Indonesia memiliki kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap, baik dari segi jumlah jenis maupun potensinya. Banyak sumber daya hayati telah dimanfaatkan secara tradisional maupun melalui penelitian, tetapi masih memerlukan data yang lebih lengkap untuk pengembangannya ke tingkat industri.
Salah satu yang menarik perhatian adalah Usnea spp. (lumut kerak), yang kaya metabolit sekunder dengan berbagai potensi pemanfaatan.
Pemilihan bahan baku dalam masakan daerah dipengaruhi oleh ekologi, ketersediaan sumber daya, dan tradisi budaya. Salah satu contohnya adalah Sayur Babanci.
Kuliner tradisional khas Betawi tersebut semakin langka akibat sulitnya memperoleh bahan baku bumbu seperti Usnea spp., rempah yang dikenal dengan berbagai nama seperti ‘tai angin’ atau ‘janggot kai’, ‘kayu angin’. Lumut ini telah lama digunakan dalam masakan tradisional, tetapi ketersediaannya semakin terbatas.
Kuliner tradisional khas Betawi merupakan cerminan kekayaan budaya dan identitas rasa yang melekat dalam kehidupan suatu komunitas. Hidangan kuliner sayur babanci dikenal dengan perpaduan rasa dan rempah yang kompleks, mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat betawi.
Namun, keberadaan kuliner tradisional kini mulai tergerus oleh modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Potensi Besar Lumut Kerak di Indonesia
Di Indonesia, terdapat sekitar 512 jenis Usnea spp., terutama di Pulau Jawa. Selain sebagai bumbu, lumut ini juga berpotensi sebagai pewarna alami, antibiotik, hingga obat herbal. Sayangnya, penelitian mengenai pemanfaatannya dalam kuliner masih sangat terbatas.
Oleh karena itu, eksplorasi lebih lanjut diperlukan untuk menggali potensi Usnea spp., baik dalam pengembangan makanan fungsional maupun sebagai bahan baku obat tradisional.
Untuk mendukung riset ini, Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) BRIN bekerja sama dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia (UKI) melalui penelitian bertajuk "Pengungkapan dan Pemanfaatan Keanekaragaman Rempah (Usnea spp.) Berbasis Masyarakat Lokal Suku Betawi". Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian secara virtual pada Rabu (26/03).
Kerja sama ini bertujuan membangun jejaring riset antara BRIN dan UKI untuk mengungkap keanekaragaman Usnea spp. sebagai bahan pangan, obat, dan kosmetika tradisional.
Selain itu, penelitian ini juga akan mengidentifikasi jenis-jenis potensial, menganalisis morfologi, serta memahami ekologi dan populasi Usnea spp. di Jawa, guna mendukung pelestarian bahan pangan berbasis kearifan lokal dan membuka peluang eksplorasi lebih lanjut.
"Kami menyambut baik kerja sama ini yang akan berlangsung hingga Maret 2028. Penelitian ini sejalan dengan mandat PREE dalam riset inovasi di bidang etnobiologi, terutama dalam pemanfaatan sumber daya hayati , baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk bioprospeksi," ujar Asep Hidayat, Kepala PREE BRIN.
Pengungkapan dan pemanfaatan keanekaragaman rempah ini merupakan topik yang sangat menarik. Sebagai langkah awal, tim telah menyusun proposal riset untuk diajukan dalam skema pendanaan yang tersedia.
"Kami berharap kegiatan ini dapat berjalan sesuai Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan menghasilkan inovasi berbasis riset," tambahnya.
Kolaborasi Riset untuk Kebutuhan Zaman
Kolaborasi antara lembaga riset dan institusi pendidikan seperti UKI, diharapkan dapat melahirkan talenta-talenta unggul dari universitas yang siap menjadi periset. Dengan demikian, riset etnobiologi akan terus berkembang, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan zaman.
Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Kerdid Simbolon, menyampaikan apresiasi kepada BRIN atas dukungan dan kerja sama yang telah terjalin, khususnya dalam bidang riset.
"Kami sangat menghargai kesempatan yang diberikan kepada dosen-dosen kami untuk terlibat dalam penelitian bersama BRIN, baik secara langsung maupun melalui kolaborasi akademik," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kerja sama ini memberikan manfaat besar bagi pengembangan keilmuan di fakultasnya.
“Kami berharap kolaborasi ini tidak hanya terbatas pada Program Studi Pendidikan Biologi, tetapi juga dapat diperluas ke program studi lainnya serta membangun koneksi yang lebih kuat antara pemikiran dan riset yang berkembang di BRIN dengan bidang keilmuan yang kami tekuni,” tambahnya
“Dengan begitu, riset yang dilakukan dapat semakin memperkaya wawasan akademik, mendukung pengembangan fakultas, dan berkontribusi pada kemajuan Universitas Kristen Indonesia secara keseluruhan,” ungkapnya.
Ia juga menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam kerja sama yang telah berlangsung. Oleh karena itu, pihaknya terbuka terhadap arahan dan bimbingan dari BRIN agar kolaborasi semakin erat dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Pentingnya Riset Berbasis Kearifan Lokal
Ketua Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan- Universitas Kristen Indonesia, Sunarto, menekankan pentingnya melakukan riset mengenai lingkungan dan biodiversitas berbasis kearifan lokal.
"Kami telah lama meneliti rempah-rempah dan obat tradisional dari Sumatera hingga Merauke. Keberhasilan akreditasi ini juga merupakan hasil kerja sama semua pihak. Dengan adanya kerja sama ini, kami berharap riset semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas," jelasnya.
Ruang lingkup kerja sama ini mencakup penelitian dan pengembangan Usnea spp., termasuk survei lapangan untuk mendalami keberadaannya, keanekaragaman jenis, kandungan metabolit sekunder, nilai nutrisi, serta pemanfaatannya secara berkelanjutan.
"Lebih dari sekadar melestarikan kuliner Betawi, riset ini membuka peluang inovasi dan penemuan yang bermanfaat bagi masyarakat di bidang pangan fungsional dan obat tradisional berbasis rempah lokal," kata seorang peneliti.
Mengingat pemanfaatannya sebagai bahan baku bumbu masakan masih terbatas, eksplorasi lebih dalam diperlukan untuk menggali manfaat dan nilai ekonominya secara optimal.
Kerja sama ini diharapkan tidak hanya memperkuat riset akademik tetapi juga meningkatkan pemahaman terhadap sumber daya hayati Indonesia, sekaligus berkontribusi yang signifikan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengembangan industri berbasis biodiversitas.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


