Kawan, langkah membanggakan kembali ditorehkan oleh dunia permuseuman tanah air di kancah global. Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) dikabarkan siap membawa gagasan inovatif pengembangan museum desa ke panggung internasional.
Gagasan tersebut diangkat melalui program unggulan bernama Kotaku Museumku Kampungku Museumku. Program strategis ini mulanya dikembangkan untuk menyiasati keterbatasan jumlah museum di wilayah NTB yang saat ini baru memiliki lima bangunan museum.
Berdasarkan data pengelolaan, sebanyak sembilan museum desa kini dipusatkan di Pulau Lombok guna melengkapi ketiadaan museum tingkat kabupaten dan kota. Sementara itu, Pulau Sumbawa telah memiliki empat museum yang tersebar di Kabupaten Sumbawa dan Kota Bima.
Kehadiran program ini semakin diperkuat setelah diluncurkan secara resmi oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada awal Januari 2025 lalu. Inisiatif tersebut dinilai memiliki orisinalitas tinggi dan sangat sesuai dengan karakteristik kebutuhan masyarakat lokal.
Berkat keunikan gagasan tersebut, Museum NTB bersama Museum Bala Datu Ranga mendapat undangan resmi untuk tampil sebagai pembicara. Keduanya dijadwalkan hadir dalam konferensi permuseuman dunia bertajuk Museums in Divided Times: How to Foster Dialogue, Care and a Sense of Belonging.
Keikutsertaan ini diumumkan langsung oleh pihak pengelolaan Museum NTB usai menerima konfirmasi resmi. Ajang bergengsi ini dikelola langsung oleh ICOM-CECA di bawah naungan International Council of Museums.
Dalam forum internasional tersebut, gagasan pengembangan museum desa akan dipaparkan bersama Direktur Museum Bala Datu Ranga, yaitu Yuli Andari Merdikaningtyas. Pertemuan tingkat dunia ini dijadwalkan berlangsung pada 9 hingga 14 November 2026 dengan menempatkan Gedung Teater Taman Ismail Marzuki di Jakarta Pusat.
Momentum ini diharapkan mampu memperluas pengenalan kebudayaan daerah sekaligus membuka peluang kerja sama global yang luas bagi pengelola museum di Indonesia.
Kawan GNFI, keterlibatan aktif para pegiat museum lokal dalam forum internasional tentu menjadi bukti nyata kemajuan kebudayaan bangsa. Pengakuan dunia internasional ini diharapkan mampu memotivasi daerah lain untuk terus berinovasi dalam melestarikan warisan leluhur.


