Ada suara yang tak terdengar telinga manusia, tetapi bisa membawa cerita tentang apa yang terjadi jauh di bawah permukaan laut.
Getaran itu berasal dari pergerakan bumi, aktivitas gunung api, hingga berbagai gangguan di bawah perairan.
Masalahnya, ketika sumber informasi berada di dasar laut, peneliti tidak bisa begitu saja datang dan memasang alat seperti di daratan. Karena itu, tim peneliti Indonesia mencoba membuat “telinga” yang bisa ditempatkan langsung di bawah air.
1. Mengapa Dasar Laut Perlu “Didengar”?
Indonesia hidup berdampingan dengan laut sekaligus aktivitas tektonik. Banyak sumber gempa berada di bawah atau dekat dasar laut. Ketika terjadi perubahan mendadak pada dasar laut, peristiwa tersebut bahkan dapat menjadi salah satu pemicu tsunami.
Kompas.com menjelaskan, gempa bawah laut dapat mengubah posisi dasar laut secara tiba-tiba dan memindahkan massa air sehingga berpotensi memicu tsunami. Namun, tidak setiap gempa bawah laut otomatis menghasilkan tsunami.
Di sinilah pengamatan dasar laut menjadi penting. Semakin banyak data yang dapat direkam secara langsung, semakin banyak pula informasi yang bisa digunakan untuk memahami aktivitas seismik dan kondisi bawah permukaan.
2. Ketika Sensor Diturunkan ke Dasar Perairan
Upaya itu sedang dilakukan tim Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada melalui pengembangan Prameya, singkatan dari Perangkat Rekam Aktivitas Mikroseismik dan Ekspedisi Yudha Akuatik. Bersama PT Pertamina Hulu Energi melalui program Upstream Innovation dan PT Elnusa Tbk., tim UGM menguji perangkat tersebut di Waduk Saguling, Jawa Barat, pada 28–29 September 2026.
UGM menjelaskan, Prameya merupakan shallow water ocean bottom seismometer (OBS), yakni sensor getaran yang dirancang ditempatkan di dasar perairan untuk merekam aktivitas seismik. Perangkat ini ditargetkan mampu beroperasi hingga kedalaman 100 meter.
Menariknya, Prameya tidak hanya dirancang untuk merekam getaran. Perangkat tersebut juga dilengkapi kamera dan lampu agar peneliti dapat mengetahui kondisi alat ketika berada di dasar perairan.
Dengan kata lain, peneliti tidak sekadar ingin tahu apakah bumi bergerak. Mereka juga ingin tahu bagaimana perangkat bekerja ketika ditempatkan di lingkungan yang jauh lebih sulit daripada daratan.
3. Bukan Sekadar “Mendengar” Gempa
Istilah “mendengar” dalam konteks ini memang sebuah metafora. Prameya bekerja dengan merekam getaran seismik, bukan mendengarkan suara seperti manusia. Namun, prinsip memanfaatkan gelombang untuk membaca kondisi bawah laut bukan hal baru dalam riset kelautan Indonesia.
Akustik bawah air, misalnya, dapat digunakan untuk mengenali karakteristik dasar laut melalui pantulan gelombang suara. Dalam pelatihan akustik kelautan, IPB University menjelaskan bahwa kekuatan pantulan balik dari dasar laut dapat membantu mengidentifikasi topografi serta jenis sedimen.
Penelitian lain juga menunjukkan bagaimana teknologi side scan sonar dapat digunakan untuk mendeteksi objek di dasar laut. Artinya, suara dan getaran dapat menjadi “bahasa” yang membantu manusia membaca wilayah yang sulit dilihat secara langsung.
4. Dari Mitigasi Bencana hingga Aktivitas Bawah Laut
Lantas, untuk apa semua data tersebut? Menurut UGM, pengembangan Prameya tidak hanya ditujukan untuk pemantauan gempa. Sensor tersebut berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan karena pada dasarnya dirancang sebagai sensor getaran.
Aplikasinya dapat mencakup pemantauan aktivitas gempa, gunung api bawah laut, eksplorasi, hingga mendeteksi aktivitas kapal. Potensi tersebut penting bagi Indonesia yang wilayah lautnya sangat luas. Semakin baik kemampuan mengamati apa yang terjadi di bawah permukaan, semakin banyak pula keputusan yang dapat dibuat berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan.
5. Tantangannya Justru Ada di Bawah Air
Membuat sensor untuk dasar laut tentu bukan perkara memasukkan alat elektronik ke dalam wadah kedap air lalu menurunkannya. Tekanan air, kelembapan, suhu, proses pemasangan, komunikasi data, hingga ketahanan perangkat menjadi tantangan tersendiri.
Pengujian Prameya di Saguling bahkan belum menjadi akhir. UGM menyebutkan, satu komponen sensor masih perlu diperbaiki dan pengujian berikutnya direncanakan dilakukan di laut lepas pada November 2026, di wilayah kerja Pertamina Hulu Kalimantan Timur.
Perangkat tersebut memiliki bobot sekitar 70 kilogram sehingga proses penurunan dari kapal juga membutuhkan crane. Di titik ini, inovasi bukan lagi sekadar soal membuat alat yang bisa bekerja di laboratorium. Tantangannya adalah membuatnya tetap bekerja ketika berhadapan dengan laut yang sesungguhnya.
6. Ketika Indonesia Mulai Memasang “Telinga” di Dasar Laut
Pengembangan sensor bawah air menunjukkan satu hal sederhana: sebagian besar informasi tentang laut justru berada di tempat yang tidak mudah kita lihat. Di permukaan, laut mungkin tampak tenang. Namun, jauh di bawahnya, bumi terus bergerak, sedimen berpindah, kapal melintas, dan aktivitas geologi berlangsung tanpa suara yang dapat kita dengar.
Kini, periset Indonesia mencoba mendekatkan teknologi kepada sumber informasi tersebut. Sebab, untuk memahami laut, terkadang kita tidak perlu memaksanya berbicara. Kita hanya perlu memiliki alat yang cukup peka untuk mendengarkan.

