BMKG mengklarifikasi video viral air laut surut dekat Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, pada Selasa (08/09/2026). Fenomena tersebut dipastikan bukan merupakan indikator terjadinya tsunami akibat aktivitas erupsi gunung api tersebut. Pihak otoritas menyatakan bahwa kondisi perairan saat ini masih berada dalam batas pola normal.
Pemantauan menggunakan jaringan 20 tide gauge di wilayah Selat Sunda dilakukan guna memastikan keamanan warga pesisir. Langkah teknis ini merespons keresahan masyarakat setelah rekaman tersebut beredar luas di berbagai media sosial. Hasil observasi resmi menunjukkan tidak ada perubahan muka laut yang membahayakan keselamatan publik.
Kepala BMKG Wilayah II Hartanto menjelaskan bahwa data sensor masih menunjukkan siklus alamiah yang rutin terjadi.
“BMKG melaporkan bahwa hingga 6 September 2026 pukul 07.30 WIB, pemantauan 20 tide gauge di sekitar Selat Sunda menunjukkan muka laut masih mengikuti pola pasang-surut astronomis normal,” ungkap Hartanto.
Evaluasi jaringan seismik juga tidak menunjukkan adanya sinyal longsoran besar pada tubuh gunung maupun perpindahan massa bawah laut. Selain itu, petugas tidak mendeteksi aktivitas gempa tektonik yang berpotensi memicu gelombang tinggi di kawasan tersebut. Video itu dinilai murni sebagai dokumentasi kondisi lokal yang bersifat sesaat.
Hartanto menegaskan tidak ditemukan ancaman bahaya gelombang besar pada saat hasil pemantauan multisensor tersebut dipublikasikan. Meski demikian, ia tetap mengimbau warga untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi.
“Karena itu, saat laporan tersebut diterbitkan, tidak terdapat ancaman tsunami akibat erupsi Anak Krakatau. Laporan resmi pemantauan multisensor BMKG,” tambahnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


