Menteri Agama, Nasaruddin Umar, memastikan proses pemulihan sarana pendidikan keagamaan serta rumah ibadah pascabencana banjir di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menunjukkan perkembangan signifikan.
Hingga saat ini, sebanyak 650 madrasah telah selesai direhabilitasi secara bertahap sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan.
Berdasarkan data Kementerian Agama, dampak bencana hidrometeorologi di Sumatra mencakup ribuan fasilitas publik. Dari 1.173 pesantren dan 1.593 rumah ibadah yang terdampak, mayoritas besar atau sebanyak 1.066 pondok pesantren dan 1.553 tempat ibadah dilaporkan telah kembali beroperasi normal guna melayani kebutuhan umat.
“Alhamdulillah, kita bisa lihat sudah dilakukan rehabilitasi bertahap pada 650 madrasah dan kegiatan belajar-mengajar sudah berjalan. Untuk gedung yang rusak masif, kami bekerja sama dengan Kementerian PU agar alat berat bisa turun bekerja siang dan malam,” ujar Nasaruddin Umar.
Guna memastikan kelancaran aktivitas, pemerintah tidak hanya fokus pada perbaikan bangunan fisik, tetapi juga melengkapi sarana penunjang seperti sistem pengeras suara, instalasi listrik, hingga jaringan internet di lokasi terdampak.
Untuk penanganan kerusakan berat, Kemenag mengusulkan alokasi anggaran sebesar Rp85,5 miliar yang ditujukan bagi 123 madrasah. Selain itu, dana stimulasi sebesar Rp20 miliar disiapkan bagi 40 rumah ibadah guna mempercepat pembersihan dan perbaikan ringan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


