Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang berperan penting bagi perairan dan kehidupan biota laut. Selain berfungsi sebagai habitat bagi ikan dan spesies laut lainnya, terumbu karang memiliki fungsi sebagai tempat berkembang biak spesies laut, penyerap karbon di laut, dan pelindung pantai dari ombak.
Dalam rangka menjaga keberlangsungan ekosistem terumbu karang, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata - Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama dengan Balai Taman Nasional Bunaken melakukan kegiatan transplantasi terumbu karang sebanyak empat kali pada hari Selasa (09/07/2024), Kamis (11/07/2024), Sabtu (13/07/2024), dan Jumat (19/07/2024).
Aktivitas ini berjalan di dua lokasi yang berbeda, yaitu Dermaga Bunaken dan Pantai Pasir Panjang Tanjung Parigi.
Transplantasi terumbu karang merupakan upaya memulihkan fungsi dan struktur terumbu karang dengan cara memotong bagian terumbu karang yang masih hidup dan menanamnya di lokasi lain untuk membentuk habitat baru.
Tujuan dari transplantasi itu adalah untuk memulihkan dan memperbaiki ekosistem terumbu karang yang telah rusak atau terdegradasi akibat aktivitas manusia, perubahan iklim, dan bencana alam.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan ekosistem perairan di Taman Nasional Bunaken.
“Tujuan dari kegiatan transplantasi ini bukan hanya untuk menanam karang, tetapi juga mengembalikan fungsi terumbu karang sebagai tempat perkembangbiakan ikan sehingga akan bermanfaat baik untuk wisata bawah laut maupun untuk kehidupan masyarakat, pungkas Adi Tri Utomo selaku perwakilan dari Balai Taman Nasional Bunaken.
Transplantasi terumbu karang yang dilakukan oleh tim KKN-PPM UGM dan Balai Taman Nasional Bunaken menggunakan metode Mars Accelerated Coral Reef Restoration System (MARRS).
Metode MARRS mengembangkan struktur karang (koral) melalui media berupa rangka besi yang menyerupai laba-laba dengan enam kaki yang dilapisi dengan lem fiber yang telah diberi resin, kemudian dilumuri dengan pasir.
Pelapisan dengan lem fiber bertujuan untuk melindungi rangka besi dari korosi dan berfungsi sebagai perekat pasir.
Sementara itu, pelapisan pasir bertujuan untuk meniru habitat alami dan memberikan tekstur kasar pada permukaan rangka besi sehingga membantu karang menempel dengan lebih baik.
Media yang digunakan selama empat kali pelaksanaan kegiatan transplantasi terumbu karang di empat hari yang berbeda berjumlah lebih dari 200 media, dengan jumlah bibit substrat sebanyak lebih dari 3000 substrat.
Bibit substrat yang ditanam berasal dari genus Acropora sp. Pemilihan substrat tersebut karena genus Acropora sp. merupakan genus yang lebih cepat tumbuh dibandingkan yang lainnya.
Transplantasi terumbu karang dengan metode MARRS optimalnya dapat menampung 15 bibit dalam satu buah media, dengan pemasangan yang memberikan ruang kosong di setiap ruas rangka transplantasi. Hal tersebut untuk mencegah penumpukan saat bibit tumbuh dewasa.
Setiap bibit diikat dengan kuat menggunakan dua buah cable ties berbahan dasar plastik nylon untuk mencegah bibit terlepas setelah pemasangan media di dasar laut.
Kelebihan dari metode MARRS yaitu relatif sederhana, mudah dibuat dalam waktu yang singkat, dan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.
Sebelum pemasangan, setiap media akan diberi label untuk memudahkan pengamatan saat monitoring dan evaluasi. Metode monitoring dilakukan dengan mengumpulkan data rata-rata pertumbuhan substrat dalam setiap media selama periode waktu tertentu.
Selama kegiatan ini, juga dilakukan perbaikan ikatan yang longgar atau lepas, pembersihan dari biota pengganggu seperti hama alga, dan penambalan media yang rusak.
Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan transplantasi terumbu karang harus terus dipantau untuk memastikan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


