profil adam malik rekam jejak si kancil dari jurnalis pergerakan hingga pendiri asean - News | Good News From Indonesia 2026

Profil Adam Malik, Rekam Jejak "Si Kancil": dari Jurnalis Pergerakan hingga Pendiri ASEAN

Profil Adam Malik, Rekam Jejak "Si Kancil": dari Jurnalis Pergerakan hingga Pendiri ASEAN
images info

Adam Malik (Wikipedia)


Ungkapan legendaris "Semua bisa diatur" tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Kalimat bernada optimis dan penuh solusi tersebut adalah ciri khas dari salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perjalanan bangsa, yakni Adam Malik Batubara.

Dikutip dari laman Tirto.id artikel berjudul Profil Adam Malik: Sejarah Tokoh Pendiri ASEAN dari Indonesia, Adam Malik lahir pada tanggal 22 Juli 1917 di Kota Pematangsiantar, Sumatra Utara.

Tumbuh dalam keluarga yang berkecukupan, tokoh ini adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Kedua orang tuanya, Haji Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis, merupakan perantau sukses asal Mandailing, Tapanuli Selatan, yang berprofesi sebagai pedagang.

Pada awal abad ke-20, Pematangsiantar merupakan kota niaga yang sangat dinamis. Sebagai kota persinggahan di pesisir Timur Sumatra, kawasan ini menjadi titik temu berbagai ras, suku, dan agama.

baca juga

Tumbuh besar di lingkungan yang sangat multikultural secara otomatis membentuk karakter Adam Malik menjadi individu yang toleran, berpikiran terbuka, dan sangat luwes dalam pergaulan sosial. Sifat-sifat dasar inilah yang kelak menjadi modal utamanya di meja diplomasi internasional.

Meski berasal dari keluarga pedagang, minat terbesarnya justru jatuh pada dunia literasi dan seni. Kebiasaan membaca berbagai jenis buku serta kegemaran menonton film menjadi hobi yang terus dipupuk sejak belia.

Pendidikan formalnya dimulai di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pematangsiantar. Karena harapan orang tua yang ingin putranya mendalami ilmu agama, pendidikan tersebut kemudian dilanjutkan ke Sekolah Agama Madrasah Sumatera Thawalib di Parabek, Bukit Tinggi.

Sayangnya, jiwa perantau dan rasa ingin tahu yang meledak-ledak membuat tokoh muda ini hanya bertahan sekitar satu tahun di madrasah. Setelah sempat pulang untuk membantu usaha orang tua, keputusan besar pun diambil, merantau ke Jakarta demi mencari jati diri dan terjun langsung ke medan pergerakan kemerdekaan.

baca juga

Keberanian Nyali Muda: Masuk Penjara hingga Membidani Kantor Berita ANTARA

Setibanya di Batavia (Jakarta), wawasan luas dan kefasihan berbahasa Belanda yang dimiliki Adam Malik menjadi senjata mematikan. Pergaulan pun meluas ke kalangan aktivis pemuda dan tokoh pergerakan nasional. Berbagai diskusi intens dilakukan guna merancang strategi merebut kemerdekaan dari tangan penjajah kolonial Belanda.

Tentu saja, menentang pemerintah kolonial adalah jalan yang penuh risiko. Pada usia yang baru menginjak 17 tahun, pemuda kritis ini harus merasakan dinginnya lantai penjara selama dua bulan penuh. Penangkapan tersebut terjadi akibat pelanggaran terhadap larangan berkumpul yang ditegakkan secara ketat oleh kepolisian Belanda.

Menariknya, hukuman penjara sama sekali tidak membuat nyali "Si Kancil" menciut. Prinsip hidup untuk berani tanpa mengenal rasa takut justru membuat reputasinya semakin dihormati di kalangan pergerakan.

Usai bebas, jabatan bergengsi sebagai Ketua Partai Indonesia (Partindo) untuk wilayah Pematangsiantar dan Medan langsung dipercayakan kepadanya untuk periode 1934–1935.

baca juga

Bersamaan dengan aktivitas politik tersebut, bakat menulisnya kian terasah tajam. Berbagai pemikiran revolusioner dituangkan melalui tulisan di media massa lokal, termasuk Surat Kabar Pelita Andalas dan Majalah Partindo.

Dedikasi di dunia jurnalistik ini mencapai puncaknya pada 13 Desember 1937. Bersama sejumlah jurnalis pergerakan terkemuka seperti Soemanang, Sipahutar, Armijn Pane, Abdul Hakim, dan Pandu Kartawiguna, Adam Malik memelopori pendirian Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA.

Di usianya yang masih sangat muda, posisi strategis sebagai Redaktur Pelaksana langsung diembannya. Kantor berita inilah yang nantinya berjasa besar dalam menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia ke seluruh penjuru dunia.

Pasca-proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, sinar terang karier politik Adam Malik semakin tak terbendung. Mewakili kelompok pemuda progresif, posisi Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) periode 1945-1947 sukses didudukinya.

baca juga

Lembaga ini memiliki peran sangat krusial dalam menyusun fondasi awal pemerintahan republik. Kinerja cemerlangnya kemudian membawa tokoh ini naik jabatan menjadi Ketua I KNIP.

Salah satu fragmen sejarah yang paling menarik dari perjalanan politik Adam Malik adalah kedekatan ideologisnya dengan Tan Malaka, tokoh revolusioner yang kerap disebut sebagai Bapak Republik Indonesia. Loyalitas ini dibuktikan lewat peran aktifnya dalam membantu Tan Malaka mendirikan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) pada tanggal 7 November 1948.

Meskipun Tan Malaka tewas tertembak beberapa bulan kemudian, perjuangan tidak lantas berhenti. Kepemimpinan Partai Murba langsung diambil alih guna memastikan eksistensi partai tersebut tetap terjaga hingga tahun 1956.

Puncak keberhasilan politik di era tersebut terbukti ketika kursi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) berhasil diraih pada Pemilihan Umum pertama Indonesia di tahun 1955.

baca juga

Taktik Cerdik Membangun ASEAN

Memasuki akhir tahun 1950-an, Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk wilayah Uni Soviet dan Polandia.

Kapasitas negosiasinya kembali diuji saat dipercaya menjadi Ketua Delegasi RI dalam perundingan pembebasan Irian Barat di Washington D.C. pada tahun 1962. Tangan dingin sang diplomat juga sukses membawa Indonesia kembali menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1966, serta menormalkan kembali hubungan bilateral dengan Malaysia yang sempat membeku akibat konfrontasi.

Namun, tinta emas terbesar yang dicetaknya untuk dunia terjadi pada 8 Agustus 1967. Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Luar Negeri RI, Adam Malik terbang ke Bangkok, Thailand.

Bersama empat menteri luar negeri lainnya Narciso Ramos (Filipina), Thanat Khoman (Thailand), Tun Abdul Razak (Malaysia), dan S. Rajaratnam (Singapura). Deklarasi Bangkok resmi ditandatangani. Peristiwa bersejarah inilah yang menjadi tonggak awal berdirinya ASEAN.

baca juga

Menyatukan negara-negara Asia Tenggara yang saat itu tengah dilanda kecurigaan dan konflik perbatasan bukanlah tugas mudah. Pendekatan kaku di ruang sidang formal sering kali berujung pada kebuntuan. Menyadari hal ini, sebuah taktik negosiasi non-formal yang unik pun diterapkan.

Berbagai perbedaan tajam antarnegara justru diselesaikan di lapangan golf melalui obrolan yang santai namun terarah. Gaya lobi luwes yang kelak dikenal luas dalam ilmu hubungan internasional sebagai "sports-shirt diplomacy" atau diplomasi kemeja olahraga ini terbukti sangat ampuh meredam ego masing-masing negara demi tercapainya stabilitas kawasan.

Setelah satu dekade memimpin Kementerian Luar Negeri, amanah sebagai Ketua DPR/MPR-RI diemban pada periode 1977—1978. Tidak lama berselang, tepatnya pada 23 Maret 1978, puncak pengabdian tertinggi pun diraih.

Adam Malik secara resmi dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-3, menggantikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Jabatan ini dipegang teguh hingga 11 Maret 1983.

baca juga

Perjalanan panjang sang pahlawan diplomasi akhirnya terhenti pada tanggal 5 September 1984 di Bandung, akibat penyakit kanker liver. Jenazahnya disemayamkan dengan penghormatan negara di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta.

Sebagai bentuk apresiasi atas segala jasa dan pengorbanannya, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden B.J. Habibie secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 1998.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.