Perjalanan pendidikan sejumlah wakil presiden Indonesia menunjukkan latar belakang akademik yang beragam, termasuk polemik yang sekarang sedang berlangsung. Namun, B.J. Habibie dan Boediono menonjol karena sama-sama menempuh pendidikan hingga tingkat doktoral di luar negeri.
Keduanya juga memiliki reputasi sebagai teknokrat dan akademisi yang kemudian memasuki pemerintahan. Berikut fakta menarik mengenai pendidikan, keahlian, serta perjalanan mereka hingga menjadi wakil presiden Republik Indonesia.
B.J. Habibie dan Perjalanan Akademiknya di Jerman
Bacharuddin Jusuf Habibie dikenal sebagai salah satu tokoh teknologi paling penting dalam sejarah Indonesia. Ketertarikannya terhadap bidang eksakta telah terlihat sejak masa sekolah.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Bandung, Habibie sempat menempuh pendidikan teknik di Universitas Indonesia Bandung, yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung.
Pada pertengahan 1950-an, Habibie melanjutkan pendidikan ke Rheinisch-WestfΓ€lische Technische Hochschule atau RWTH Aachen di Jerman. Di sana, ia mengambil bidang konstruksi pesawat terbang.
Perjalanannya di Aachen berlangsung sekitar satu dekade hingga akhirnya memperoleh gelar Diplom-Ingenieur pada 1960 dan gelar doktor pada 1965. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa doktoralnya ditempuh di bidang desain dan konstruksi pesawat terbang.
Yang membuat perjalanan akademik Habibie semakin istimewa adalah prestasinya. Ia memperoleh gelar doktor dengan predikat summa cum laude. Keahliannya kemudian berkembang melalui penelitian dan pekerjaan di industri penerbangan Jerman.
The Habibie Center mencatat bahwa ia sempat bekerja di perusahaan penerbangan Jerman dan mengembangkan keahlian dalam bidang struktur pesawat.
Dari Ilmuwan menjadi Wakil Presiden
Pendidikan Habibie tidak berhenti sebagai pencapaian akademik. Pengetahuannya menjadi dasar bagi perjalanan profesionalnya di industri penerbangan sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.
Setelah pulang ke tanah air, Habibie dipercaya menangani pengembangan teknologi nasional. Ia kemudian menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi sekaligus memimpin Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Ia juga mempunyai peran besar dalam pengembangan industri strategis nasional dan industri pesawat terbang Indonesia.
Pada 1998, Habibie dipilih menjadi wakil presiden mendampingi Soeharto. Masa jabatannya sebagai wakil presiden berlangsung singkat karena krisis politik 1998 membuat Soeharto mengundurkan diri. Habibie kemudian menggantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia yang ketiga.
Boediono, Ekonom yang Menempuh Pendidikan di Tiga Negara
Jika Habibie merupakan teknokrat di bidang teknologi penerbangan, Boediono dikenal sebagai teknokrat di bidang ekonomi. Perjalanan akademiknya juga sangat panjang dan melibatkan beberapa perguruan tinggi di Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat.
Boediono memulai pendidikan tingginya di Universitas Gadjah Mada. Ia kemudian memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi ke University of Western Australia.
Pada 1967, ia meraih Bachelor of Economics. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan master di Monash University dan memperoleh Master of Economics pada 1972.
Puncak pendidikan formalnya berlangsung di Wharton School, University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Pada 1979, Boediono memperoleh gelar doktor dalam bidang ekonomi.
Wharton sendiri mencatat Boediono sebagai alumnus program PhD dan kemudian menjadi salah satu alumninya yang dikenal luas sebagai pejabat publik Indonesia.
Menariknya, disertasi Boediono juga berkaitan langsung dengan persoalan ekonomi Indonesia. Disertasinya berjudul βEconometric Models of the Indonesian Economy for Short Run Policy Analysisβ, yang membahas pemodelan ekonometrik untuk analisis kebijakan ekonomi jangka pendek Indonesia.
Dari Akademisi hingga Wakil Presiden
Karier Boediono memperlihatkan bagaimana dunia akademik dan pemerintahan dapat berjalan beriringan. Ia lama berkiprah sebagai pengajar dan kemudian menjadi Guru Besar di Universitas Gadjah Mada.
Di pemerintahan, ia pernah dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk Menteri Keuangan, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, serta Gubernur Bank Indonesia.
Pada 2009, Boediono terpilih sebagai wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono. Ia menjabat untuk periode 2009β2014.
Latar belakang ekonominya membuatnya berperan sebagai salah satu figur teknokrat penting dalam pemerintahan tersebut. Wharton bahkan menyebutnya sebagai alumnus PhD yang kemudian menjadi wakil presiden Indonesia.
Apa yang Membuat Keduanya Istimewa?
Habibie dan Boediono sama-sama memiliki gelar doktor, tetapi bidang keilmuan mereka berbeda. Habibie menekuni teknik dan konstruksi pesawat, sedangkan Boediono mendalami ilmu ekonomi dan kebijakan ekonomi.
Gelar Doktor kedua wapres ini berbeda dengan gelar Doktor Honoris Causa yang dimiliki beberapa wapres lainnya. Status dari gelar Honoris Causa adalah penghargaan yang diberikan, bukan didapatkan dari hasil studi formal.
Habibie dan Boediono juga memiliki pengalaman akademik dan profesional internasional sebelum menduduki posisi tinggi dalam pemerintahan Indonesia.
Habibie membangun reputasi melalui dunia teknologi dan industri penerbangan di Jerman, sementara Boediono mengembangkan keahlian ekonomi melalui Australia dan Amerika Serikat.
Habibie memiliki gelar doktor di bidang teknik dari RWTH Aachen, sedangkan Boediono meraih PhD bidang ekonomi dari Wharton School. Keduanya menunjukkan bahwa perjalanan akademik yang panjang dapat menjadi fondasi penting bagi kiprah mereka sebagai teknokrat dan pemimpin nasional.
Pendidikan Habibie dan Boediono tidak perlu diragukan lagi apalagi sampai menjadi polemik nasional, karena rekam jejaknya tercatat secara resmi dan bisa dibuktikan dengan mudah.


