Bayangkan seorang anak berusia lima tahun duduk di depan lembar kerja, berusaha meniru huruf demi huruf. Sementara itu, di luar kelas teman-temannya sedang bermain, bergerak, dan mengeksplorasi lingkungan. Ia memang tampak sedang belajar.
Namun, satu pertanyaan patut diajukan: apakah cara belajar tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhannya?
Pertanyaan ini penting karena anak usia dini bukanlah “miniatur” anak sekolah dasar. Mereka belajar melalui bermain, bergerak, mencoba, bertanya, dan berinteraksi dengan lingkungan. Karena itu, pendidikan anak usia dini semestinya tidak hanya mengejar seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, atau berhitung, tetapi juga memastikan mereka tumbuh dan belajar sesuai tahap perkembangannya.
Di tengah tuntutan akademik yang semakin kuat, gagasan Developmentally Appropriate Practice (DAP) menjadi penting untuk kembali diperbincangkan.

Ketika Anak Tidak Perlu Tergesa
Di banyak lingkungan pendidikan, keberhasilan PAUD masih sering dikaitkan dengan kemampuan anak menguasai baca, tulis, dan hitung. Anak yang lebih cepat membaca atau menulis terkadang dianggap lebih siap dibandingkan anak yang masih senang bermain, menggambar, atau bertanya.
Padahal, persoalannya bukan apakah anak boleh belajar membaca, menulis, dan berhitung. Tentu saja kemampuan tersebut penting. Yang perlu diperhatikan adalah kapan dan bagaimana kemampuan itu diperkenalkan.
Ketika tuntutan akademik diberikan terlalu dini dan terlalu kuat, ruang anak untuk bermain, bereksplorasi, dan belajar sesuai tahap perkembangannya dapat berkurang.
DAP, yang dikembangkan oleh National Association for the Education of Young Children (NAEYC), menawarkan cara pandang yang berbeda. DAP menekankan bahwa keputusan pembelajaran perlu mempertimbangkan tahap perkembangan anak, keunikan setiap individu, serta lingkungan sosial dan budaya tempat anak tumbuh.
DAP bukanlah kurikulum yang harus diterapkan dengan cara yang sama di setiap lembaga. DAP lebih tepat dipahami sebagai kerangka berpikir guru dalam mengambil keputusan pembelajaran. Karena itu, guru tidak cukup bertanya, “Apa yang harus diajarkan?” Guru juga perlu bertanya, “Apakah cara mengajarkannya sesuai dengan anak yang ada di hadapan saya?”

Setiap Anak Memiliki Jalannya Sendiri
Anak-anak dalam satu kelas mungkin berada pada rentang usia yang sama, tetapi perkembangan mereka tidak pernah benar-benar seragam. Ada anak yang cepat berbicara, tetapi masih membutuhkan bantuan dalam mengelola emosi.
Ada yang sangat aktif bergerak, tetapi mampu menyelesaikan masalah dengan kreatif. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman berinteraksi dengan teman.
Karena itu, pembelajaran tidak dapat menggunakan satu cara untuk semua anak. Guru perlu mengamati kemampuan, minat, pengalaman, dan kebutuhan setiap anak. Dari pengamatan tersebut, guru dapat menentukan tantangan dan dukungan yang sesuai.
Misalnya, ketika mengembangkan kemampuan menulis anak usia 4–5 tahun, guru tidak harus langsung meminta anak menyalin huruf di buku. Anak dapat terlebih dahulu menguatkan motorik halus melalui kegiatan meronce, bermain plastisin, merobek kertas, finger painting, atau menggambar.
Setelah anak semakin siap, pengalaman menulis diberikan secara bertahap, mulai dari membuat garis dan bentuk hingga menulis huruf atau namanya.
Di sinilah makna penting DAP: bukan menurunkan harapan kepada anak, melainkan menyesuaikan jalan agar anak dapat mencapai tujuan sesuai tahap perkembangannya. Guru tetap memiliki tujuan pembelajaran. Namun, cara mencapainya tidak dipaksakan secara seragam.
Bermain Bukan Berarti Tidak Belajar
Salah satu kesalahpahaman yang masih muncul adalah anggapan bahwa bermain merupakan kegiatan tambahan, sedangkan belajar yang sesungguhnya harus dilakukan melalui lembar kerja. Padahal, bagi anak usia dini, bermain justru merupakan salah satu jalan utama untuk belajar.
Ketika anak menyusun balok, ia belajar memecahkan masalah. Ketika bermain bersama teman, ia belajar berbagi, bekerja sama, dan menunggu giliran. Ketika menggambar, ia mengembangkan imajinasi dan koordinasi. Ketika bertanya tentang sesuatu yang dilihatnya, ia sedang membangun pengetahuan.
Pembelajaran PAUD karena itu perlu berlangsung secara holistik. Nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni tidak seharusnya dipandang sebagai bagian yang terpisah-pisah.
Anak dapat diberi pilihan, tetapi tetap belajar bertanggung jawab. Anak dapat bermain, tetapi tetap belajar menghormati orang lain. Anak dapat bereksplorasi, tetapi tetap mendapatkan bimbingan dari guru. Dengan demikian, pendidikan yang berpihak pada anak bukan berarti pendidikan tanpa batas atau tanpa nilai.

Guru Perlu Terus Membaca Anak
Penerapan DAP menempatkan guru bukan sekadar sebagai penyampai materi, tetapi sebagai pengamat, perancang pengalaman belajar, pendamping, dan reflektor.
Guru perlu terus membaca perkembangan anak: apa yang sudah mampu dilakukan, apa yang masih membutuhkan bantuan, apa yang menarik minatnya, dan bagaimana pengalaman di rumah maupun lingkungan sosial memengaruhi proses belajarnya.
Karena itu, penerapan DAP tidak berhenti pada kegiatan di kelas. Setelah pembelajaran berlangsung, guru perlu melakukan refleksi: apakah kegiatan tersebut sesuai dengan kebutuhan anak? Apakah dukungan yang diberikan sudah tepat? Apa yang perlu diperbaiki?
Tentu saja, pekerjaan ini tidak mudah. Guru dapat menghadapi tuntutan orang tua, keterbatasan fasilitas, maupun budaya sekolah yang masih menempatkan kemampuan akademik sebagai ukuran utama keberhasilan PAUD.
Karena itu, DAP bukan hanya tanggung jawab guru. Sekolah, orang tua, dan pemangku kebijakan perlu memiliki pemahaman yang sama bahwa pendidikan anak usia dini tidak semestinya menjadi perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat membaca, menulis, atau berhitung.
Jangan Membuat Anak Tergesa menjadi Dewasa
Barangkali persoalan pendidikan anak usia dini bukan karena kita ingin anak belajar terlalu banyak, melainkan karena kita ingin mereka terlalu cepat menjadi sesuatu yang belum waktunya. Anak membutuhkan ruang untuk mencoba dan gagal. Ia membutuhkan kesempatan untuk bertanya tanpa takut salah. Ia membutuhkan permainan yang membuatnya bergerak, berpikir, berinteraksi, dan menemukan sesuatu.
DAP mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana: setiap anak tumbuh dengan cara dan kecepatannya sendiri. Maka, ukuran keberhasilan PAUD tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak pengetahuan yang telah dikuasai anak. Kita juga perlu bertanya: apakah anak merasa aman? Apakah ia berani mencoba? Apakah rasa ingin tahunya tumbuh? Apakah ia mampu bekerja sama? Dan yang tidak kalah penting, apakah ia masih menikmati proses belajar?
Sebab pendidikan yang baik bukan pendidikan yang membuat anak terburu-buru sampai pada tujuan. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tahu kapan harus mendorong, kapan harus mendampingi, dan kapan harus memberi anak waktu untuk tumbuh.
Anak-anak tidak sedang terlambat. Kitalah yang mungkin terlalu tergesa.


