Legenda Sidang Belawan adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Lampung. Legenda ini mengisahkan tentang seorang pangeran yang menikahi bidadari yang turun dari kahyangan.
Simak cerita lengkap dari legenda Sidang Belawan dalam artikel berikut ini.
Legenda Sidang Belawan
Dilansir dari buku Irwan Rouf dan Shenia Ananda yang berjudul Rangkuman 100 Cerita Rakyat Indonesia: dari Sabang sampai Merauke, dikisahkan pada zaman dahulu terdapat seorang raja yang memimpin sebuah kerajaan di Lampung. Raja ini memiliki tujuh orang istri.
Dari ketujuh istrinya tersebut, hanya istri terakhir yang memiliki anak. Anak dari istri ketujuh sang raja tersebut bernama Sidang Belawan.
Pada suatu hari, Sidang Belawan hendak pergi memancing ke sebuah sungai. Ketika sampai di sana, Sidang Belawan melihat tujuh orang bidadari yang tengah asik mandi.
Sidang Belawan memperhatikan para bidadari tersebut dengan seksama. Tidak hanya itu, dia juga menyembunyikan salah satu selendang yang ada di pinggir sungai.
Para bidadari kemudian menyadari bahwa ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka. Para bidadari ini kemudian langsung mengambil selendang dan kembali terbang ke kahyangan.
Namun bidadari bungsu tidak bisa menemukan selendangnya. Alhasil dirinya ditinggalkan seorang diri di sana.
Bidadari bungsu terus berusaha mencari selendang miliknya. Melihat hal ini, Sidang Belawan kemudian diam-diam mendekati bidadari bungsu tersebut.
Sidang Belawan berpura-pura tidak mengetahui apa yang dicari oleh bidadari bungsu. Setelah berbincang cukup lama, Sidang Belawan kemudian mengajak bidadari tersebut untuk menikah dan tinggal bersamanya.
Bidadari bungsu yang tidak bisa kembali ke kahyangan kemudian menerima ajakan Sidang Belawan. Akhirnya Sidang Belawan dan bidadari bungsu menikah menjadi pasangan suami istri.
Selang beberapa tahun, bidadari bungsu mengandung anak mereka. Sidang Belawan dan bidadari bungsu akhirnya dikaruniai seorang putra.
Pada suatu hari, bidadari bungsu hendak pergi ke pasar untuk berbelanja. Sebelum berangkat, dia menitipkan sebuah pesan kepada Sidang Belawan.
Bidadari bungsu berkata bahwa Sidang Belawan tidak boleh membuka panci yang ada di atas tungku. Sidang Belawan pun mengiyakan pesan istrinya tersebut.
Namun Sidang Belawan ternyata penasaran mengapa dirinya dilarang untuk melakukan hal itu oleh bidadari bungsu. Dirinya kemudian diam-diam membuka panci yang ada di atas tungku tersebut.
Sidang Belawan hanya menemukan sebutir beras di dalamnya. Dirinya kemudian menutup kembali panci tersebut.
Ketika pulang, bidadari bungsu langsung mengecek panci yang dia tinggalkan sebelumnya. Ternyata dia hanya menemukan sebutir beras yang tidak tanak menjadi nasi.
Bidadari bungsu menyadari bahwa suaminya sudah membuka panci tersebut. Bidadari bungsu kemudian marah kepada Sidang Belawan karena tidak menepati janjinya.
Akhirnya bidadari bungsu mesti menumbuk padi untuk makan mereka. Ketika mengambil padi di lumbung, bidadari menemukan selendang yang ternyata disembunyikan oleh Sidang Belawan.
Bidadari bungsu langsung mengambil selendang tersebut. Bersama putranya, bidadari bungsu kembali terbang ke kahyangan.
Sidang Belawan yang melihat hal ini langsung berusaha mengejar bidadari bungsu. Dengan kesaktian yang dia miliki, Sidang Belawan berhasil menyusul bidadari bungsu ke kahyangan bersama seekor rajawali.
Sesampainya di kahyangan, Sidang Belawan menemukan tujuh orang bidadari dengan paras serupa. Sidang Belawan kebingungan dalam menentukan siapa istrinya di antara ketujuh bidadari tersebut.
Sidang Belawan kemudian dihadapkan pada tiga jenis ujian. Pertama, dia mesti memilih tiga jenis makanan yang salah satunya memiliki racun di dalamnya.
Kedua, Sidang Belawan mesti mengisi bak kosong yang bolong. Terakhir, Sidang Belawan mesti memilih siapa istrinya dari ketujuh bidadari tersebut.
Namun dengan kesaktian yang dia miliki, serta bantuan dari kucing, belut, dan kunang-kunang, Sidang Belawan bisa melewati ujian tersebut dengan mudah. Akhirnya Sidang Belawan berhasil menemukan istri beserta anaknya dan hidup bahagia bersama di bumi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


