Indonesia menghadapi peluang besar di sektor pupuk global menyusul terganggunya jalur distribusi internasional di Selat Hormuz.
Kondisi ini membuat urea produksi Indonesia menjadi komoditas yang sangat diburu oleh pasar dunia, mengingat sepertiga pasokan pupuk global biasanya bergantung pada jalur yang kini tengah bermasalah tersebut.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan bahwa negara-negara seperti India, Filipina, dan Australia telah menyatakan minat serius untuk membeli pupuk dari Indonesia.
Bahkan, negara-negara tersebut menyatakan kesanggupan untuk membeli dengan harga berapapun demi mengamankan pasokan mereka.
Tingginya permintaan global ini berdampak langsung pada kebijakan operasional industri pupuk nasional.
Rencana pemerintah untuk menutup sejumlah pabrik pupuk lama kini resmi dibatalkan demi memaksimalkan kapasitas produksi ekspor. Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) sendiri menargetkan total ekspor mencapai 1,5 juta ton dalam satu tahun ke depan.
Meski peluang keuntungan dari ekspor sangat menggiurkan, pemerintah memberikan jaminan bahwa kebutuhan petani di dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Penyaluran stok pupuk domestik dipastikan tidak akan terganggu oleh kebijakan ekspor ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


