dari artikel Tempo.co, ayahnya, Abdullah S. Alatas, dikenal sebagai dosen Bahasa dan Sastra Arab, Universitas Indonesia.
Pada tahun 1950, Ali Alatas menempuh pendidikan hukum di Universitas Indonesia. Namun, baru sejenak merasakan bangku kuliah, jiwa beliau terpanggil untuk menjadi diplomat. Tak menunggu waktu lama, Ali Alatas langsung berpindah ke Akademi Dinas Luar Negeri yang khusus mempersiapkan para calon diplomat Indonesia.
Karier Ali Alatas pun dimulai di Direktorat Ekonomi Antarnegara yang berada di bawah Departemen Luar Negeri pada tahun 1954. Namun, karena kemampuan berpikir dan diplomasinya yang unggul, beliau dipercaya mengemban amanah sebagai diplomat di beberapa negara, mulai dari Thailand (1956), hingga Swiss (1975), sebelum akhirnya ditarik oleh Adam Malik yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia untuk menjadi Kepala Sekretariatnya.
Nama Ali Alatas tidak berhenti di kancah nasional dan regional saja. Beliau pernah bertandang di Kantor Pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Wakil Tetap Indonesia. Bahkan, beberapa kali Ali Alatas masuk ke dalam Bursa Pencalonan Sekjen PBB, saat dirinya menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Soeharto pada Tahun 1988-1999. Sayangnya, ide itu hanyalah angan-angan belaka, ketika Soeharto tidak memberi lampu hijau atas pencalonan tersebut.
Pasca menjabat sebagai Menlu, Ali Alatas kembali didapuk menjadi Penasihat Pemerintah sejak era Gus dur, Megawati, hingga SBY, sebelum beliau akhirnya berpulang pada tahun 2008.
Peran Ali Alatas Mengubah Wajah ASEAN di Mata Dunia
Kota Bangkok, Thailand, menjadi saksi ikatan persaudaraan negara-negara Asia Tenggara di bawah satu nama, ASEAN. Adam Malik yang saat itu mewakili Indonesia didampingi oleh Ali Alatas.
Siapa sangka, kehadiran Ali Alatas tidak hanya sebagai pelengkap momentum, melainkan juga menjadi cikal bakal kontribusi beliau dalam menentukan jalan hidup organisasi ASEAN.
Kemampuan Ali Alatas untuk menemukan ‘titik tengah’ dalam negosiasi telah melibatkan beliau dari satu meja ke meja perundingan berikutnya, mulai dari konflik Khmer Merah yang telah menelan jutaan korban jiwa, konflik Filipina Selatan yang berkepanjangan, hingga persoalan Timor-Timur.
Bahkan, saat eksistensi ASEAN dipertanyakan oleh dunia internasional ketika terjadi genosida di Kamboja, Ali Alatas berdiri paling depan untuk menantang pandangan negatif tersebut.
Berbagai persoalan keamanan yang krusial di atas telah mendorong Ali Alatas untuk menginisiasi ruang diskusi bagi para diplomat yang diberi nama EPG ASEAN yang berfokus pada perumusan Piagam ASEAN yang kelak berhasil disahkan pada 15 Desember 2008.
Gebrakan ini berhasil mengubah wajah ASEAN yang dulunya berbasis elitis, kini menjadi organisasi berbasis kerakyatan.
“Kerikil dalam Sepatu” Ali Alatas dalam Menengahi Integrasi Timor-Timur
Salah satu campur tangan Ali Alatas yang paling fenomenal adalah perundingan Timor-Timur yang saat itu melibatkan tiga pihak, yaitu Indonesia, Portugal, dan Timor-Timur itu.
Beliau yang saat itu mewakili Indonesia menawarkan kebebasan terbatas kepada Timor-Timur sebagai daerah otonomi khusus. Sayangnya, dualisme dalam masyarakat Timor-Timur (kelompok pro-integrasi dan pro-kemerdekaan) membuat perundingan menjadi makin pelik.
Beliau akhirnya terbang ke New York bersama Menteri Luar Negeri Portugal untuk membahas perihal referendum bagi masyarakat Timor-Timur yang kelak dilaksanakan pada 30 Agustus 1999.
Upaya untuk mengintegrasikan Timor-Timur nyatanya tinggal kenangan, ketika hasil referendum menggambarkan keinginan kuat masyarakat Timor-Timur untuk memisahkan diri dari Indonesia dan menjadi negara merdeka.
Ali Alatas yang saat itu berusaha semaksimal mungkin merasa kecewa dengan keputusan Presiden BJ. Habibie yang memilih untuk melepas Timor-Timur tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengannya.
Walaupun demikian, Ali Alatas tak lepas tangan pasca merdekanya Timor-Timur. Konflik yang terjadi akibat kelompok pro-integrasi berhasil diredam atas keterlibatan Ali Alatas. Selain itu, beliau juga terlibat dalam proses transisi Timor-Timur dan memperbaiki hubungan diplomatik kedua negara.
Diungkap dalam wawancaranya bersama The Jakarta Post yang dikutip dari Tirto.id, beliau menganggap Timor-Timur menjadi salah satu persoalan yang paling rumit yang pernah dihadapinya. “Harus saya akui, kadang saya frustrasi.”
Hal ini dilatarbelakangi arena kekerasan demi kekerasan yang terjadi di Timor-Timur telah berlangsung sejak era Presiden Soeharto. Puncak konflik terjadi pada Peristiwa Kekerasan Santa Cruz pada tahun 1991 yang memperburuk pandangan Indonesia di mata internasional.
Beliau bahkan memberi julukan atas persoalan ini sebagai “Kerikil dalam Sepatu” yang diabadikannya dalam sebuah buku.
Akhir Pengabdian Ali Alatas
Tepat pukul 07.30, pada Tanggal 11 Desember 2008, 4 hari sebelum hasil kerja kerasnya yang bernama Piagam ASEAN disahkan, beliau berpulang dengan membawa setumpuk pengabdian abadi di dalam dadanya.
Ali Alatas meninggal di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, setelah mengalami serangan jantung. Hal ini membuat suasana diplomasi Indonesia hening seketika.
Sosok yang dikenal sebagai Singa-nya ASEAN dengan segudang gebrakannya telah mereformasi ASEAN menjadi organisasi yang disegani di mata dunia, kini telah tiada.
Atas seluruh jasanya yang tidak akan tertandingi dalam dunia diplomasi, beliau dianugerasi penghargaan Bintang Republik Utama dan Grand Cordon of The Order of The Rising Sun atas jasanya dalam meningkatkan hubungan positif antara Indonesia dan Jepang.
Beliau dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, keesokan harinya pada tanggal 12 Desember 2008.
Dengan demikian, kisah pengabdian sosok legenda diplomasi Indonesia, Ali Alatas. Dari beliau Kawan bisa memahami sebuah perjalanan gemilang dimulai dari perjuangan paling sederhana, sesederhana panggilan jiwa yang ditunaikan dengan sepenuh hati. Selamat meneladani sosoknya yang tak lekang oleh waktu!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


