Kesehatan reproduksi salah satunya sangat dipengaruhi oleh perilaku seksual seseorang.
Globalisasi mempengaruhi media audio-visual semakin mudah diakses yang ternyata berdampak negatif terhadap anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasan yang tidak sehat, seperti merokok, mimun alkhol, penyalahgunaan obat dan sebagainya.
Kebiasan-kebiasan tersebut justru secara kumulatif mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berprilaku seksual yang beresiko tinggi karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi.
Oleh karenanya penting untuk memastikan tahap demi tahap dilakukan dengan urutan edukasi seksualitas, pembatasan pernikahan anak usia dini, peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, kemudian terakhir penyediaan alat kontrasepsi.
Hubungan Literasi dengan Kesehatan Reproduksi
Seseorang yang dikatakan punya kemampuan literasi kesehatan dapat dilihat dari cara mengakses, memahami, menilai dan menerapkan informasi kesehatan untuk membuat keputusan kesehatan dalam kehidupan sehari-harinya.
Literasi kesehatan memiliki hubungan terhadap status kesehatan seseorang termasuk kesehatan reproduksi.Penyebarluasan informasi terkait kesehatan reproduksi adalah bagian penting dari pendidikan kesehatan sebagai bentuk intervensi dalam menciptakan sikap dan perilaku yang baik.
Sekolah sebagai instituti pendidikan memanglah tempat ideal untuk memberikan informasi terkait namun keberhasilan sekolah juga akan sangat dipengaruhi oleh kondisi pendidikan kesehatan reproduksi di rumah dan kecakapan dalam menggunakan ruang digital oleh remaja.
Urgensi Pendidikan Literasi Kesehatan Reproduksi bagi Remaja
Perilaku seksual adalah salah satu isu yang masih menjadi tantangan tersendiri dan masih kerap dianggap tabu dalam masyarakat untuk dikenalkan di awal masa remaja. Padahal perilaku seksual sangat mempengaruhi tingkat kesehatan reproduksi seseorang termasuk remaja.
Mencermati penurunan angka pernikahan dini yang dirilis oleh Kementrian Pemberdayaan dan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPA) di tahun 2023 mencapai angka 6.92 persen tentu menjadi capaian yang patut diapresiasi.
Namun demikian berbagai upaya menghapus perkawinan anak tentu harus terus dilakukan karena dampak dari perkawinan anak sangat besar mulai dari putus sekolah, menyebabkan anak yang dilahirkan berpotensi stunting, hingga kemiskinan.
Dari rilis Kemen PPA diketahui angka penurunan belum menyentuh wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) oleh karenanya pendampingan oleh lembaga terkait masih sangat dibutuhkan.
Selain dari itu, Kawan GNFI juga dapat berkontribusi mulai dari rumah masing-masing untuk melakukan pendekatan kepada keluarga tentang pentingnya pengetahuan seksualitas dan kesehatan reproduksi.
Upaya ini tentu dapat dilakukan oleh siapa saja dengan kemauan untuk mencari dan menelaah informasi yang begitu banyak tersedia di era jaringan seperti sekarang. Salah satunya, kawan GNFI dapat memperoleh sejumlah informasi dari platform @taulebih.id.
Sekilas tentang @taulebih.id
Taulebih merupakan platform edukasi pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi berdasarkan nilai agama yang didirikan oleh Zhafira Aqyla.
Zhafira seorang content creator dan punya latar pendidikan yang sangat relevan dengan pendidikan termasuk fokus kesehatan reproduksi. Zhafira, sebagaimana di kutip dari website resmi Taulebih merupakan researcher pendidikan seksualitas berbasis nilai agama di Osaka University, Jepang.
Platform ini bertujuan untuk menormalisasi diskusi terkait hak kesehatan seksualitas dan reproduksi di Indonesia. Dari akun instagram @taulebih Kawan dapat menelusuri berbagai kajian yang komperhensif dan disampaikan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami sehingga dapat membantu perubahan mindset tentang pentingnya isu pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi.
Pendekatan dengan nilai agama dibarengi tawaran kelas secara privat untuk sekolah secara daring menjadikan platform ini unik dan menarik perhatian masyarakat. Selain itu, platform ini juga sangat update dengan informasi terbaru sehingga cocok untuk menjadi ruang belajar dan bertumbuh.
Oleh karenanya, referensi yang ada tentu harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk mulai membuka ruang diskusi di rumah-rumah tentang pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi. Mari cakap menggunakan ruang digital untuk makin paham pendidikan seksualitas.
Referensi:
- Raqil Saputri, Oktari. 2020. Gambaran Literasi Kesehatan Reproduksi Pada Wanita Pekerja Seks DI Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Diakses pada: https://lib.ui.ac.id/m/detail.jsp?id=20507558&lokasi=lokal
- KemenPPA, 2023. Diakses pada: https://www.kemenpppa.go.id/page/view/NTE3MA==#:~:text=Pada%20tahun%202021%20angka%20perkawinan,92%20persen%20pada%20tahun%202023.
- Ardiansyah, 2022. Kesehatan Rperoduksi Remaja: Permasalahan dan Upaya Pencegahan. Diakses pada: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/29/kesehatan-reproduksi-remaja
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


