Banyak orang bermimpi tinggal di luar negeri, entah lewat beasiswa kuliah, kerja, atau program magang lewat LPK. Setelah bertahun-tahun hidup di negara orang, kita sering membayangkan pulang ke Indonesia terasa mudah dan menyenangkan.
Faktanya, banyak yang justru merasa asing di rumah sendiri. Pengalaman inilah yang disebut reverseculture shock, saat tanah lahir menjadi asing.
Apa Itu Reverse Culture Shock?
Reverse culture shock adalah pengalaman yang muncul ketika seseorang kembali ke budaya asalnya setelah lama tinggal di budaya lain. Tantangannya datang dari tiga sisi:
- Emosional. Kawan merindukan suasana dan teman-teman di negara sebelumnya, lalu merasa sendirian karena orang di sekitar sulit memahaminya.
- Sosial. Obrolan dengan teman lama terasa tidak nyambung. Mereka sibuk membahas tren dan kabar yang Kawan lewati, sementara cerita Kawan di luar negeri kadang dianggap pamer.
- Adaptasi. Kebiasaan sehari-hari ikut berubah. Kawan yang terbiasa naik kereta tepat waktu, sekarang harus terbiasa lagi dengan macet dan cuaca yang lebih panas.
Lalu apa bedanya dengan culture shock biasa? Culture shock terjadi saat Kawan masuk ke budaya baru dan sudah siap menghadapi hal asing.
Reverse culture shock terjadi saat Kawan masuk ke budaya yang dikira sudah sangat dikenal. Karena itu, rasa kagetnya sering datang tiba-tiba dan sulit disadari.
Kenapa Pulang Bisa Terasa Lebih Berat daripada Pergi?
Sebelum berangkat, orang biasanya sibuk menyiapkan banyak hal. Misalnya Kawan akan kuliah empat tahun di Jepang. Kawan belajar bahasa Jepang, menyiapkan baju untuk empat musim, dan mencari tahu cara hidup di sana.
Namun saat pulang, hampir tidak ada yang dipersiapkan. Kawan berharap rumah masih sama, padahal Kawan dan lingkungan sama-sama sudah berubah.
Lebih dari Sekadar Cuaca dan Lalu Lintas
Hal yang paling cepat terasa biasanya cuaca, lalu lintas, fasilitas umum, hingga budaya masyarakat antar kedua negara.
Ada juga hal yang lebih sulit dan terkadang berdampak pada psikologis, yaitu soal identitas. Kawan mungkin merasa sudah berubah cara berpikir, tapi lingkungan masih menganggap Kawan orang yang sama.
Empat Fase Reverse Culture Shock
Para peneliti menggambarkan perjalanan ini lewat W-Curve, model yang dibahas dalam Jurnal Widyatama. Bentuknya seperti huruf W, karena kita beradaptasi dua kali: saat berangkat dan saat pulang dan yang kedua inilah yang sering terasa lebih mengejutkan.
Honeymoon Phase
Fase di mana orang memiliki semangat dan rasa ingin tahu terhadap lingkungan barunya. Dalam fase ini, semua terasa menyenangkan. Misalnya, rasa semangat bertemu keluarga atau mencicipi makanan Indonesia lagi.
Frustration Phase (Reverse Culture Shock Begin)
Setelah euforia mereda, hal-hal kecil mulai menggangu. Kawan mulai sering membandingkan dengan negara sebelumnya. Fase ini paling sering muncul karena perbedaan budaya mulai terasa nyata di kehidupan sehari-hari.
Recovery Phase
Fase di mana Kawan mulai mencari cara untuk bangkit. Misalnya bergabung dengan komunitas alumni luar negeri, atau bercerita ke teman yang pernah mengalami hal serupa.
Adjustment Phase
Proses penyesuaian budaya yang menjadi pilihan terakhir yang diambil seseorang. Kawan menyesuaikan diri dengan budaya di sini tanpa harus membuang kebiasaan baik dari luar negeri.
Urutan dari keempat fase bisa berbeda di setiap orang.
Cara Mengatasi Reverse Culture Shock
Kawan tidak perlu menghadapinya sendirian. Ada tiga langkah sederhana yang bisa dicoba:
- Cari teman yang pernah pulang dari luar negeri, supaya ada tempat untuk bercerita.
- Pertahankan kebiasaan baik dari luar negeri sambil menyesuaikan diri dengan sekitar.
- Terima bahwa hari yang berat itu bagian dari proses.
Kalau rasa tidak nyamain ini sudah menganggu aktivitas dan sulit diatasi sendirian, Kawan boleh bicara dengan konselor atau psikolog.
Pulang ternyata tidak selalu sesederhana kembali ke tempat yang sama. Kalau Kawan pernah merasa asing di rumah sendiri, hal apa yang paling pertama terasa berbeda?

