“Lho kok ini (dalangnya) berkerudung?”
Kalimat tersebut kerap kali terlontar dari masyarakat saat Syarifa Syifaa Urrahmah mulai menduduki posisinya.
Sebagai seorang dalang, ia selalu berada di depan para penonton. Di saat itu pula, ia kerap mengejutkan masyarakat, sebab selama ini jarang ditemui dalang yang diperankan perempuan.
Bukan hanya kekaguman, tidak jarang pula kemampuan Syarifa dalam membawakan cerita wayang potehi, diragukan. Apalagi jika Syarifa harus melakukan ritual-ritual tertentu, seperti memasang dupa. Sebab, hal-hal yang berkenaan spiritualitas biasanya dilakukan oleh pria.
“Kadang kan kita juga memasang dupa juga, ya. Pasti kalau (komentar) miring, itu banyak,” jelas Syarifa, sebagaimana dikutip dari Detik.com.
Meski demikian, komentar-komentar tersebut tidak lantas membuat Syarifa surut. Tekatnya kuat dan langkahnya tegas. Syarifa ingin jadi bagian dari masyarakat yang turut melestarikan kebudayaan.
“Kalau saya pribadi sih pastinya untuk melestarikan aja,” tegasnya.
Salah satu strategi Syafia dalam melestarikan wayang potehi ialah dengan terlibat di Rumah Cinta Wayang (Rumah Cinwa). Komunitas ini merupakan komunitas yang bergerak dalam pelestarian seni dan budaya, terutama wayang.
Syarifa, lewat komunitas ini kerap melakukan kegiatan untuk mempromosikan wayang potehi melalui media sosial. Selain itu, ia juga turut aktif dalam acara mingguan bertajuk Minggu Semata Wayang yang memperkenalkan Wayang Potehi kepada anak-anak berusia dini.
Cara promosinya juga terbilang unik. Komunitas tersebut paham betul, di era sekarang ini, masyarakat tidak hanya tertarik dengan cerita-cerita klasik, melainkan juga cerita nasionalisme terkait perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Rumah Cinwa mengangkat kisah pahlawan kemerdekaan dengan menghadirkan tokoh Soekarno dan Achmad Soebardjo. Rumah Cinwa menyebutnya sebagai Potehi Urban.
Syarifa Mengenal Wayang Potehi dari Dosennya
Sebagai perempuan yang tidak memiliki darah Tionghoa, wayang potehi menjadi sesuatu yang baru bagi Syarifa.
Perempuan dari jurusan Sastra Jawa Universitas Indonesia angkatan 2020 ini baru mengenal wayang potehi di Rumah Cinta Wayang (Rumah Cinwa), komunitas pelestari seni budaya tradisional, khususnya wayang potehi.
Rumah Cinwa yang berlokasi di Depok, Jawa Barat didirikan oleh dosen Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Indonesia, Dwi Woro Retno Mastuti. Di sanalah Syarifa akhirnya pertama kali mengenal wayang potehi.
"Maka dikenalkan Wayang Potehi, ini akulturasi China-Jawa, bagaimana cara memainkannya, terus akhirnya kami juga sempat pentas juga sama teman-teman, dari tahun 2021," tutur Syarifa.
Ia mengaku, kecintaanya pada wayang potehi disebabkan ada hal yang sangat menarik di dalamnya, dalam hal ini akulturasi Jawa dan Tionghoa. Apalagi, cerita-cerita yang dibawakan kerap berisi nilai kehidupan. Meski demikian, ia menyadari bahwa bahasa menjadi salah satu tantangan terbesarnya.
Wayang potehi menggunakan bahasa Hokkien untuk menyampaikan suluk atau nyanyian pembuka dalam pertunjukan. Bahasa ini berbeda dengan bahasa Mandarin sehingga cukup menyulitkan Syarifa.
Bahasa Hokkien memang menjadi bagian dari ragam bahasa di Tionghoa. Akan tetapi, bahasa Hokkien sangat berbeda dengan bahasa Mandarin, bahkan sistem nadanya lebih kompleks.
“Suluk itu seperti pembuka, atau sebetulnya pembuka untuk setiap karakter tokoh. Nah itu menggunakan bahasa Hokkien, bukan Mandarin. Tapi lebih tradisional. Nah itu sulit sih, menurut saya. Akhirnya kita belajar,” terangnya.
Berkat ketekunannya, Syarifa kini cukup lihai dalam melafalkan suluk menggunakan bahasa Hokkien saat pementasan wayang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


