Tak bisa dikesampingkan, obesitas merupakan salah satu gangguan kesehatan kronis yang angka penderitanya terus meningkat di seluruh negara di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), obesitas adalah penumpukan lemak berlebihan karena tidak seimbangnya asupan energi dan energi yang dikeluarkan oleh tubuh. Obesitas tak hanya mengintai usia dewasa, tetapi juga pada anak-anak dan remaja. Berdasarkan data resmi Badan Riset dan Nasional (BRIN), pada tahun 2023 tingkat obesitas di Indonesia tercatat mencapai 19,7% pada usia 5-12 tahun dan 16% pada usia 13-15 tahun. Hal ini menunjukan betapa seriusnya obesitas yang perlu diperhatikan.
Obesitas atau kegemukan dapat meningkatkan resiko kesehatan hingga penyakit serius. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami penyebab obesitas pada anak-anak dan remaja dan cara mencegahnya. Simak artikel berikut tentang obesitas pada anak hingga cara mencegahnya.
Cara Menentukan Obesitas pada Anak dan Remaja
Cara menentukan obesitas pada anak dan remaja dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti wawancara dan pengukuran (Antropometri). Pemeriksaan wawancara (Anamnesis) dilakukan dengan memperhatikan beberapa aspek, seperti mendengkur, nyeri pinggul, kebiasan makan, aktivitas fisik, riwayat keluarga yang kelebihan berat badan, riwayat psikologis, dan riwayat berat badan. Sementara pengukuran (Antropometri) dilakukan dengan penghitungan IMT (Indeks Masa Tubuh) dengan rumus berikut ini:
IMT=Berat Badan (kg)/Tinggi Badan (m2)
Hasil perhitungan IMT yang telah diterbitkan WHO tersebut, kemudian diklasifikasikan pada kategori berikut ini:
IMT < 18,5 (Berat Badan Kurang)
IMT 18,5 - 22,9 (Berat Badan Kurang)
IMT > 23 (Berat Badan Normal)
IMT 23 - 24,9 (Dengan Risiko)
IMT 25 - 29,9 (Obesitas I)
IMT > 30 (Obesitas II)
Selain itu, cara menentukan obesitas pada remaja juga dapat dilakukan dengan pengukuran lingkar pinggang dengan kriteria IDF (International Diabetes Federation), dengan lingkar pinggang >90 untuk pria dan >80 untuk wanita Asia.
Penyebab Obesitas pada Anak dan Remaja
Caption
Dikutip dari jurnal Kemenkes, berikut ini faktor penyebab yang meningkatkan obesitas pada remaja dan anak.
- Pola makan tidak sehat: Sering mengkonsumsi yang tinggi lemak jenuh, kalori, dan gula, tapi rendah dapat memicu obesitas pada anak
- Jarang bergerak: Ketika anak jarang bergerak, kalori yang masuk melalui makanan lebih banyak daripada yang dikeluarkan, sehingga kalori yang tidak terbakar akan menumpuk dan berubah menjadi lemak
- Adanya riwayat keluarga yang obesitas
- Kurang tidur
- Psikologis anak
Bahaya Obesitas pada Anak dan Remaja
Efek obesitas tak bisa diremehkan begitu saja, tetapi juga menyebabkan berbagai dampak kesehatan serius. Menurut Kemenkes, di bawah ini bahaya obesitas pada anak dan remaja.
- Low back pain (nyeri pinggang)
- Sleep apnoea (henti napas saat tidur)
- Pembentukan batu empedu
- Gangguan pernapasan
- Penyakit jantung koroner
- Stroke
- Hipertensi
- Diabetes tipe 2
- Kanker
Cara Mencegah Obesitas pada Anak dan Remaja
Berikut adalah beberapa tips yang dapat Kawan GNFI lakukan untuk mencegah obesitas pada anak dan remaja, yang disarankan oleh Kemenkes.
- Memberikan contoh gaya hidup sehat pada anak
- Mengajak anak untuk aktif bergerak atau berolahraga secara rutin
- Menerapkan jadwal istirahat
- Jadwal makan teratur (pagi-siang-malam)
- Biasakan anak makan dengan model piring T, seperti sayur, setengah piring nasi dibagi menjadi dua, dan seperempat lauk
- Sering konsumsi sayur, buah, batasi konsumsi gorengan dan lemak trans (margarin)
- Timbang berat badan dan ukur lingkar pinggang secara berkala.
Mempengeringati hari obesitas sedunia 4 Maret, Itulah informasi penting tentang cara mengenali dan mencegah obesitas pada anak dan remaja yang perlu dipahami oleh orang tua dan anak. Yuk, mulai dari sekarang ajak anak-anak untuk lebih aktif bergerak dan memilih makanan yang sehat serta seimbang. Dengan kebiasaan sehat ini, dapat membantu menurunkan angka obesitas pada anak dan remaja serta mendukung mereka untuk tumbuh lebih sehat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


