Sektor industri keramik nasional menunjukkan sinyal pemulihan kuat dengan rencana penanaman modal sebesar Rp5 triliun pada tahun ini. Investasi tersebut diproyeksikan mampu menambah kapasitas produksi hingga 70 juta meter persegi per tahun serta membuka lapangan kerja bagi sekitar 3.500 tenaga kerja baru.
Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) optimistis bahwa pemulihan ini akan membawa tingkat utilisasi produksi ke angka 80 persen sehingga menjadi capaian tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Kepercayaan investor didorong oleh rangkaian kebijakan pemerintah yang berpihak pada industri lokal melalui penerapan bea masuk antidumping dan kewajiban standar SNI
Selain itu, permintaan domestik diperkirakan meningkat signifikan berkat dukungan program pembangunan 3 juta unit rumah serta perpanjangan insentif pajak sektor properti. Kondisi ini memperlebar ruang ekspansi bagi produsen dalam negeri mengingat tingkat konsumsi keramik per kapita di Indonesia yang masih memiliki potensi pertumbuhan besar dibandingkan negara tetangga.
“Target ini realistis dengan catatan dukungan kebijakan pemerintah tetap konsisten dan persoalan struktural industri segera diselesaikan. Ruang ekspansi industri keramik nasional masih sangat besar,” ujar Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto.
Meskipun prospek pertumbuhan terlihat cerah, pelaku industri masih menghadapi kendala distribusi energi berupa terbatasnya pasokan gas industri di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Masalah ketersediaan bahan baku tanah liat serta lonjakan produk impor dari sejumlah negara juga menjadi tantangan yang memerlukan penanganan serius.
Untuk melindungi pasar domestik, ASAKI mendorong percepatan pemindahan pintu masuk impor ke luar Pulau Jawa serta penguatan instrumen non-tarif guna menekan peredaran produk ilegal yang mengancam daya saing industri nasional.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


