Pernah mendengar kata bokap, nyokap, atau gokil? Kata-kata tersebut mungkin sudah akrab dalam percakapan sehari-hari. Namun, tahukah Kawan GNFI bahwa bahasa itu disebut dengan istilah bahasa prokem.
Bahasa prokem punya sejarah panjang dalam pergaulan anak muda Indonesia. Jauh sebelum media sosial melahirkan berbagai istilah gaul, bahasa prokem sudah populer di kalangan anak muda Jakarta sejak 1970-an. Ragam bahasa ini memiliki kosakata khas dan beberapa pola pembentukan kata yang menarik untuk ditelusuri.
Lalu, bagaimana sejarah bahasa prokem dan bagaimana cara pembentukan kata-katanya? Yuk, simak pembahasannya sampai habis!
Sejarah Bahasa Prokem di Indonesia
Bahasa prokem adalah ragam bahasa Indonesia tidak baku yang pernah populer di Jakarta pada periode 1970-an. Salah satu cirinya terlihat dari cara penutur mengolah kata yang sudah ada menjadi bentuk baru dengan bunyi yang khas.
Pada awalnya, ragam bahasa ini digunakan oleh kelompok yang terlibat dalam aktivitas kriminal. Kosakata yang menjadi bagian dari komunikasi mereka kemudian mulai dikenal oleh orang-orang di luar kelompok tersebut.
Penggunaannya perlahan meluas ketika anak muda mulai mengadopsi istilah-istilah tersebut dalam pergaulan. Remaja yang tidak lagi bersekolah, termasuk kelompok yang pada masa itu dikenal dengan sebutan crossboy, turut menggunakan bahasa prokem. Kebiasaan ini kemudian menyebar ke kalangan pelajar sekolah menengah hingga mahasiswa.
Popularitasnya turut berkembang melalui budaya populer. Novel Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha yang terbit pada 1977 dan sandiwara radio Catatan Si Boy pada 1985 menjadi bagian dari karya populer yang ikut memperkenalkan kosakata prokem kepada masyarakat. Kehadiran bahasa tersebut dalam cerita tentang kehidupan anak muda membuatnya semakin dekat dengan percakapan sehari-hari.
Bagaimana Cara Membentuk Bahasa Prokem?
Salah satu hal menarik dari bahasa prokem adalah proses pembentukan katanya. Tidak semua kosakata memiliki pola yang sama, ada yang disisipi huruf tertentu hingga ada yang berasal dari gabungan kata. Berikut beberapa contoh penggunaanya.
1. Menyisipkan Unsur -ok-
Salah satu ciri awal bahasa prokem adalah penyisipan unsur -ok- pada kata yang telah dipendekkan. Setiap kata diambil suku kata pertama dan huruf pertama dari suku kata selanjutnya. Contoh kata bapak yang dipotong menjadi bap, kemudian disisipi -ok- hingga membentuk kata bokap. Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:
- Bapak → bap → b-ok-ap → bokap.
- Preman → prem → pr-ok-em → prokem.
- Gila → gil → g-ok-il → gokil
Kata prokem sendiri diduga berasal dari kata preman yang mengalami proses pembentukan serupa. Pola ini menjadi salah satu ciri khas bahasa prokem pada masa awal perkembangannya.
2. Membentuk Kata dari Gabungan Beberapa Kata
Selanjutnya yaitu dengan cara dibentuk melalui penggabungan bagian dari dua kata atau lebih. Bentuk seperti ini membuat istilah menjadi lebih ringkas dan mudah digunakan dalam percakapan. Beberapa contohnya adalah
- Dugem, dari dunia gemerlap.
- Curhat, dari curahan hati.
- Jadul, dari zaman dahulu.
3. Menggunakan Singkatan
Cara lainnya adalah membentuk istilah melalui singkatan. Pola kata ini menggunakan huruf atau bagian tertentu dari suatu frasa untuk menghasilkan bentuk yang lebih ringkas. Beberapa contohnya sebagai berikut.
- BTW dari by the way, yang berarti ngomong-ngomong.
- JJS dari jalan-jalan sore.
- STW dari setengah tua.
- GJ dari enggak jelas.
4. Membalik Susunan Bunyi atau Suku Kata
Ada pula kosakata prokem yang dibentuk dengan membalik susunan bunyi atau suku kata. Proses ini dikenal sebagai metatesis. Contohnya sebagai berikut.
- Gue menjadi eug.
- Bisa menjadi sabi.
Bahasa Prokem dan Perkembangan Bahasa Indonesia
Bahasa prokem yang dikenal sejak puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa cara anak muda berkomunikasi terus berubah. Beberapa istilahnya masih sering digunakan sampai sekarang, seperti bokap dan gokil. Ada juga kosakata yang mulai jarang terdengar karena munculnya istilah baru dalam pergaulan.
Menariknya, kata-kata yang awalnya digunakan dalam percakapan informal bisa semakin dikenal oleh masyarakat luas, bahkan masuk ke dalam kamus. Perjalanan bahasa prokem menjadi salah satu contoh bagaimana kebiasaan berbahasa dalam pergaulan ikut mewarnai perkembangan bahasa Indonesia.


