khutbah jumat akhir ramadan 2026 1447 h - News | Good News From Indonesia 2026

5 Khutbah Jumat Akhir Ramadan 2026/1447 H, Sambut Idulfitri dengan Hati Suci

5 Khutbah Jumat Akhir Ramadan 2026/1447 H, Sambut Idulfitri dengan Hati Suci
images info

5 Khutbah Jumat Akhir Ramadan 2026/1447 H, Sambut Idulfitri dengan Hati Suci | Foto: (Pexels | Alena Darmel)


Ramadan kini memasuki penghujungnya. Bulan penuh rahmat ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta mempererat hubungan dengan sesama.

Pada masa akhir Ramadan, khutbah Jumat akhir Ramadan umumnya mengangkat tema perenungan dan muhasabah atas perjalanan ibadah selama sebulan penuh, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai kebaikan setelah Ramadan berlalu.

Melalui khutbah tersebut, khatib mengajak jamaah untuk mensyukuri kesempatan beribadah, mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Idulfitri, serta memanjatkan doa agar dipertemukan kembali dengan Ramadan pada tahun-tahun berikutnya.

baca juga

Berikut beberapa contoh khutbah Jumat akhir Ramadan yang dapat disampaikan menjelang Idulfitri 1447 H atau Lebaran 2026.

Kumpulan Contoh Teks Khutbah Jumat Akhir Ramadan 1447 H/2026 M

Naskah 1: Mempersiapkan Diri Menyambut Idulfitri

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ أَوْلِيَائِهِ بِأَنْوَارِ الْوِفَاقِ، وَرَفَعَ قَدْرَ أَصْفِيَائِهِ فِيْ الْأَفَاقِ، وَطَيَّبَ أَسْرَارَ الْقَاصِدِيْنَ بِطِيْبِ ثَنَائِهِ فِيْ الدِّيْنِ وَفَاقَ، وَسَقَى أَرْبَابَ مُعَامَلَاتِهِ مِنْ لَذِيْذِ مُنَاجَتِهِ شَرَابًا عَذْبَ الْمَذَاقِ، فَأَقْبَلُوْا لِطَلَبِ مَرَاضِيْهِ عَلَى أَقْدَامِ السَّبَاقِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ السَّبَاقِ، صَلَاةً وَسَلَامًا اِلَى يَوْمِ التَّلَاقِ


أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً صَفَا مَوْرِدُهَا وَرَاقَ، نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاَةَ مِنْ نَارٍ شَدِيْدَةِ الْاَحْرَاقِ، وَأَنْ يَهُوْنَ بِهَا عَلَيْنَا كُرْبُ السِّيَاقِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَشْرَفَ الْخَلْقِ عَلَى الْاِطْلَاقِ، اَلَّذِيْ أُسْرِيَ بِهِ عَلَى الْبَرَاقِ، حَتَّى جَاوَزَ السَّبْعَ الطِّبَاقِ. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Ma’asyiral Muslimīn a’azzakumullāh

Mengawali khutbah singkat ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi apa yang dilarang dan diharamkan.

Jamaah yang dimuliakan Allah

Selama bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat tarawih, bersedekah, serta menjaga salat berjamaah. Kini, di penghujung Ramadan, kita bersiap melepas bulan yang penuh berkah sekaligus menyambut datangnya hari raya Idulfitri.

Pada hari kemenangan tersebut, umat Islam merayakannya dengan penuh kegembiraan, seperti mengenakan pakaian terbaik, menyiapkan hidangan untuk tamu, serta berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Menunjukkan rasa bahagia pada hari raya ini juga merupakan anjuran dari Muhammad, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis.

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ ‏"مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ‏"‏‏.‏ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ"‏

Artinya, “Diriwayatkan dari sahabat Anas, ia berkata, ‘Sekali waktu Nabi SAW datang di Madinah, di sana penduduknya sedang bersuka ria selama dua hari. Lalu Nabi bertanya ‘Hari apakah ini (sehingga penduduk Madinah bersuka ria)?’ Mereka menjawab ‘Dulu semasa zaman jahiliah pada dua hari ini kami selalu bersuka ria.’ Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah menggantikannya dalam Islam dengan dua hari yang lebih baik dan lebih mulia, yaitu hari raya kurban (Idul Adha) dan hari raya fitri (Idul Fitri).’” (HR Abu Dawud).

Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh

Namun demikian, jangan sampai kebahagiaan pada hari Idulfitri membuat kita larut dalam kesenangan hingga melupakan anjuran untuk tetap beribadah dan menjaga kepedulian sosial. Sebab, bisa jadi pada saat yang sama masih ada saudara sesama Muslim yang tengah mengalami kesulitan ekonomi, sehingga bukan hanya pakaian baru yang belum dapat mereka miliki, bahkan hidangan istimewa Idulfitri pun belum tentu dapat mereka rasakan.

Oleh karena itu, pada hari raya ini kesadaran sosial kita seharusnya semakin matang. Selama bulan Ramadan kita telah dilatih menahan lapar dan dahaga agar dapat merasakan kehidupan orang-orang yang kekurangan. Maka Idulfitri menjadi momentum untuk mewujudkan empati tersebut dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Saat kita menikmati hidangan lebaran dan mengenakan pakaian terbaik, mungkin masih ada saudara kita yang belum merasakan kebahagiaan serupa. Karena itu, Idulfitri sangat tepat dijadikan sebagai momen untuk berbagi dan menebarkan kepedulian. Sebagaimana disampaikan oleh Abdul Hamid al-Makki dalam kitab Kanzun Najāḥ was Surūr.

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ، وَكُلُّ يَوْمٍ لاَ يُعْصَى فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ

Artinya, “Bukanlah disebut hari ‘id (hari raya Idul Futri) bagi orang yang mengenakan (pakaian) baru. Hari ‘id sesungguhnya adalah ketika ketaatan seseorang meningkat. Setiap hari ketika ia tidak melakukan maksiat, maka hari itu dinamakan ‘id.” (Abdul Hamid al-Makki asy-Syafi’i, Kanzun Najāḥ was Surūr, 2009: h. 263).

Apa yang disampaikan oleh Abdul Hamid al-Makki dalam kitab Kanzun Najāḥ was Surūr menegaskan bahwa hakikat Idulfitri terletak pada kemampuan seorang Muslim menjaga konsistensi ibadah kepada Allah sekaligus berbuat baik kepada sesama. Mengenakan pakaian baru memang dianjurkan sebagai ungkapan syukur, tetapi hendaknya tidak berlebihan hingga melupakan kenyataan bahwa masih banyak saudara yang belum merasakan kebahagiaan yang sama.

Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh

Selain menumbuhkan semangat berbagi, Idulfitri juga seharusnya menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, terutama pada malam harinya. Malam Idulfitri biasanya diisi dengan kegembiraan, berkumpul bersama keluarga, serta menjalin silaturahmi dengan kerabat. Namun, suasana bahagia tersebut hendaknya tidak membuat kita lalai dari mengingat Allah.

Karena itu, Muhammad mengajarkan bahwa siapa yang menghidupkan malam Idulfitri dengan ibadah, maka hatinya akan tetap hidup ketika banyak hati lainnya lalai. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist.

مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيدَيْنِ لِلهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

Artinya, “Siapa saja yang menghidupkan dua malam Id (Idul Fitri dan Idul Adha) karena Allah demi mengharap ridha-Nya, maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana hati manusia menjadi mati.” (HR As-Syafi’i dan Ibn Majah).

Menurut Ahmad ash-Shawi, yang dimaksud dengan “hati tidak mati” dalam hadis tersebut adalah seseorang tidak akan mengalami kebingungan ketika menghadapi sakaratul maut, saat menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur, maupun pada hari kiamat kelak. Penjelasan ini dapat ditemukan dalam kitab Bulghatus Sālik li Aqrabil Masālik.

Karena itu, kita dapat memanfaatkan sebagian waktu pada malam Idulfitri untuk memperbanyak ibadah sunnah, seperti salat witir, tahajud, atau melaksanakan salat Isya berjamaah. Selain itu, hendaknya kita juga memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Ramadan tahun ini bukanlah yang terakhir bagi kita, sehingga masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan Ramadan di tahun-tahun berikutnya.

Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh

Demikian khutbah singkat yang dapat khatib sampaikan. Semoga Ramadan tahun ini menjadi saksi ketaatan kita kepada Allah SWT, seluruh ibadah yang kita lakukan diterima oleh-Nya, serta kita dianugerahi umur panjang untuk kembali berjumpa dengan Ramadan pada masa yang akan datang.

 أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ​​​​​​ 


أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Oleh: Kemenag

Naskah 2: Idulfitri Jadi Hari Raya Fitrah, Takwa, dan Kemanusiaan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah

Marilah kita memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat menunaikan salat Jumat berjamaah. Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Muhammad, yang kelak memberikan syafaat kepada umatnya.

baca juga

Selanjutnya, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, karena hanya dengan iman dan takwa manusia akan memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Idulfitri merupakan puncak dari perjalanan spiritual umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan. Puasa menjadi sarana untuk kembali kepada fitrah, yaitu kesucian yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Semua itu dapat kita jalani berkat petunjuk dan kesempatan yang Allah berikan untuk memperbanyak ibadah selama Ramadan.

Di balik kemeriahan Idulfitri, tersimpan makna yang sangat mendalam dan berkaitan erat dengan ajaran dasar Islam. Bagi orang beriman, Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum penting yang sarat dengan nilai spiritual.

Ulama besar Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Lataif al-Ma'arif menjelaskan bahwa makna Idulfitri tidak terletak pada pakaian baru atau kemewahan lahiriah. Hakikat Idulfitri adalah meningkatnya ketaatan kepada Allah SWT serta harapan memperoleh ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدِ اِنَّـمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ وَلَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِبَاسِ وَالْمَرْكُوْبِ اِنَّـمَا الْعيْدُ لِمَنْ غَفَرَتْ لَهُ الذُّنُوْبُ

Artinya: “Bukanlah hari raya bagi orang yang memakai baju baru, melainkan hari raya bagi orang yang ketaatannya bertambah. Bukanlah hari raya bagi orang yang bersolek dengan pakaian dan kendaraan, melainkan hari raya bagi orang yang diampuni dosanya.”

Marilah kita merenungkan makna Hari Raya Idulfitri. Secara bahasa, Idulfitri berasal dari kata ‘Id yang berarti kembali dan fitri yang berarti suci. Dengan demikian, Idulfitri dimaknai sebagai kembalinya manusia kepada fitrah, yakni keadaan suci sebagaimana diciptakan oleh Allah SWT.

Fitrah tersebut merujuk pada kemurnian jiwa dan hati. Karena itu, esensi Idulfitri bukan sekadar kebersihan lahiriah, tetapi juga kesucian batin. Momentum ini menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk kembali membersihkan diri, memperbaiki hati, dan menata kembali kehidupan spiritualnya.

Cendekiawan Muslim Indonesia M. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an menjelaskan bahwa kesucian terbentuk dari tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu benar, baik, dan indah.

Makna benar berkaitan dengan sikap yang selaras dengan nilai agama, norma sosial, dan hukum. Orang yang memegang kebenaran akan berusaha bersikap jujur serta adil dalam setiap tindakan.

Makna baik menunjuk pada segala sesuatu yang membawa manfaat dan kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Nilai ini mendorong manusia untuk saling menolong, mengasihi, dan menebarkan kedamaian.

Sementara itu, makna indah tidak hanya berkaitan dengan keindahan fisik, tetapi juga tercermin dalam keindahan sikap, perilaku, serta keluhuran akhlak seseorang.

Dengan demikian, seseorang yang benar-benar meraih makna Idulfitri akan berusaha menjalani kehidupan dengan sikap yang benar, baik, dan indah. Ia menjadi pribadi yang jujur, adil, penuh kasih sayang, serta memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah

Lalu bagaimana cara kembali kepada kesucian tersebut? Salah satunya melalui ibadah puasa di bulan Ramadan. Selama sebulan penuh, umat Islam dilatih untuk menahan hawa nafsu, meningkatkan ketakwaan, serta memperbanyak amal saleh.

Melalui proses spiritual ini, diharapkan setelah Ramadan berakhir, kita kembali menjadi pribadi yang lebih bersih, lebih baik, dan semakin dekat kepada Allah SWT.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah

Ulama besar Nusantara Nawawi al-Bantani dalam kitab Tafsir al-Munir li Ma'alim at-Tanzil menjelaskan bahwa ibadah puasa merupakan sarana untuk melatih dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan menahan lapar, haus, serta berbagai dorongan hawa nafsu, seorang Muslim dilatih untuk mengendalikan diri dan memperkuat ketaatan kepada-Nya.

Kemampuan menahan hawa nafsu tersebut akan menumbuhkan ketakwaan secara menyeluruh. Orang yang bertakwa adalah mereka yang berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan inilah yang menjadikan hidup lebih tenang dan penuh kebahagiaan.

Takwa dalam Islam tidak sekadar berarti takut kepada Allah, tetapi juga kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan, pikirkan, dan rasakan. Kesadaran ini mendorong seseorang untuk menjaga hati, ucapan, dan perbuatannya agar senantiasa berada di jalan yang benar.

Karena itu, hidup dengan takwa akan menghadirkan ketenangan batin. Orang yang bertakwa tidak mudah diliputi kegelisahan ketika menghadapi kesulitan, karena ia yakin Allah selalu bersamanya. Takwa pun menjadi pedoman hidup yang menuntun manusia menuju jalan yang diridhai Allah SWT.

Lebih jauh lagi, hakikat takwa tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam perilaku kemanusiaan. Takwa menjadi landasan spiritual yang mendorong manusia untuk menebarkan kebaikan, sementara nilai kemanusiaan menuntun manusia untuk saling menghormati, mengasihi, dan menolong sesama.

Kedua nilai tersebut saling melengkapi. Takwa tanpa kepedulian kemanusiaan dapat menjadikan seseorang kaku dan sempit dalam beragama. Sebaliknya, kemanusiaan tanpa landasan takwa dapat membawa manusia pada kesombongan dan orientasi duniawi semata.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah

Jika ditelaah lebih dalam, terdapat pula konsep takwa sosial, yaitu ketakwaan yang tercermin dalam hubungan antarmanusia. Konsep ini menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan sosial, sehingga membawa manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Ali Imran ayat 133–134.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seperti langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mampu menahan amarahnya, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Ayat dalam Surah Ali Imran ayat 133–134 menjelaskan empat ciri utama orang yang bertakwa, yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial.

Pertama, mereka yang gemar berinfak baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Sikap ini menunjukkan kepedulian serta kesiapan membantu sesama tanpa bergantung pada kondisi diri.

Kedua, mereka yang mampu menahan amarah. Kemampuan ini mencerminkan kedewasaan, kesabaran, serta pengendalian diri dalam berinteraksi dengan orang lain.

Ketiga, mereka yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Sikap ini menandakan kelapangan hati, toleransi, dan kasih sayang yang dapat mempererat hubungan antarsesama.

Keempat, mereka yang senantiasa berbuat kebaikan. Perilaku ini menunjukkan komitmen untuk memberi manfaat serta menciptakan kehidupan yang harmonis dan damai di tengah masyarakat.

Keempat ciri tersebut menegaskan bahwa ketakwaan tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah Swt., tetapi juga tercermin dalam kepedulian terhadap sesama. Orang yang bertakwa berperan aktif menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan bagi lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, marilah kita menjadikanIdulfitri sebagai momentum untuk kembali kepada fitrah, memperkuat ketakwaan, serta mempererat persaudaraan. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa serta senantiasa menebarkan kebaikan kepada sesama.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Khutbah II


الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Oleh: (Ustadz Zainuddin Lubis, Pegiat Kajian Islam Tinggal di Ciputat | NU Online)

Naskah 3: Khutbah Jumat Terakhir DI Bulan Ramadan Menyambut Idulfitri

اَلْحَمْدُ ِللهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ الْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. يَاۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءٰمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

baca juga

Perlu kita sadari bahwa takwa kepada Allah merupakan fondasi utama yang menuntun manusia menuju kebahagiaan dan keberhasilan sejati. Menguatkan takwa bukan hanya kewajiban, tetapi juga kebutuhan spiritual. Melalui petunjuk Al-Qur’an dan hadis Nabi, umat Islam diarahkan untuk menjalankan perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya. Dengan ketaatan tersebut, hati akan meraih ketenangan dan kehidupan berjalan di jalan yang diridhai-Nya.

Oleh karena itu, pada kesempatan khutbah ini marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali Imran ayat 102.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

Selain memperkuat ketakwaan, marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan. Alhamdulillah, saat ini kita telah berada di penghujung bulan Ramadan.

Bulan yang penuh berkah ini memberi kesempatan berharga bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperbaiki diri secara spiritual dan moral. Karena itu, hari-hari terakhir Ramadan hendaknya kita isi dengan keikhlasan, muhasabah, dan kesungguhan dalam beribadah.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Berakhirnya Ramadan sering menimbulkan rasa haru, karena bulan penuh rahmat ini segera meninggalkan kita. Namun di balik kesedihan tersebut, seharusnya kita menyambutnya dengan rasa syukur, sebab masa-masa terakhir Ramadan merupakan peluang besar untuk memperbanyak amal dan meraih pahala berlipat ganda.

Pada saat inilah umat Islam dianjurkan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, zikir, dan doa. Kesempatan ini tidak datang dua kali dalam waktu yang sama. Bahkan, kita diperintahkan untuk bersungguh-sungguh mencari malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan atau sekitar 83 tahun lebih.

Sebagaimana sabda Muhammad dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

مَن قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan (penuh) keimanan dan pengharapan (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."

Masa akhir Ramadan juga merupakan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan introspeksi diri. Kita dapat menilai kembali perjalanan ibadah selama bulan Ramadan: apakah kesempatan yang diberikan telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, apakah kualitas ibadah meningkat, serta sejauh mana kita telah menebarkan kebaikan kepada sesama.

Melalui introspeksi tersebut, kita diajak untuk melihat ke dalam diri, mengevaluasi berbagai kekurangan dan kesalahan, serta menumbuhkan komitmen untuk memperbaiki diri di masa mendatang. Dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin mendekatkan diri sebagai hamba Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hasyr ayat 18.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Memasuki penghujung Ramadan, kita juga perlu mempersiapkan diri untuk menyambut Idulfitri. Persiapan tersebut tidak hanya bersifat lahiriah, seperti membeli pakaian baru atau menyiapkan hidangan lebaran, tetapi yang lebih penting adalah persiapan batin dan spiritual.

Kita perlu membersihkan hati dari kebencian, iri hati, dan prasangka buruk. Idulfitri menjadi momen yang tepat untuk saling memaafkan, memperbaiki hubungan yang sempat renggang, serta mempererat tali persaudaraan. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan kesempatan ini untuk membersihkan hati dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Selain itu, kita juga harus menunaikan Zakat Fitrah tepat pada waktunya, agar saudara-saudara kita yang membutuhkan dapat ikut merasakan kebahagiaan Idulfitri. Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, sekaligus wujud kepedulian sosial dan solidaritas terhadap sesama. Ibadah ini juga menjadi penyempurna bagi ibadah puasa yang telah kita jalankan selama bulan Ramadan.

Rasulullah bersabda:

شَهْرُ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلاَ يُرْفَعُ إلَى اللهِ إلاَّ بِزَكَاةِ الفِطْرِ

Artinya: “(Puasa pada) bulan Ramadhan digantungkan antara langit dan bumi, tidak diangkat pada Allah kecuali dengan zakat fitrah.” (HR Ibn Syahin)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Masa akhir Ramadan merupakan waktu yang sangat berharga dan hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin. Melalui refleksi, introspeksi, serta persiapan menyambut Idulfitri, kita dapat memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT, memperbaiki diri, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Semoga kita semua mampu menjalani hari-hari terakhir Ramadan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran, sehingga dapat menyambut Idulfitri dengan hati yang bersih, penuh syukur, dan kebahagiaan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهٗ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، َأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Oleh: (Muhammad Faizin | Arina.Id)

Naskah 4: Menggapai Lailatur Qadar di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَظْهَرَ لَنَا ثَمَرَ الرَّوْضِ مِنْ كِمَامِهِ، وَأَسْبَغَ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ مَلَابِسَ إِنْعَامِهِ، وَبَصَّرَنَا مِنْ شَرْعِهِ بِحَلَالِهِ وَحَرَامِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ذُوْ الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُؤَيَّدُ بِمُعْجِزَاتِهِ الْعِظَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

baca juga

Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya kita terus meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Terlebih pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, karena di dalamnya terdapat malamLailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Oleh karena itu, momentum ini hendaknya kita manfaatkan untuk semakin memperkuat ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah.

Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat istimewa bagi hamba-hamba yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Pada malam tersebut para malaikat turun membawa ketenteraman, sementara pintu ampunan dibuka seluas-luasnya. Karena itu, jangan biarkan malam yang mulia ini berlalu tanpa makna.

Perbanyaklah doa, istighfar, serta rendahkan diri di hadapan Allah SWT disertai dengan berbagai amal kebaikan. Sebab pada malam yang agung ini, setiap amal saleh memiliki nilai yang jauh lebih besar, bahkan melebihi pahala ibadah selama seribu bulan.

Allah swt berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ؟ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr, [97]: 1-5).

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Dalam sebuah riwayat yang dicatat oleh Malik ibn Anas dalam kitab Al-Muwatta disebutkan bahwa Muhammad pernah diperlihatkan umur umat-umat terdahulu yang sangat panjang, sehingga mereka memiliki kesempatan luas untuk memperbanyak amal saleh. Sementara itu, umur umat Nabi Muhammad relatif lebih singkat. Hal ini membuat Rasulullah merasa khawatir umatnya tidak mampu menandingi banyaknya amal yang dilakukan oleh umat-umat sebelumnya.

Namun dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah SWT menganugerahkan malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Malam yang agung ini menjadi karunia besar bagi umat Islam agar dapat meraih pahala yang sangat besar dalam waktu yang singkat.

Dalam riwayat tersebut disebutkan:

عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ سَمِعَ مَنْ يَثِقُ بِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ، أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ، فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَنْ لَا يَبْلُغُوا مِنَ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِي بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِي طُولِ الْعُمُرِ، فَأَعْطَاهُ اللَّهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya, “Dari Malik, bahwa ia mendengar dari seseorang yang ia percayai dari kalangan ahli ilmu berkata: Sesungguhnya Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya, atau apa saja yang Allah kehendaki dari hal tersebut. Maka seakan-akan Nabi melihat umur umatnya lebih pendek sehingga mereka tidak dapat mencapai amal sebanyak yang dicapai oleh umat-umat lain karena panjangnya usia mereka. Maka Allah pun menganugerahkan kepadanya Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.” (HR. Malik bin Anas).

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Malam Lailatul Qadar merupakan bukti kasih sayang Allah kepada umat Muhammad. Meskipun usia umat ini relatif lebih singkat dibandingkan umat terdahulu, Allah memberikan kesempatan untuk meraih pahala yang sangat besar melalui satu malam yang penuh keberkahan.

Karena itu, marilah kita memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan sungguh-sungguh. Isi malam-malam tersebut dengan memperbanyak ibadah, seperti salat tarawih, membaca Al-Qur’an, beriktikaf di masjid, serta memperbanyak sedekah dan berbagai kebaikan kepada sesama.

Semangat meningkatkan ibadah inilah yang selalu dicontohkan oleh Rasulullah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Hal tersebut sebagaimana diriwayatkan oleh Aisha bint Abu Bakr, yang mengatakan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Artinya, “Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah saw apabila memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadhan), ia mengencangkan ikat pinggangnya, memperbanyak ibadah di malam hari, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari).

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Bagaimana cara mengetahui datangnya malam Lailatul Qadar? Pada hakikatnya, hanya Allah SWT yang mengetahui secara pasti kapan malam istimewa tersebut terjadi. Namun, para ulama menjelaskan beberapa tanda yang dapat dikenali berdasarkan hadis Nabi.

Salah satu riwayat dari Ubadah ibn al-Samit menyebutkan bahwa Muhammad menjelaskan beberapa ciri malam tersebut. Suasananya terasa sangat tenang dan damai, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin. Langit tampak bersih dan cerah, seolah malam itu terasa begitu jernih.

Bahkan, malam Lailatul Qadar sering digambarkan penuh ketenteraman, seakan dipenuhi cahaya yang lembut seperti sinar bulan purnama. Udara pun terasa sejuk dan bersahabat, tanpa angin kencang, sehingga menghadirkan suasana yang menenangkan bagi siapa saja yang beribadah pada malam tersebut.

إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ لَا بَرْدَ فِيهَا وَلَا حَرَّ وَلَا يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيهَا حَتَّى تُصْبِحَ وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَلَا يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذ

Artinya, “Sesungguhnya tanda lailatul qadar adalah malamnya tampak jernih dan terang, seolah-olah pada malam itu ada bulan yang bersinar. Suasananya tenang dan tenteram, tidak terasa dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak tampak bintang yang jatuh hingga datang waktu pagi. Dan di antara tandanya pula, pada pagi harinya matahari terbit dalam keadaan sempurna, tidak memiliki sinar yang menyilaukan, seperti bulan pada malam purnama. Pada hari itu pula setan tidak dapat keluar bersama terbitnya matahari.” (HR. Ahmad).

Karena itu, sudah sepatutnya kita memanfaatkan malam-malam tersebut dengan memperbanyak amal ibadah dan berbagai kebaikan. Jangan sampai kesempatan yang sangat berharga ini terlewatkan, sebab pada malam-malam penuh keberkahan ini Allah membuka pintu rahmat dan ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya.

Kita dapat mengisinya dengan membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa dan istighfar, serta melakukan berbagai kebaikan sekecil apa pun. Misalnya membantu orang yang sedang kesulitan, bersedekah, menolong tetangga, menyebarkan salam, dan perbuatan baik lainnya. Sebab pada malam tersebut, setiap amal kebajikan memiliki nilai pahala yang lebih baik daripada seribu bulan.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Demikian khutbah ini disampaikan. Semoga kita semua diberikan kekuatan dan keistiqamahan untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah yang terbaik. Marilah kita bersungguh-sungguh meraih malam Lailatul Qadar dengan meneladani semangat ibadah Muhammad, yang semakin meningkatkan amalnya pada malam-malam tersebut.

Jangan sampai kita termasuk orang yang merugi, yaitu mereka yang melewatkan malam penuh kemuliaan hanya karena terlena oleh urusan dunia atau lalai dalam beribadah. Sungguh, keberuntungan sejati adalah bagi mereka yang berhasil meraih ampunan Allah pada malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Oleh: (Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur. | NU Online)

Naskah 5: Hikmah Zakat Fitrah, Menyucikan Jiwa dan Menyempurnakan Ibadah

الْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَامِلًا عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ الَّذِيْ شَرَعَ لِعِبَادِهِ الشَّرَائِعَ رَحْمَةً بِهِمْ، وَجَعَلَ الطَّاعَاتِ سَبَبًا لِلْفَلَاحِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْنَا يَوْمَ الزِّحَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَنْ صَامَ وَقَامَ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, saat ini kita telah memasuki sepertiga terakhir bulan Ramadhan. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan, terutama nikmat iman dan Islam yang merupakan karunia terbesar dalam hidup kita. Termasuk pula nikmat kesempatan untuk beribadah di bulan Ramadhan tahun ini.

baca juga

Tak lupa, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan semoga sampai kepada kita semua sebagai umatnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Khatib juga mengajak jamaah sekalian, termasuk diri pribadi, untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, salah satu kewajiban umat Islam di bulan Ramadan selain berpuasa adalah menunaikan zakat fitrah. Zakat fitrah merupakan sejumlah bahan makanan pokok tertentu yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat. Adapun syarat tersebut antara lain mendapati akhir bulan Ramadan, memiliki kelebihan makanan pokok untuk diri sendiri dan orang yang menjadi tanggungannya pada malam dan hari raya, serta dalam keadaan merdeka.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, asal kewajiban zakat fitrah bersandar pada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW mewajibkan umat Islam menunaikannya sebesar satu sha’ kurma atau gandum.

Al-Khatib As-Syirbini dalam kitab Al-Iqna’, juz I halaman 226, menjelaskan:

وَالْأَصْل فِي وُجُوبهَا قَبْلَ الْإِِجْمَاعِ خَبَرُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أََوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya: “Asal kewajiban zakat fitrah sebelum konsensus ialah khabar yang bersumber dari Ibnu Umar ra yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah dari Ramadan kepada umat Islam yang merdeka, hamba sahaya laki-laki atau perempuan berupa satu sha’ kurma atau kacang syair (jewawut)”.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, zakat fitrah tidak sekadar bentuk sedekah, tetapi juga berfungsi menyucikan harta serta membersihkan jiwa dari kesalahan yang mungkin terjadi selama menjalankan puasa Ramadhan. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلََّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ، مَنْ أدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ، وَمَنْ أدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Artinya: "Dari Ibnu Abbas berkata, 'Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau, kata-kata buruk, dan juga untuk memberi makan orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap bagian dari sedekah”. (HR Abu Dawud).

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, dalam hadist Rasulullah SAW dijelaskan bahwa zakat fitrah diwajibkan untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan ucapan yang kurang baik selama Ramadan. Dengan demikian, zakat fitrah berperan sebagai pembersih jiwa dari dosa yang mungkin terjadi saat berpuasa.

Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ruslan dalam kitab Syarah Sunan Abi Dawud, juz VII halaman 589:

قَالَ: مَعْنَاهَا زَكَاةُ الْخِلْقَةِ [زَكَاةُ الْبَدَنِ] وَسُمِّيَتْ هَذِهِ الصَّدَقَةُ زَكَاةً لِأَنَّهَا (طُهْرَةً) أَيْ تُطَهِّرُ النَّفْسَ وَلِأَنَّهَا مُطَهِّرَةٌ (لِلصَّائِمِ) أَيْ: صِيَامِ رَمَضَانَ

Artinya: "Abu Muhammad Al-Atsiri berkata: 'Zakat fitrah memiliki makna yang sama dengan zakat badan. Sedekah ini dinamakan zakat sebab berfungsi sebagai penyuci yang menyucikan jiwa. Juga karena zakat ini menyucikan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dari bersenda gurau, kata-kata buruk”.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, selain sebagai pembersih jiwa, zakat fitrah juga berfungsi sebagai penebus dan penyempurna atas kekurangan ibadah selama Ramadan. Hal ini serupa dengan disyariatkannya penyembelihan hadyu dalam ibadah haji untuk menutup kekurangan yang terjadi.

Ibnu Ruslan dalam hal ini berkata:

قَالَ الْعُلَمَاءُ: كَانَ سَبَبُهُ أَنَّ الْعِبَادَاتِ الَّتِيْ تَطُوْلُ وَيَشُقُّ التَّحَرُّزَعَنِ الْأُمُوْرِالَّتِيْ يُفَوِّتُ كَمَالَهَا جَعَلَ الشَّارِعُ فِيْهَا كَفَّارَةً مَالِيَةً جَبْرًا؛ لِمَا يَحْصُلُ فِي الْعِبَادَةِ مِنَ النَّقْصِ كَالْهَدْيِ فِي الْحَجِّ

Artinya: “Para ulama berkata, sebab diwajibkan zakat fitrah ialah (sebab puasa merupakan) ibadah yang memiliki waktu lama dan sulit untuk menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaan di dalamnya. Karenanya, pemberi syariat menjadikan kafarah harta untuk menambal kekurangan di dalamnya. Sebagaimana disyariatkan menyembelih pada kekurangan dalam ibadah haji”.

Demikian khutbah Jumat kali ini. Semoga semua ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan kali ini diterima oleh Allah swt dan termasuk ke dalam bagian orang-orang yang bertakwa yang disebutkan dalam firman-Nya.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

 

Khutbah II


الْحَمْدُ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Andy Apriyono lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Andy Apriyono.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.