Proses indianisasi yang terjadi di Nusantara dapat dikatakan berlangsung dalam waktu relatif singkat, mengingat pengaruh India yang sudah sangat kuat sejak zaman dahulu. Pengaruh India terhadap budaya dan peradaban di Nusantara terlihat jelas dalam berbagai aspek, mulai dari seni, agama, hingga sistem pemerintahan.
Salah satu faktor penting yang menyebabkan India memiliki pengaruh besar di wilayah ini adalah peranannya dalam mengenalkan aksara kepada masyarakat Nusantara.
Latar belakang kemunculan pengaruh India di Nusantara dapat ditelusuri melalui adanya jalur perdagangan yang dikenal dengan sebutan Jalur Sutra. Bangsa India, yang saat itu memiliki kemajuan dalam bidang peradaban, berusaha menjalin kerja sama dan melakukan perdagangan antarbangsa dengan negara-negara yang berada di sepanjang jalur tersebut.
Indonesia, yang terletak di Selat Malaka, menjadi titik pertemuan penting dalam jalur perdagangan. Terdapat dua jaringan pelayaran perdagangan di Kepulauan Nusantara, salah satunya mencakup Filipina Selatan, Sabah, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara, sementara lainnya meliputi Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Jawa, Sunda Kecil, dan Pantai Selatan Papua Barat.
Jaringan terakhir ini menjadi jalur utama penyebaran pengaruh India, terbukti dengan munculnya kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Tarumanegara, Mataram Kuno, Sriwijaya, Kediri, Singasari, Melayu Kuno, dan Majapahit.(Melacak Jejak Awal Indianisasi di Pantai Utara Jawa Tengah, 2007)
Berdasarkan data sejarah yang dihimpun sejarawan Indonesia, salah satunya Soekmono, kedatangan agama Hindu ke Indonesia sudah terjadi sejak abad ketiga atau sekitar tahun 400 Masehi. Bukti paling valid menurut Soekmono adalah penemuan tujuh prasasti berbentuk yupa peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. (Dimensi Tradisional dan Spiritual Agama Hindu, 2017).
Proses ini terjadi melalui jalur perdagangan yang dibawa oleh para saudagar asal Gujarat, India. Bukti adanya hubungan perdagangan antara India dan Indonesia dapat ditemukan dalam kitab Jataka dan Ramayana, meskipun kedua kitab tersebut tidak menyebutkan secara spesifik kapan India pertama kali mengenal Indonesia.
Kitab sastra India yang lebih dapat dipercaya dalam hal ini adalah Kitab Mahaniddesa, yang memberikan petunjuk bahwa masyarakat India telah mengetahui beberapa tempat di Indonesia sejak abad ke-3 Masehi.
Selain itu, dalam kitab Geographike yang ditulis pada abad ke-2 Masehi, juga disebutkan adanya hubungan perdagangan antara India dan Indonesia. Dari kedua sumber tersebut, dapat disimpulkan bahwa hubungan dagang yang intensif antara Indonesia dan India mulai terjalin pada abad ke-2 hingga ke-3 Masehi.(Modul Pembelajaran SMA SEJARAH INDONESIA, 2020)
Memperkenalkan Aksara atau Tulisan
Bangsa India menjadi bangsa pertama yang mengenal tulisan. Melalui jalur perdagangan yang aktif antara India dan Nusantara, aksara India kemudian diperkenalkan ke Indonesia, yang pada akhirnya memberikan dampak besar dalam perkembangan budaya dan sistem penulisan di Nusantara.
Sebagai pusat peradaban pada masa itu, India tidak hanya memperkenalkan aksara, tetapi juga berbagai unsur kebudayaan yang membentuk banyak aspek kehidupan masyarakat Indonesia.
Melalui interaksi dengan para pedagang India, masyarakat Indonesia mulai mengenal tulisan dan aksara, yang kemudian berkembang menjadi sistem penulisan yang lebih kompleks. Salah satu bahasa yang diperkenalkan oleh India adalah bahasa Sanskerta, yang digunakan dalam berbagai prasasti, teks keagamaan, dan literatur pada masa itu.
Oleh karena itu, aksara dan bahasa Sanskerta menjadi bagian integral dari kebudayaan Indonesia yang terus berkembang hingga saat ini, memperkaya khazanah budaya dan sejarah bangsa Indonesia.
Memperkenalkan Agama Hindu-Buddha
Selain bangsa China, bangsa India juga memperkenalkan agama Hindu-Buddha di Indonesia. Oleh karena itu, pengaruh India sangat kuat di Indonesia, bahkan banyak peninggalan-peninggalan India kuno yang bersejarah dan masih ada hingga saat ini. Contohnya adalah lukisan-lukisan yang dijadikan relief atau ukiran-ukiran yang sering digunakan sebagai hiasan di dinding-dinding bangunan. Salah satu contoh bangunan khas India yang telah mengalami akulturasi dengan budaya Indonesia adalah Keraton.
Meskipun Keraton merupakan cagar budaya Islam di Indonesia, bangunan ini merupakan hasil akulturasi dengan budaya India, karena memiliki kesamaan dalam hal nama, ornamen, hiasan, bentuk, dan ukiran-ukiran pahatan lainnya yang mirip dengan bangunan di India.
Pengaruh dalam Bidang Kesenian
Kemudian pengaruh India juga mendorong perkembangan dalam bidang seni rupa, seni pahat, dan seni ukir di Nusantara. Hal ini terlihat pada relief atau ukiran yang dipahatkan pada dinding-dinding candi. Contohnya adalah relief yang terdapat pada dinding pagar langkan di Candi Borobudur, yang menggambarkan riwayat kehidupan Sang Buddha.
Lebih dari itu, pengaruh India juga mendorong perkembangan seni sastra di Indonesia. Pada masa itu, seni sastra terdiri dari dua bentuk, yaitu prosa dan tembang (puisi). Berdasarkan isinya, sastra Indonesia dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu tutur (petuah dalam kitab keagamaan), kitab hukum, dan wiracarita (kisah kepahlawanan).
Selain itu, banyak pula masjid-masjid kuno yang dibangun oleh para Wali Songo atau pendakwah yang menyebar ke Nusantara, yang memiliki bentuk atau kubah yang mirip dengan bangunan di India. Salah satunya adalah Masjid Menara Kudus. Masjid ini memiliki bentuk bergaya Hindu yang menyerupai candi dan memiliki ciri khas bangunan Hindu yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan kepala atau atap.
Nama masjid ini diambil dari Sunan Kudus, salah satu Wali Songo yang membangunnya. Terletak di kota santri, masjid ini memiliki arsitektur unik yang merupakan perpaduan antara unsur Hindu Jawa dan Islam, sebagai saksi sejarah perkembangan Islam di Indonesia, yang berdiri sejak tahun 1549.
Sebagai kesimpulan, proses indianisasi di Nusantara berlangsung cepat dan memberikan dampak besar pada berbagai aspek kehidupan, seperti agama, seni, dan budaya. Melalui jalur perdagangan, bangsa India memperkenalkan agama Hindu-Buddha dan aksara kepada Indonesia. Pengaruh India terlihat pada peninggalan sejarah seperti relief candi, arsitektur yang mengalami akulturasi, serta perkembangan seni sastra.
Masjid Menara Kudus, misalnya, menunjukkan perpaduan budaya India dan Islam. Secara keseluruhan, hubungan antara India dan Nusantara sejak abad ke-2 hingga ke-3 Masehi telah meninggalkan warisan yang kaya bagi perkembangan budaya Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


