Presiden Prabowo menyatakan bahwa Indonesia siap menampung sekitar 2.000 warga Gaza. Rencananya, mereka bakal ditempatkan di Pulau Galang, sebuah pulau kecil yang berada di Kepulauan Riau.
Para korban kebengisan Israel ini akan dirawat serta diberikan pengobatan. Dalam hal ini, Pulau Galang dianggap ideal karena memiliki berbagai fasilitas pendukung, termasuk rumah sakit yang bisa dipakai untuk merawat korban luka, termasuk dengan keluarga yang mendampingi.
Kawan GNFI, perlu diketahui bahwa lokasi pengobatan ini terpisah dari warga Indonesia. Selain itu, Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) juga menegaskan bahwa rencana ini bukan menjadi bagian dari upaya evakuasi penuh, melainkan misi kemanusiaan untuk memberikan perawatan medis sementara. Nantinya, setelah mereka pulih, korban akan dikembalikan ke Gaza.
Tak hanya itu, keputusan besar ini juga tidak semata-mata ditentukan oleh Pemerintah Indonesia saja. Prabowo menyatakan bahwa dirinya berkontak dengan negara-negara Teluk (GCC) dan mendapat persetujuan dari berbagai pihak terkait, termasuk Yordania, Mesir, dan Palestina sendiri.
“Kita bersedia untuk merawat sampai seribu anak-anak ataupun korban terluka yang membutuhkan perawatan medis, tentu saja dengan persetujuan dari seluruh pihak terkait, dari negara-negara tetangganya langsung, Yordania, Mesir, dan tentu saja otoritas Palestina itu sendiri,” jelas Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, dalam keterangan yang dihimpun ANTARA.
Pulau Galang, ‘Pahlawan’ Kemanusiaan Indonesia
Jejak peninggalan kamp pengungsi Vietnam di Pulau Galang | DJKN
Tahukah Kawan GNFI jika dulunya Pulau Galang pernah dijadikan tempat untuk menampung para pegungsi asal Vietnam yang kabur akibat perang?
Dalam sebuah buku bertajuk Pulau Galang, Wajah Humanisme Indonesia, Penanganan Manusia Perahu Vietnam 1979-1996, dituliskan bahwa pulau itu awalnya hanyalah tanah dengan semak dan pepohonan lebat yang dikelilingi sungai dan lautan, sebelum akhirnya dibangun kamp pengungsian yang layak huni.
Para pengungsi itu disebut sebagai ‘manusia perahu’ atau boat people. Mereka mempertaruhkan nyawa dan segala yang mereka punya, berlayar mengarungi lautan dengan perahu sempit yang menampung puluhan hingga ratusan orang di dalamnya. Satu juta di antara mereka terus berlayar hingga mendarat di berbagai negara, seperti Hong Kong, Malaysia, Filipina, dan Indonesia, berharap dapat hidup dan diterima dengan baik.
Mereka ditampung di Pulau Galang pada tahun 1979 sampai 1996. Dalam kurun waktu tersebut, Indonesia bekerja sama dengan United Nations High Commissioner for Refugees (UNCHR) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB() untuk mengumpulkan para pengungsi ini di Pulau Galang.
Berbagai fasilitas disediakan, seperti klinik, tempat ibadah, kantor UNCHR, tempat pendidikan anak-anak, sampai pemakaman. Bahkan, ada juga rumah tahanan yang dipakai bagi pengungsi yang melakukan tindak kriminal selama berada di sana.
Per Minggu 8 September 1996, Pulau Galang resmi ditutup sebagai kamp pengungsi. Seluruh infrastruktur dan peralatan yang dimiliki UNHCR diserahkan kepada pemerintah Indonesia.
Kisah Pulau Galang yang menampung ribuan pengungsi ini menjadi cerita yang tak ternilai harganya. Yang membuatnya semakin mengharukan, ada pasangan suami-istri—Thanh dan Lan—yang menuliskan betapa bersyukurnya mereka selama berada di Pulau Galang.
“Galang berarti harapan bagi masa depan yang kami impikan ketika melarikan diri dari negara kami. Di antara derita dan kegembiraan yang kami lalui di pulau kecil itu, Galang punya tempat tersendiri di hati dan ingatan kami. Saya sering teringat pada pulau berbukit-bukit ini serta kenangan pahit dan manis yang telah mampu mengubah hidup saya untuk selamanya” tulis Thanh dan Lan dalam homepage mereka.
Bahkan, ada seorang pengungsi yang menyatakan rasa terima kasihnya yang amat mendalam bagi petugas Indonesia yang bertugas di Pulau Galang selama ia mengungsi. Dalam tulisannya itu, si pengungsi menyatakan tidak akan melupakan Galang dan petugas yang membantunya.
Pernah Dipakai untuk Rawat Pasien COVID-19
RSKI Pulau Galang yang pernah jadi salah satu pusat perawatan COVID-19 | KemenPAN-RB
Selain kamp pengungsi Vietnam, Pulau Galang juga pernah dipakai untuk tempat perawatan pasien COVID-19. Ada sebuah fasilitas bernama Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Pulau Galang.
RSKI Pulau Galang menjadi salah satu rumah sakit rujukan untuk mengantisipasi ledakan COVID-19 pada masanya. Terdapat kurang lebih 360 ruang rawat dengan rincian 240 ruangan untuk orang dalam pemantauan (ODP), 100 ruangan untuk pasien dalam pemantauan (PDP), dan 20 ruangan isolasi bertekanan negatif. RSKI Pulau Galang dapat menampung sekiranya 1.000 pasien.
Terhitung sejak April 2020-Februari 2021, lebih dari 7.000 pasien pernah dirawat di sini, baik yang terkonfirmasi positif COVID-19 maupun suspek. Bahkan, disebutkan bahwa RSKI Pulau Galang juga merawat warga negara asing.
Kawan GNFI, penggunaan Pulau Galang sebagai lokasi alternatif korban perang di Gaza termasuk dalam melaksanakan Sila ke-2 Pancasila, yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Lokasi Pulau Galang yang strategis, dekat dengan Batam dan Singapura, beserta fasilitasnya yang baik diharapkan dapat memenuhi kebutuhan warga Gaza yang kesulitan mendapatkan akses kesehatan yang baik di tanah airnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


