Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada November 2025 mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Penurunan ini dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ULN di sektor publik dan penyusutan berkelanjutan pada sektor swasta. Meski secara tahunan masih menunjukkan pertumbuhan tipis sebesar 0,2 persen, angka ini jauh lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya sehingga mencerminkan pengelolaan pembiayaan yang lebih selektif di tengah dinamika pasar keuangan global.
Sektor pemerintah mencatatkan penurunan posisi utang menjadi US$209,8 miliar seiring dengan penyesuaian kepemilikan surat berharga negara (SBN) oleh investor nonresiden.
Sebagian besar pinjaman pemerintah diarahkan untuk mendukung sektor-sektor produktif dan jaring pengaman sosial, termasuk layanan kesehatan dan kegiatan sosial. Sementara itu, ULN swasta juga terus menunjukkan tren kontraksi yang dipicu oleh penurunan kewajiban pada perusahaan bukan lembaga keuangan dalam pemenuhan pembiayaan luar negeri.
"Struktur ULN Indonesia tetap sehat, tercermin dari rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,3 persen pada November 2025. Peran ULN akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional berkelanjutan dengan meminimalkan risiko stabilitas," ujar Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso.
Stabilitas struktur utang nasional tetap terjaga karena mayoritas pinjaman merupakan utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 86,1 persen dari total ULN. Penurunan rasio utang terhadap PDB ini memberikan ruang fiskal yang lebih stabil bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi internasional ke depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


