Saat sedang jalan pagi di tengah cuaca yang hangat, Kawan GNFI mungkin tak sengaja melihat sekelebat warna hijau cerah bergelayut tenang di antara ranting pohon. Jangan terburu-buru menangkap apalagi membunuhnya, itu barangkali ular pucuk atau si Ahaetulla prasina.
Hewan bertubuh kecil dan ramping ini kerap dianggap berbahaya, padahal kehadiran reptil ini justru memegang peran sebagai penyeimbang rantai makanan di alam.
Mari kita kenali lebih dalam salah satu spesies reptil kecil si ular pucuk yang sering ditakuti ini, agar Kawan GNFI bisa membedakannya dari spesies lain yang serupa serta tahu reaksi terbaik saat berpapasan dengannya.
Berwarna Hijau Menyala, Apa Itu Ular Pucuk Sebenarnya?

Ular Pucuk (Ahaetulla prasina): Makanan dan Ciri Tubuhnya | Wikimedia Commons @W.A. Djatmiko
Ular pucuk memiliki nama ilmiah Ahaetulla prasina dan dikenal sebagai reptil arboreal (hidup di pepohonan) yang sangat mahir berkamuflase. Laman IPB University menjelaskan bahwa ciri fisiknya yang paling menonjol adalah bentuk tubuhnya yang sangat ramping dan panjang dengan dominasi warna hijau cerah menyala yang membantu proses kamuflase di antara dedaunan.
Selain itu, menurut Orangutan Foundation, bagian kepala ular pucuk memiliki bentuk lancip memanjang menyerupai anak panah.
Meskipun identik dengan sebutan ular pucuk hijau, variasi warna reptil ini sebenarnya menyesuaikan habitatnya. Taman Kehati Aqua Klaten berbagi melalui media sosialnya bahwa di beberapa lokasi, Ahaetulla prasina juga memiliki variasi warna mulai dari hijau muda, cokelat, hingga kekuningan.
Kawan GNFI dapat dengan mudah menjumpai ular pucuk di area pepohonan, semak-semak, hingga kebun warga di wilayah tropis Asia Tenggara, termasuk seluruh kepulauan Indonesia. Ular ini tergolong hewan diurnal yang aktif bergerak dan berburu pada siang hari.
Menurut Mongabay Indonesia, di Indonesia terdapat tiga jenis utama ular dari genus ini, yaitu Ahaetulla prasina, Ahaetulla mycterizans, dan Ahaetulla fasciolata.
Apa Makanan Ular Pucuk?

Makanan Ular Pucuk dan Bagaimana Sebaran Populasi Ahaetulla prasina di Indonesia | Wikimedia Commons @Greg Hume
Banyak yang bertanya-tanya ular pucuk makan apa di habitat aslinya. Mengingat ukuran tubuh yang terbilang kecil dan ramping, hanya sekitar 1 hingga 2 meter menurut laman Biodiversitas Indonesia, porsi makanan Ahaetulla prasina menyesuaikan dengan kapasitas rahangnya.
Reptil ini memangsa hewan-hewan berukuran lebih kecil yang ada di sekitarnya. Menurut Orangutan Foundationdan studi IPB University, menu makanan utamanya mencakup burung-burung kecil, katak pohon, cicak, bunglon, kadal, hingga sesekali memangsa jenis ular lain yang berukuran lebih kecil darinya.
Bagaimana Populasi Ular Pucuk di Indonesia?
Sejauh ini, keberadaan Ahaetulla prasina membentang luas mulai dari Bangladesh, Myanmar, China bagian selatan, hingga ke seluruh pelosok Indonesia. Berdasarkan data konservasi internasional IUCN Red List, status populasinya tergolong stabil dan masuk dalam kategori Least Concern (Risiko Rendah). Hal ini mengindikasikan bahwa wilayah Indonesia masih menjadi habitat asli yang mendukung kelangsungan hidup mereka.
Meskipun populasinya masih terjaga, habitat utamanya seperti hutan, semak belukar, hingga kawasan vegetasi buatan harus tetap dirawat. Kawan GNFI diimbau tidak langsung membunuh ular ini saat berpapasan.
Dalam rantai makanan, ular bertindak sebagai pengendali hama alami sekaligus menjadi sumber pakan bagi burung-burung pemangsa berukuran besar seperti elang yang kini keberadaannya mulai langka. Jadi, melestarikan mereka sama saja menjaga rantai makanan tetap stabil!
Apakah Ular Pucuk Berbisa dan Berbahaya Bagi Manusia?

Apakah Ular Pucuk Berbisa dan Berbahaya Bagi Manusia? | Wikimedia Commons @Brown R dkk.
Pertanyaan yang paling sering muncul di kalangan masyarakat adalah mengenai apakah ular pucuk berbisa atau tidak. Jawabannya adalah ya, ia memiliki bisa, tetapi tergolong berbisa ringan (low-venomous).
IPB University menegaskan bahwa kadar bisanya tidak berbahaya bagi manusia dan hanya berfungsi untuk melumpuhkan mangsa kecil yang menjadi makanannya. Jadi, jika Kawan GNFI khawatir apakah ular pucuk hijau berbisa dan mematikan, jawabannya adalah ia kemungkinan tidak berdampak fatal pada keselamatan jiwa manusia.
Meskipun demikian, bisa ular belum tentu tidak menimbulkan efek samping. Jika tidak sengaja tergigit, ada baiknya Kawan GNFI tetap memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan pembersihan luka yang tepat.
Kawan GNFI juga perlu ekstra cermat membedakan ular pucuk dengan ular hijau ekor merah (Trimeresurus insularis). Meski sama-sama berwarna hijau dan mungkin tidak seberbahaya bisa ular kobra, portal informasi seperti Pemkab Gunungkidul tetap mengimbau agar kita berhati-hati karena gigitan Trimeresurus insularis tetap memiliki kandungan hemotoksin yang bisa membuat aktivitas terganggu.
Selain pergi ke unit kesehatan terdekat, hindari mencoba mengobati luka gigitan ular pucuk maupun ular hijau dengan obat tradisional ya, Kawan. Alangkah lebih baik langsung menuju ke ahlinya agar penanganan lebih cepat dan rasa tidak nyaman bisa dihindari!
Mitos Ular Pucuk atau Ular Hijau yang Masih Dipercaya Masyarakat

Mitos Ular Pucuk atau Ular Hijau yang Masih Dipercaya Masyarakat | Wikimedia Commons @Andry Harmony
Dikutip dari penelitian Tyas dan Baharudin (2015), sebagian besar masyarakat masih terbelenggu oleh mitos seputar ular. Berikut adalah fakta sains untuk menjawab mitos-mitos tersebut:
Mitos: Ular masuk rumah menandakan adanya ancaman dari orang jahat.
Fakta: Ular masuk ke permukiman warga murni karena habitat aslinya terganggu atau sedang mencari tempat hangat untuk menstabilkan suhu tubuhnya. Sebagai hewan berdarah dingin (poikiloterm), ular membutuhkan suhu hangat, terutama saat musim hujan.
Mitos: Ular dapat memanggil atau mengundang teman-temannya untuk ikut masuk ke rumah.
Fakta: Ular tidak memiliki kemampuan berkomunikasi untuk memanggil kawannya. Gaya hidup ular bersifat soliter dan nomaden (pindah-pindah). Bahkan, ular tidak bisa mendengar dan lebih mengandalkan lidah untuk mendeteksi gerakan di sekitarnya. Jadi saat bertemu ular, Kawan bisa mencoba untuk tenang dan jangan membuat gerakan mendadak.
Mitos: Semua ular berbisa dan jika tergigit pasti berujung pada kematian.
Fakta: Tidak semua spesies ular berbisa. Tingkatan bisa ular juga bervariasi dari tingkat ringan, menengah, hingga tinggi. Jenis ular pucuk sendiri memiliki bisa dengan golongan rendah.
Meski Populasinya Stabil, Kita Perlu Tetap Merawat Habitatnya
Walaupun IUCN Red List mencatat keberadaan ular pucuk masih melimpah dari Asia Selatan hingga Indonesia, ancaman alih fungsi lahan dapat menurunkan populasi mereka secara drastis di masa depan.
Menjaga kelestarian lingkungan serta tidak langsung membunuh ular saat berpapasan dengan mereka bisa menjadi tindakan nyata yang bisa kita lakukan untuk menjaga populasi mereka tetap stabil. Dengan membiarkan mereka hidup di habitatnya, rantai makanan dan ekosistem lingkungan Nusantara pun akan tetap seimbang.
Yuk, terus perkaya wawasan Kawan GNFI mengenai keanekaragaman hayati dan keajaiban alam Indonesia! Dapatkan berbagai kisah inspiratif dan informasi edukatif seputar kekayaan Nusantara lainnya hanya di Good News From Indonesia.


