scan retina world app guncang warga indonesia - News | Good News From Indonesia 2025

Scan Retina, World App Guncang Warga Indonesia!

Scan Retina, World App Guncang Warga Indonesia!
images info

Scan Retina, World App Guncang Warga Indonesia!


Baru-baru ini beredar di media sosial mengenai keberadaan World App yang membuka gerai luringnya di Kota Bekasi. Pembukaan gerai ini diikuti pula dengan scan retina dan tawaran menggiurkan berupa uang tunai bagi pengunjung yang berdatangan. Meski demikian, apa sebetulnya World App itu dan mengapa ia bisa mengguncang warga Indonesia?

baca juga

Tawarkan Imbalan Uang untuk Scan Retina

Aplikasi World App tiba-tiba ramai dibicarakan di media sosial karena memberikan tawaran imbalan uang tunai bagi pengguna yang secara sukarela melakukan scan retina. Pengguna akan dipandu untuk melakukan pendaftaran dan diverifikasi oleh aplikasi tersebut.

Kemudian, pengguna akan memperoleh ID digital dan uang tunai. Uang tunai yang diberikan sendiri bervariasi dari nilai Rp 200.000 hingga Rp 800.000.

Apa Itu World App?

Singkatnya, World App merupakan aplikasi dompet digital unutk mendapatkan dan menyimpan mata uang kripto bernama Worldcoin. Worldcoin sendiri merupakan produk dari perusahaan yang berbasis di San Fransisco, Tools for Humanity. Perusahaan ini dimiliki oleh Alex Blania dan Sam Altman. 

Selain Worldcoin, salah satu fitur penting dari aplikasi ini adalah World Chain dan World ID. World Chain adalah rangkaian data transaksi di seluruh jaringan komputer yang dikelompokkan secara kronologis menjadi satu blok (blockchain). Rangkaian ini tidak mudah dimodifikasi sehingga integritas datanya terjamin.

Sementara itu, World ID sendiri merupakan penanda identitas tiap orang yang terdaftar di dalam aplikasi. World ID didapatkan setelah melakukan identifikasi dan verifikasi diri menggunakan teknologi orb dari World App.

Cara Kerja World ID dan Teknologi Orb

Orb, sebuah kepala robot dengan kamera, merupakan pemain inti dari World ID. Orb akan melakukan pemindaian retina mata serta data biometrik lain seperti kontur waja dan bentuk tubuh dengan sensornya.

Data yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam algoritma perusahaan dengan metode kriprografik. Selanjutnya, World App akan memverifikasi data unik dari pengguna untuk menghasilkan World ID.

Pihak World App berpendapat bahwa keberadaan World ID ini sangat penting. Data biometrik pada World ID yang dimiliki tiap individu sangat unik sehingga pengguna dapat dikonfirmasi sebagai manusia, bukan wujud artificial intelligence.

Selain itu, World ID juga memperkecil kemungkinan terjadinya Sybil Attack, yaitu serangan terhadap jaringan yang diakibatkan oleh banyaknya akun palsu. Akun palsu sendiri merupakan ancaman bagi jaringan desentralisasi karena memungkinkan pencurian informasi pribadi.

baca juga

Bahaya yang Mengancam

Meskipun menawarkan imbalan menarik dan teknologi canggih, terdapat bahaya yang membayangi penggunaan World App ini. Pasalnya, pengumpulan data biometrik sendiri sudah melanggar privasi individu dan perusahaan tidak menyediakan perlindungan privasi bagi penggunanya.

Tidak ada jaminan bahwa data biometrik yang bersifat sensitif serta personal ini tidak akan bocor dan digunakan untuk kejahatan. Minimnya kejelasan hukum dalam praktik penggunaan World App membuat khawatir beberapa negara. Spanyol sendiri sudah melarang keberadaan World App. Sementara itu, Republik Dominika dan Portugal sudah memberhentikan operasi aplikasi tersebut.

Selain itu, kegiatan pengumpulan data dan input data ke dalam algoritma juga tidak manusiawi. Para pekerja peringkat rendah yang ditugaskan untuk mengoperasikan teknologi orb tidak dibayar dengan upah yang layak. 

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia sendiri, World App sudah membuka gerai luring di beberapa kota di Indonesia, seperti di Jakarta, Bandung, dan Bekasi. Menurut netizen, ketika pembukaan gerai tersebut, terdapat antrean panjang yang didominasi oleh perempuan dan pengemudi ojek online.

Alasan mereka mengantre juga beragam. Ada yang hanya sekadar coba-coba atau karena sudah kehabisan uang akibat kondisi ekonomi pascapandemi. 

Sayangnya, beberapa orang yang mengantre termasuk golongan yang rentan terhadap misinformasi di internet. Mereka belum memahami dampak yang mungkin dapat ditimbulkan dengan menjual informasi sensitif mereka secara bebas. Dikhawatirkan ketidaktahuan mereka dimanfaatkan untuk pencurian data dan praktik kejahatan lainnya. 

Bagaimana menurut Kawan GNFI? Apakah ini merupakan peluang bagi Indonesia agar dapat terjun ke dunia mata uang kripto atau malah ancaman bagi data pribadi?

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AA
AB
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.