Rimbunnya hutan dan hembusan angin laut dengan akar yang berkelindan seolah merajut kisah tentang pasang surut kehidupan dalam menghadapi tantangan alam yang kian nampak.
Bukan sekedar hutan biasa, tapi hutan yang mampu menjadi penjaga, hutan yang menyimpan rahasia besar hingga menjadi kunci akan suatu perlawanan perubahan iklim yang terjadi.
Mangrove hutannya dengan segala kehidupan dan manfaat yang diberikannya, siulan burung, serangga yang bernyanyi di malam hari seakan membawa kedamaian hingga diharapkan mampu memberikan pelayanan terbaiknya untuk ekologi dari lahan mangrove.
Para penjaga hutan mangrove yang mengembang misi mulia ini hadir hingga dikenal dengan komunitas Karbon Biru. Misi mulia dari para penjaga hutan mangrove dalam menghidupkan paru-paru biru bumi, ternyata tak hanya menyelamatkan alam, tapi hadir memberikan harapan bagi masa depan Indonesia yang lebih asri.
Yulia Ratnasari sebagai founder komunitas Karbon Biru mengawali circular economy dari karbon biru untuk sustainable development Indonesia. Komunitas gagasan Yulia Ratnasari ini menjadi sebuah validasi dari mimpi-mimpinya untuk berkontribusai pada sustainability.
Karbon Biru Untuk Mangrove Indonesia Lebih Sustainable
Ide awal Yulia Ratnasari dengan menanam mangrove bertujuan dalam memperbaiki bioghemical yang sejalan dengan sustainable development Indonesia karena menurutnya, mangrove menjadi solusi dalam mengatasi berbagai isu perubahan iklim.
Menurut laman lindungihutan.com, Blue Carbon atau karbon biru merupakan jumlah emisi karbon dan gas rumah kaca yang dapat diserap, disimpan, dan dilepaskan ekosistem pesisir lautan. Ekosistem penyokong karbon biru ini meliputi hutan mangrove, hutan bakau, padang lamun, lahan gambut daerah pesisir, dan terumbu karang yang mana memiliki peran signifikan sebagai penyerap emisi karbon dari atmosfer dan lautan.
Komunitas Karbon Biru hadir terinspirasi dari blue carbon yang memiliki manfaat besar dalam melindungi lingkungan dengan langkah nyata yang ditunjukkanya, seperti melakukan reboisasi tanaman-tanaman pesisir hingga terus menambah luasan ekosistem tersebut.
Komunitas Karbon biru memiliki fokus pada penanaman mangrove dan edukasi pada masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan mangrove.
Forever forest menjadi proyek selanjutnya yang digagas Karbon Biru dengan programnya melakukan penanaman ribuan bibit mangrove hingga ketika mangrove tumbuh kuat selanjutnya akan diaplikasikan untuk silvofishery.
Hutan mangrove ternyata mampu menyiapkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, memperbaiki kondisi air, hingga melakukan daur ulang limbah air tambak dengan harapan adanya kehidupan dari fauna seperti ikan, kepiting, dan udang untuk menempati silvofishery yang lahannya telah disiapkan.
Dalam hal sirkular ekonomi, hadirnya mangrove ini diharapkan menjadi pintu pembuka dalam penanganan limbah tambak dari silvofishery, dan juga memberikan manfaat untuk masyarakat dalam memanfaatkan batang, buah, daun mangrove untuk dijadikan bahan baku proses produksi lain.
Secara tak langsung, ternyata mangrove ini sangat bermanfaat dari segi lingkungan dan ekonomi. Selain menjadi penyerap karbon, hadirnya mangrove apabila dibarengi dengan gerakan penghijauan memiliki dampak besar sedikit demi sedikit dalam menyelesaikan misinya hingga akan benar-benar terealisasi jika dijaga dengan baik.
Hal ini sejalan dengan tantangan awal yang ditemui Yulia Ratnasari yakni bagaimana menjaga hutan yang telah ditanam hingga menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan konservasi, di mana masyarakat lokal disana kebanyakan memiliki mindset dengan mengalihfungsikan hutan mangrove menjadi tambak yang dinilai lebih bernilai dalam hal ekonomi.
Baca juga: Global Nature Conservation School Untuk Masa Depan Bumi Tanam Harapan dan Tuai Perubahan
Aksi Nyata Karbon Biru Bangun Mangrove Untuk Pulihkan Bumi
Mangrove sebagai pagar alam memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap karbon. Dari sinilah Yulia Ratnasari memiliki peluang besar dengan potensi yang relevan, biaya murah, dan lebih menguntungkan untuk menopang ekonomi biru.
Karbon biru menjadi proyek yang digagas Yulia Ratnasari dalam penerapannya pada solusi berbasis alam untuk mengurangi erosi dan meningkatkan kualitas air, di mana keuntungannya dapat memperbaiki lingkungan dan mendukung ekonomi biru.
SATU Indonesia dukung Karbon Biru pulihkan bumi atas dedikasi Yulia Ratnasari sebagai penghargaan tahunan yang diberikan PT. Astra Internasiona, Tbk., sebagai generasi muda yang memiliki kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan.
Apresiasi SATU Indonesia Awards pada tahun 2023 dengan kategori lingkungan ini menjadikan Yulia Ratnasari melalui gerakan Karbon Biru yang digagasnya berkomitmen menjadikan Indonesia lebih sustainable dengan solusi yang efektif hingga mensejahterakan masyarakat khususnya di sekitar pesisir.
Karbon Biru menjadi aksi nyata dalam membangun konservasi hutan biru sebagai upaya dalam penangkapan dan penyimpanan karbon biologis, mendukung ekonomi biru dengan mengolah limbah air payau dari tambak dengan mengaktifkan silvofishery sebelum di buang ke laut.
Karbon Biru juga dengan usahanya dalam membangun hutan menjadikan sebagai tempat aman dan nyaman bagi flora dan fauna yang tumbuh disekitarnya. Hingga menjadikan Karbon Biru ini mendukung akan pertumbuhan biru dan ketahanan lokal.
Karbon Biru menjadi jalan baru sebagai upaya dalam melindungi, memulihkan, hingga memerangi perubahan iklim. Karbon Biru dengan bakaunya yang ditanam, jadi inventasi untuk masa depan Indonesia lebih hijau dan berkelanjutan. Saatnya bertindak, bersama lindungi paru-paru biru untuk investasi bagi bumi kita dan generasi yang akan datang.
#kabarbaiksatuindonesia
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


