ketika suara massa menjadi kompas arah jakarta - News | Good News From Indonesia 2025

Ketika Suara Massa menjadi Kompas Arah Jakarta

Ketika Suara Massa menjadi Kompas Arah Jakarta
images info

Ketika Suara Massa menjadi Kompas Arah Jakarta


Demonstrasi selalu punya tempat khusus dalam sejarah Jakarta. Sebagai pusat pemerintahan sekaligus episentrum politik Indonesia, Jakarta sejak lama telah menjadi panggung di mana suara rakyat berkumpul, dan bersatu melawan keputusan yang dianggap tidak adil.

Mulai dari Sudirman hingga Medan Merdeka, seringkali berubah menjadi ruang publik; tempat rakyat mengambil alih kendali narasi. Tidak jarang, tekanan massa ini justru berhasil mengubah arah kebijakan yang turut menentukan jalannya pemerintahan di ibu kota.

Jika kita melihat pada era Reformasi 1998, demonstrasi mahasiswa di Jakarta tidak hanya menuntut mundurnya Soeharto, tetapi juga membuka jalan bagi perubahan drastis dalam pemerintahan. Keruntuhan rezim Orde Baru, meski berskala nasional, berakar kuat pada mobilisasi massa di Jakarta.

Ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR, mengubahnya dari simbol kekuasaan negara menjadi simbol perlawanan rakyat. Tekanan ini membuat Soeharto akhirnya lengser. Sejak itu, wajah Jakarta sebagai arena politik, tidak pernah sama lagi.

baca juga

Demonstrasi lain muncul pada 2016, ketika gelombang demonstrasi besar-besaran terkait isu penistaan agama yang melibatkan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Aksi yang dikenal sebagai Aksi 212 ini menghimpun ratusan ribu orang dari berbagai daerah berkumpul di Jakarta.

Efeknya tentu tidak main-main, proses hukum berjalan cepat hingga akhirnya tuntutan massa terpenuhi, dan kemudian menetapkan Ahok sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Contoh lain bisa kita lihat dari demonstrasi buruh. Hampir setiap momentum penentuan upah minimum, ribuan buruh memenuhi Bundaran HI hingga Balai Kota. Mereka membawa spanduk, menghidupkan pengeras suara, dan menekan pemerintah provinsi agar menetapkan upah lebih tinggi.

Alhasil upah minimum Jakarta kerap mengalami kenaikan. Ini bukti bahwa demonstrasi bukan sekadar teatrikal politik, melainkan alat tawar yang nyata dalam memengaruhi kebijakan ekonomi.

Pertanyaannya, sampai di mana batas legitimasi demonstrasi dalam menentukan arah kebijakan publik?

Di Jakarta, jawabannya sering kali terasa samar. Demonstrasi bisa menjadi koreksi terhadap kekuasaan, tetapi juga bisa melahirkan polarisasi sosial yang berkepanjangan.

Beberapa aksi seringkali berujung ricuh, merusak fasilitas umum, dan meninggalkan trauma sosial. Ingatan kita pada kerusuhan Mei 1998 masih begitu melekat.

Demonstrasi mahasiswa yang awalnya damai berubah menjadi chaos setelah ditunggangi kekerasan, mengakibatkan korban jiwa dan kerugian besar. Jakarta porak-poranda, dan luka itu sulit hilang hingga hari ini.

Kekuatan demonstrasi di Jakarta berakar pada posisinya sebagai pusat kuasa. Apapun yang terjadi di Jakarta, hampir pasti terdengar gaungnya ke seluruh negeri. Ketika ribuan orang berkumpul di Monas atau Gedung DPR, sorotan media nasional dan internasional mengamplifikasi tuntutan massa.

Tekanan ini tentunya sulit diabaikan oleh pemerintah, sebab diam berarti kehilangan legitimasi di mata publik.

baca juga

Namun, perlu dicatat bahwa efektivitas demonstrasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah massa, melainkan oleh narasi yang menyertainya. Aksi 1998 dan 212 berhasil karena membawa tuntutan besar yang menyentuh hajat hidup banyak rakyat. Sementara, demonstrasi lain yang tidak mampu meramu narasi kuat sering kali menguap begitu saja. 

Di tengah dominasi media sosial hari ini, demonstrasi di jalanan tak lagi berdiri sendiri. Media sosial kini turut menjadi pengeras suara bagi demonstrasi. Apa yang terjadi di jalan bisa langsung tersebar melalui platform online, membuat pesan demonstrasi menjangkau jauh lebih luas daripada massa yang hadir secara fisik.

Foto, video, dan tagar di media sosial mampu memperkuat tuntutan, memberi tekanan tambahan kepada pemerintah, sekaligus menjaga agar isu tetap hidup di ruang publik.

Mulai dari runtuhnya rezim, bergantinya kepemimpinan daerah, hingga naiknya upah buruh adalah bukti bahwa kekuatan demonstrasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang berkumpul, melainkan oleh kejelasan arah, kekuatan narasi, serta legitimasi moral yang menyertainya.

Jakarta mungkin akan selalu menjadi tempat rakyat menyampaikan keresahannya. Namun, sering kali, suara itu baru didengar ketika sudah menggema di jalanan. Seolah-olah penguasa perlu diguncang terlebih dulu agar mereka sadar bahwa kekuasaan tidak ada yang abadi.

Dari setiap demonstrasi, kita belajar bahwa meski lelah dan diabaikan, rakyat selalu menemukan cara untuk bersama-sama melawan ketidakadilan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BL
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.