Kenapa jalan Pantura sering rusak?
Pertanyaan ini mungkin kerapkali terlintas dalam pikiran Kawan GNFI. Sebab, proyek perbaikan dan penambalan di sepanjang jalan Pantai Utara Jawa ini memang hampir tidak pernah selesai, dan permasalahan kerusakan jalan di Pantura memang tidak pernah usai.
Apalagi jika musim hujan tiba, pengendara harus waspada sebab akan banyak lubang menganga di sepanjang jalan, entah itu sisi kanan, kiri, atau bahkan di tengah sekalipun.
Sebagai informasi awal, Jalur Pantura merupakan jalan panjang yang menghubungkan pulau Jawa. Jalur Pantura membentang dari Banten hingga ujung timur Jawa Timur.
Sebagaimana namanya, Jalan Pantura berada di sepanjang Pantai Utara Jawa. Rutenya melewati Purwakarta, Subang, Cirebon, Brebes, Pemalang, Semarang, Rembang, Tuban, Surabaya, hingga Banyuwangi. Jalur ini memiliki total panjang sekitar 1.430 kilometer.
Sebagai Jalan Nasional Rute 1, jalur Pantura tidak lantas bebas dari masalah infrastruktur. Kerusakan jalan turut menjadi masalah terbesar di sepanjang jalan ini.
Kementerian PUPR tahun 2023 mencatat, dari tiga provinsi yang dilalui jalur ini, Jawa Tengah menjadi provinsi dengan kerusakan jalan tertinggi di level ringan. Sekitar 3,18 persen jalan Pantura di Jawa Tengah rusak ringan. Sementara itu, kerusakan jalan di Jawa Timur sekitar 2,26 persen dan DKI Jakarta 2,02 persen.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan tingkat kerusakan di level parah. Jawa Timur lebih banyak jalan dengan kondisi rusak parah, sekitar 0,7 persen. Sedangkan, kerusakan tingkat parah di Jawa Tengah hanya 0,3 persen.
Pertanyaannya, sebenarnya, kenapa sih jalan Pantura selalu mengalami kerusakan?
Kompleksitas Penyebab Kerusakan Jalan Pantura
Kerusakan pada jalan tidak hanya disebabkan dari satu faktor saja. Banyak faktor-faktor lain yang mendukung rentannya jalan terhadap kerusakan. Misalnya, penggunaan material yang tidak memenuhi standar hingga kondisi struktur geologi tempat pembangunan jalan.
Di kawasan Semarang, salah satu faktor utama kerusakan jalan Pantura disebabkan penurunan muka tanah atau land subsidance. Penurunan muka tanah di Semarang ini membuat air laut naik ke daratan, termasuk ke jalan. Akibatnya, air menggenang dan berpotensi mengikis lapisan jalan sehingga membuat berlubang.
Rob yang memasuki jalan Pantura rupanya tidak hanya terjadi di Semarang. Handayani (2012) mencatat, di kawasan Jawa Tengah, ada 10 ruas jalan Pantura yang rentan terhadap rob. 7 ruas di antaranya di Tegal, 2 di Semarang, dan 1 di Rembang.
Di Semarang, khususnya Jalan Kaligawe, kerusakan jalan juga didukung oleh tanah yang lunak. Kondisi ini membuat tanah tidak mampu menahan beban di atasnya.
Tanah lunak biasanya terbentuk dari endapan tanah aluvial. Di Semarang, endapan aluvial tercatat baru terbentuk kurang dari 100 tahun lalu. Artinya, terbentuknya tanah di Semarang masih tergolong muda. Akibatnya, kondisi tanah di jalan Pantura, dalam hal ini Semarang masih sangat rentan.
Kondisi ini kemudian diperparah lewat temuan Rahadian (2016) yang menunjukkan bahwa kelebihan muatan di Pantura rata-rata mencapai 60% dari beban standar. Hal ini turut mempercepat proses kerusakan pada struktur jalan bahkan jauh sebelum periode/umur teknis rencana tercapai (kerusakan dini).
Referensi:
- Handayani, R. D. (2012). EVALUASI TINGKAT KERENTANAN JALAN NASIONAL PANTURA DI PROVINSI JAWA TENGAH AKIBAT ROB. Jurnal Jalan - Jembatan, 96 - 109.
- Rahadian, H., Hendarto, & Augustine, J. (2016). PENDEKATAN DESAIN PONDASI JALAN DI JALUR PANTURA. Jurnal HPJI, 99-110.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


