berdiri sejak abad ke 15 mengenal jejak panjang pesantren al kahfi somalangu - News | Good News From Indonesia 2026

Berdiri Sejak Abad ke-15, Mengenal Jejak Panjang Pesantren Al-Kahfi Somalangu

Berdiri Sejak Abad ke-15, Mengenal Jejak Panjang Pesantren Al-Kahfi Somalangu
images info

Berdiri Sejak Abad ke-15, Mengenal Jejak Panjang Pesantren Al-Kahfi Somalangu︱Sumber: Wikimedia Commons - Istimewa


Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu di Desa Sumberadi, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu pesantren bersejarah di Indonesia. Lembaga pendidikan Islam ini memiliki riwayat pendirian yang merujuk pada 25 Sya’ban 879 Hijriah atau 4 Januari 1475 Masehi.

Sejarah Pesantren Al-Kahfi Somalangu berkaitan erat dengan perjalanan dakwah pendirinya, As-Syekh As-Sayyid Abdul Kahfi Al-Hasani. Ulama yang memiliki nama asli Muhammad ‘Ishom Al-Hasani tersebut disebut datang ke Jawa pada 1448 M sebelum akhirnya mendirikan pesantren di Somalangu.

Keberadaan pesantren ini tidak hanya menyimpan kisah penyebaran Islam di Jawa, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi pendidikan agama diwariskan lintas generasi. Masjid tua dan prasasti yang tersimpan di lingkungan pesantren menjadi bagian dari warisan sejarah yang masih dikenal hingga sekarang.

Menelusuri Jejak Pesantren yang Berdiri sejak 1475

Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu memiliki riwayat pendirian yang merujuk pada 25 Sya’ban 879 H atau 4 Januari 1475 M. Keterangan tersebut dikaitkan dengan sebuah prasasti batu yang tersimpan di dalam masjid pesantren.

Berdasarkan keterangan pengasuh pesantren, KH. Afifudin Chanif Al-Hasani, prasasti tersebut terbuat dari batu yang dikenal sebagai zamrud Siberia atau Emerald Fuchsite, dengan berat sekitar sembilan kilogram.

Prasasti itu memiliki gambar bulus berkaki tiga serta tulisan dalam aksara Jawa dan Arab. Tulisan Jawa disebut memuat candra sengkala berbunyi “Bumi Pitu Ina”, sedangkan tulisan Arab menjelaskan tanggal 25 Sya’ban 879 H.

Tanggal tersebut menjadi dasar riwayat pendirian Pesantren Al-Kahfi Somalangu pada 1475 M. Jika merujuk pada penanggalan tersebut, pesantren ini telah berdiri jauh sebelum sejumlah lembaga pendidikan Islam lain yang dikenal berkembang pada abad ke-18.

Dalam tradisi pesantren di Nusantara, masjid menjadi bagian penting dari kehidupan pendidikan dan dakwah. Masjid berfungsi sebagai tempat ibadah sekaligus ruang pembelajaran agama bagi masyarakat.

baca juga

Riwayat Al-Kahfi Somalangu menyebut masjid dan pesantren didirikan sebagai satu kesatuan. Bangunan masjid pada masa awal dikisahkan menggunakan atap daun ilalang, sedangkan bagian mustaka atau kubahnya terbuat dari lempung atau tanah liat.

Keberadaan prasasti dan masjid tua tersebut menjadi bagian dari warisan sejarah yang masih dipertahankan di lingkungan pesantren. Meski demikian, tahun pendirian dan kedudukan sebagai salah satu pesantren tertua perlu dipahami berdasarkan riwayat pesantren serta bukti sejarah yang tersedia.

Syekh Abdul Kahfi Al-Hasani dan Perjalanan Mendirikan Pesantren

Pendirian Pesantren Al-Kahfi Somalangu dikaitkan dengan As-Syekh As-Sayyid Abdul Kahfi Al-Hasani, yang memiliki nama asli Muhammad ‘Ishom Al-Hasani. Dalam riwayat pesantren, beliau disebut lahir pada 15 Sya’ban 827 H di Kampung Jamhar, Syihr, Hadramaut, Yaman.

Beliau merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Ayahnya bernama As-Syekh As-Sayyid Abdur Rasyid bin Abdul Majid Al-Hasani, sedangkan ibunya adalah Syarifah Zulaikha binti Mahmud bin Abdullah bin As-Syekh Shahibuddin Al-Huseini ‘Inath.

Menurut riwayat yang dihimpun pihak pesantren, Abdul Kahfi Al-Hasani mendapatkan pendidikan agama sejak usia dini dari Sayyid Ja’far Al-Huseini di Hadramaut. Setelah menjalani pembelajaran tersebut, beliau memperoleh laqab atau julukan Abdul Kahfi yang kemudian lebih dikenal daripada nama aslinya.

Pada usia sekitar 24 tahun, Abdul Kahfi Al-Hasani memulai perjalanan dakwah ke Jawa. Beliau disebut tiba pada 852 H atau 1448 M, ketika wilayah Jawa masih berada dalam masa pemerintahan Majapahit.

Pendaratan pertamanya dikisahkan berlangsung di Pantai Karang Bolong, Kecamatan Buayan, Kebumen. Setelah melakukan perjalanan dakwah di sejumlah wilayah Kebumen, beliau memasuki Somalangu yang saat itu digambarkan masih berupa kawasan hutan.

Dalam riwayat tersebut, Abdul Kahfi Al-Hasani sempat melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan membantu dakwah Sunan Ampel. Beliau kemudian mendirikan pesantren di Sayung, Demak, sebelum diminta berdakwah di Kudus.

Perjalanan dakwahnya berlanjut ke Demak. Setelah menikah dan memiliki putra pertama, Abdul Kahfi Al-Hasani bersama keluarganya hijrah ke Somalangu untuk mendirikan pesantren.

baca juga

Kepindahan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah Al-Kahfi Somalangu. Di tempat inilah beliau menetap dan mengasuh pesantren yang kemudian dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam bersejarah di Kebumen.

Menurut riwayat pesantren, Abdul Kahfi Al-Hasani mengasuh lembaga tersebut selama sekitar 130 tahun. Beliau wafat pada 15 Sya’ban 1018 H, yang disebut bertepatan dengan 12 November 1609 M, dan dimakamkan di Bukit Lemah Lanang, Somalangu, Kebumen.

Dari Tempat Belajar Agama hingga Lembaga Pendidikan Lintas Generasi

Sejak didirikan, Pesantren Al-Kahfi Somalangu menjadi bagian dari tradisi pendidikan Islam yang menempatkan masjid dan pesantren sebagai pusat pembelajaran serta dakwah masyarakat.

Dalam kehidupan pesantren, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui penyampaian ilmu agama, tetapi juga melalui pembiasaan ibadah, keteladanan pengasuh, dan kehidupan bersama. Tradisi tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak dan pengembangan pengetahuan keislaman.

Riwayat Al-Kahfi Somalangu memperlihatkan bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat bertahan melalui pewarisan kepengasuhan. Berdasarkan keterangan pesantren, sistem kepengasuhan diwariskan melalui garis keturunan laki-laki pertama.

Saat ini, Pesantren Al-Kahfi Somalangu diasuh oleh KH. Afifudin Chanif Al-Hasani, yang disebut sebagai generasi ke-16 dari pendiri pesantren.

baca juga

Pewarisan kepengasuhan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan kesinambungan lembaga. Di tengah perubahan kebutuhan pendidikan masyarakat, tradisi keilmuan dan nilai-nilai pesantren tetap menjadi fondasi yang penting.

Keberadaan Al-Kahfi Somalangu juga menjadi pengingat bahwa sejarah pendidikan Islam di Indonesia memiliki perjalanan panjang. Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga bagian dari perkembangan kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Menjaga Warisan Lama di Tengah Perubahan Zaman

Pesantren Al-Kahfi Somalangu memiliki warisan sejarah yang tidak hanya berkaitan dengan pendirinya, tetapi juga dengan bangunan masjid dan prasasti yang masih tersimpan di lingkungan pesantren.

Masjid tua tersebut menjadi salah satu bagian penting dari riwayat pendirian Al-Kahfi Somalangu. Dalam keterangan yang diwariskan pihak pesantren, bangunan masjid pada masa awal menggunakan atap daun ilalang, sedangkan mustakanya terbuat dari lempung atau tanah liat.

Prasasti batu zamrud Siberia yang dikaitkan dengan tahun pendirian pesantren juga menjadi bagian dari peninggalan yang memiliki nilai sejarah. Keberadaannya membuka ruang untuk penelitian lebih lanjut mengenai penanggalan, bahan, aksara, dan konteks pendirian lembaga pendidikan Islam pada masa tersebut.

Pelestarian pesantren bersejarah membutuhkan perhatian terhadap bangunan, benda peninggalan, serta dokumentasi sejarahnya. Upaya tersebut penting agar warisan pendidikan Islam dapat dikenal oleh generasi berikutnya.

Di sisi lain, keberlanjutan pesantren juga berkaitan dengan peran pendidikan yang dijalankan. Tradisi pengajaran agama, pembentukan akhlak, dan kepengasuhan menjadi bagian dari identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi.

baca juga

Untuk memahami perkembangan Al-Kahfi Somalangu pada masa sekarang secara lebih lengkap, informasi mengenai kegiatan belajar, fasilitas, dan program pendidikan terkini perlu merujuk pada keterangan resmi pesantren.

Dengan riwayat pendirian yang merujuk pada 1475 M, perjalanan dakwah pendirinya, serta tradisi kepengasuhan yang panjang, Pesantren Al-Kahfi Somalangu menjadi salah satu lembaga yang menarik untuk ditelusuri dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Keberadaannya memperlihatkan bagaimana ilmu, nilai keagamaan, dan warisan budaya terus dijaga melalui perjalanan lintas generasi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizkia Putri Fahira lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizkia Putri Fahira.

RP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.