Kesenian dan kebudayaan tradisional sudah melekat di salah satu desa wisata yang berada di Kecamatan Borobudur, Magelang, yakni Desa Tuksongo.
Selain diselimuti banyak lokasi wisata alam yang menarik, Kawan GNFI juga bisa menemukan banyak kesenian dan kebudayaan yang dimiliki oleh Desa Tuksongo. Salah satu kesenian tradisional legendaris yang masih bertahan hingga sekarang adalah Paguyuban Topeng Kawedar.
Muhammad Tauchid, atau yang akrab disapa dengan Tauchid, adalah ketua Paguyubuan Topeng Kawedar yang sudah memimpin paguyuban ini selama enam tahun. Paguyuban Topeng Kawedar sendiri adalah sebuah komunitas budaya yang memayungi tari tradisional Topeng Ireng di Desa Tuksongo.
Tarian tradisional yang tak hanya ditampilkan untuk menghibur para penonton. Namun, juga memiliki makna dari ajaran agama Islam dan juga kesenian bela diri yang sudah mengakar kuat di dalam tari tradisional tersebut.
“Paguyuban Topeng Kawedar ini hadir dari bentuk inisiatif pendahulu kami di Desa Tuksongo, yaitu Bapak Lurah Timpal,” jelas Tauchid ketika dikunjungi oleh Tim KKN-PPM UGM Unit Borobudur 2024 di Balai Ekonomi Desa Tuksongo.
Sejarah Paguyuban Topeng Kawedar
Kesenian tradisional ini sudah berdiri sejak 1930-an yang dikenalkan oleh para pendahulu kesenian di Desa Tuksongo sebagai Syubbanul Muslimin, karena dikenal sebagai kesenian yang memadukan seni bela diri dengan keagamaan. Lalu, pada 1952, tari tradisional ini diresmikan sekaligus mengubah nama menjadi kesenian topeng ireng.
“Kesenian ini lekat dengan ajaran Islam. Jadi, bukan hanya bisa menjadi tontonan, namun juga tuntunan bagi yang menyaksikan,” ungkap Tauchid.
Ia juga menjelaskan bahwa seiring berjalannya waktu, kesenian topeng ireng lebih dikenal sebagai topeng kawedar di Desa Tuksongo.
Pada saat penampilannya, topeng kawedar menyajikan penampilan seni tari memiliki beberapa babak. Biasanya, babak pertama menampilkan para penari topeng kawedar cilik, yang berisi anak-anak. Kemudian, dilanjutkan oleh montolan atau banyolan yang berarti sebagai pertunjukan tari yang memperlihatkan humor atau komedi pada babak tari.
Setelah itu, jika pada penampilan tarian topeng kawedar klasik, akan ada pawai atraksi api, yang akan dilanjutkan dengan tarian kewan-kewan, ketika para penari mengenakan kostum hewan dan akan melalui proses masuknya roh halus kepada para penarinya.
Tauchid menjelaskan bahwa proses kesurupan pada tiap penari kewan-kewan sudah sesuai standar kesenian topeng kawedar yang harus melewati ritual serta doa-doa yang sudah ditentukan. Ia juga menambahkan bahwa terdapat perbedaan yang cukup signifikan terhadap pertunjukan Topeng Kawedar klasik dan kreasi.
“Kalau yang klasik itu syair-syair lagu yang dibawakan tidak ada campuran dari lagu campur sari. Selain itu, kalau tarian yang sudah kreasi tidak ada pawai atraksi api,” terang Tauchid.
Atraksi api | Foto: Egy Rachma Zulvita/KKN UGM Unit Borobudur 2024
Tauchid menjelaskan bahwa diciptakannya tarian topeng kawedar versi kreasi adalah untuk mengikuti perkembangan zaman. Dengan menampilkan lagu-lagu yang dipadukan dengan campur sari membuat topeng kawedar menjadi salah satu kesenian yang bisa berkembang sesuai zamannya.
Namun, terciptanya tarian versi kreasi tidak serta merta meninggalkan tarian klasik yang asli. “Tarian klasik akan tetap ada dan terus ditampilkan. Jangan sampai ajaran terdahulu itu hilang begitu saja,” jelas Tauchid.
Ia bersama Paguyuban Topeng Kawedar konsisten dalam menjaga kemurnian dari kesenian tradisional tersebut.
Menghidupkan Kembali Paguyuban Topeng Kawedar
Nyatanya, dalam menjalankan kesenian ini, Paguyuban Topeng Kawedar tak selalu menemukan jalan yang mulus. Banyak kerikil yang harus mereka hadapi untuk mempertahankan kesenian ini. Salah satu permasalahan yang pernah dihadapi oleh Paguyuban Topeng Kawedar adalah terhentinya kegiatan kesenian ini di Desa Tuksongo selama kurang lebih 8 tahun.
“Kesenian ini sempat terhenti cukup lama, lalu baru dihidupkan lagi sekitar tahun 2016 oleh saya dan kawan-kawan,” jelas Tauchid. Ia juga menambahkan bahwa latar belakang redupnya kesenian ini dikarenakan adanya panen tembakau, yang biasanya akan membuat kegiatan lain di desa akan berhenti untuk sementara, karena fokus pada panen tersebut.
Namun, pada saat itu, ketika masa panen berakhir, nyatanya tidak ada yang melanjutkan untuk menghidupkan paguyuban tersebut hingga direvitalisasi pada 2016.
Tauchid menjelaskan bahwa anak-anak menjadi salah satu inspirasi bagaimana topeng kawedar ini hidup kembali di Desa Tuksongo. Pasalnya, ia sering mendengar anak-anak dan beberapa pemuda desa ingin menari dan belajar tarian tradisional tersebut.
Sejak saat itu, ia berbicara dengan para pendahulu dari Paguyuban Topeng Kawedar dan berencana untuk menghidupkan topeng kawedar kembali.
“Saya berbincang dengan para pendahulu kesenian ini dan menjelaskan bahwa banyak anak-anak yang mau menari lagi. Sejak saat itu, kesenian ini mulai kembali lagi di Desa Tuksongo,” jelas Tauchid.
Regenerasi Paguyuban Topeng Kawedar
Sebagai penggerak Paguyuban Topeng Kawedar, Tauchid mendorong generasi muda di desa untuk berkontribusi dalam paguyuban ini. Termasuk dalam melibatkan para pemuda desa dan anak-anak di setiap proses kesenian ini.
“Saya mendorong pemuda di Desa Tuksongo yang menyukai kesenian ini untuk berpartisipasi penuh dalam setiap tahap dari kesenian Topeng Kawedar. Setidaknya, mereka harus tahu filosofi dari setiap gerakan, nyanyian, bahkan kostum dari tarian ini,” ucap Tauchid.
Selain itu, Tauchid juga memberikan pesan kepada para pemuda desa untuk turut membantu anak-anak yang tertarik pada kesenian ini. Ia tidak mau ada kecanggungan dikarenakan perbedaan usia pada setiap pegiat tari topeng kawedar.
“Untuk para pemuda di Paguyuban Topeng Kawedar, selalu saya beri pesan bahwa mereka harus merangkul anak-anak yang juga sedang belajar tari,” ungkap Tauchid. Hal ini dikarenakan, anak-anak tersebut nantinya juga akan menjadi pengurus dan terlibat secara aktif di paguyuban ini.
Besar harapan Tauchid untuk Paguyuban Topeng Kawedar di masa depan, termasuk keberlanjutan kepengurusan yang harus dilanjutkan oleh generasi selanjutnya.
“Saya berharap kesenian ini bisa terus dilestarikan tanpa menghapus tradisi yang sudah ada,” pungkasnya.
Penulis: Hadistia Leovita Subakti
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


