mengapa banyak alumni pelatihan menulis akhirnya jadi mentor - News | Good News From Indonesia 2025

Mengapa Banyak Alumni Pelatihan Menulis Akhirnya jadi Mentor?

Mengapa Banyak Alumni Pelatihan Menulis Akhirnya jadi Mentor?
images info

Mengapa Banyak Alumni Pelatihan Menulis Akhirnya jadi Mentor?


Penulis saat ini ibarat nelayan yang kerja nya menangkap ikan di laut. Dulu, persaingan masih sedikit dan jumlah ikan melimpah, namun seiring waktu, jumlah ikan semakin menurun dan mereka harus bersaing dengan kapal besar yang bisa menangkap lebih banyak ikan dengan cepat.

Kondisi ini mulai relevan sejak perkembangan pesat OpenAI antara 2018 hingga 2021. Mengingat banyaknya pelatihan menulis daring bersertifikat pasca dampak COVID-19 kala itu menunjukan minat orang untuk beralih profesi dan mencari peluang baru.

Melansir dari mediaindonesia.com, pada tahun 2021,jumlah pengguna kursus daring diperkirakan mencapai 220 juta orang, meningkat sejumlah 92% karena imbas pandemi.

Angka ini terus meningkat sampai saat ini, terbukti dari maraknya startup yang bergerak di bidang pelatihan. Mereka menawarkan harapan bagi orang untuk memiliki kemampuan menulis yang “menghasilkan”, tapi seiring waktu, Artificial Intellegence (AI) juga semakin canggih dan praktis.

Pasalnya, AI mampu menyelesaikan tugas penulisan, seperti laporan kerja atau surat menyurat. Sehingga terjadi perubahan dinamika industri yang menyebabkan penulis beralih ke profesi yang tidak bisa dilakukan kecerdasan buatan, seperti guru atau mentor.

Potensi Pelatihan Menulis Tetap Laris

Kini kecerdasan buatan (AI) dapat membuat karya seperti manusia. Mulai dari berita, puisi, artikel, esai, sampai surat cinta sesuai dengan keinginan Kawan. Menariknya, walau memicu kekhawatiran, pelatihan menulis saat ini tetap laris di tengah canggihnya AI.

Hal ini wajar karena fitur kecerdasan buatan masih membutuhkan bantuan manusia agar mencapai potensi maksimal, seperti dalam monetisasi, editing, optimasi SEO, atau verifikasi data. Berikut faktor lebih jelasnya:

Mengapa Banyak Alumni Pelatihan Menulis Akhirnya Jadi Mentor
info gambar

Mengapa Banyak Alumni Pelatihan Menulis Akhirnya Jadi Mentor | Ilustrasi pribadi


Secara keseluruhan, tabel ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, keterampilan menulis tetap relevan dan penting. Dengan adaptasi yang tepat, penulis dapat berkembang di era digital ini.

Adanya Dilema dan Langkah Adaptasi Penulis Kedepan

Mengutip dari artikel idntimes.com, AI seringkali kesulitan memahami gaya tulisan karena terbatas prompt. Bahkan AI ternama, sepertiChatGpt dan Deepseekmengakuinya, Kawan sendiri bisa menanyakan secara langsung. Setidaknya hal ini masih relevan saat artikel ini ditulis.

Tak hanya itu, fiturnya juga masih belum mampu membedakan mana informasi yang “layak tayang” dan mana yang tidak. Ini karena AI hanya mengandalkan sumber dari internet yang bisa saja kurang relevan.

Di sisi lain, kekurangan ini bisa jadi potensi lapangan kerja baru. Sebut saja AI Trainer, AI Content Strategist atau AI Editor. Namun, ada ironi dibalik pekerjaan ini;

“Journalists and other writers are employed to improve the quality of chatbot replies. The irony of working for an industry that may well make their craft redundant is not lost on them”. Begitu kiranya ungkap jurnalis theguardian.com. Jika diartikan, inti nya ada dilema melatih AI milik perusahaan yang nantinya memiliki potensi melengserkan mereka di perusahaan itu sendiri.

Dari ungkapan tersebut bisa Kawan simpulkan, masa depan industri penulisan bergantung bagaimana penulis itu sendiri beradaptasi. Gampangnya, memperluas keahlian menulis, seperti Digital Marketing, Investigative Journalism, UX Writing, sampai Content Strategy.

Banyaknya jumlah konten yang dihasilkan oleh AI menimbulkan risiko menurunnya apresiasi terhadap tulisan manusia. Artikel yang dipikirkan dengan matang mungkin akan tersingkirkan oleh fitur-fitur konten otomatis yang lebih cepat dibuat. Hal ini membuat profesi penulis semakin rentan terhadap persaingan.

Sekali lagi, gaya selingkung, empati dan ciri khas akan kalah relevan dibanding AI di masa depan seiring dengan update fiturnya. Penulis harus mencari celah dengan memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai alat bantu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.