Indonesia kaya akan ragam jenis sapi lokal yang berkembang di berbagai daerah. Dua di antaranya adalah sapi Bali dan sapi Bima yang berasal dari wilayah berbeda dan memiliki karakteristik tersendiri.
Sekilas, keduanya mungkin terlihat mirip. Namun, sapi Bali dan sapi Bima memiliki sejumlah perbedaan yang dapat dikenali, mulai dari asal-usul, cara pemeliharaan, ciri fisik, hingga karakteristik dagingnya.
Lantas, apa saja perbedaan sapi Bali dan sapi Bima? Yuk, simak pembahasan selengkapnya, Kawan GNFI!
Berasal dari Daerah yang Berbeda
Sapi Bali merupakan salah satu sapi lokal asli Indonesia yang berasal dari domestikasi banteng liar atau Bos javanicus. Jenis sapi ini pertama kali dikembangkan di Pulau Bali dan kemudian menyebar serta banyak dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia.
Sementara itu, sapi Bima merupakan sapi lokal yang berkembang di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat. Sapi Bima banyak dipelihara oleh masyarakat setempat dan sudah terbiasa dengan kondisi lingkungan di wilayah tersebut.
Cara pemeliharaan keduanya juga memiliki perbedaan. Sapi Bali dapat dipelihara oleh peternak, sedangkan sapi Bima umumnya dibiarkan hidup lebih bebas dan mencari makan sendiri di lingkungannya.
Sebelum dipasarkan, sapi Bima biasanya kembali dipelihara selama sekitar satu hingga dua bulan. Masa tersebut digunakan untuk memperbaiki bobot dan pola makannya sebelum dijual.
Dalam pemeliharaannya, sapi Bima juga dikenal lebih mudah diurus karena kotorannya cenderung tidak terlalu berbau.
Ciri Fisik Sapi Bali dan Sapi Bima
Perbedaan sapi Bali dan sapi Bima paling mudah terlihat dari ciri fisiknya. Sapi Bali memiliki warna tubuh cokelat kemerahan. Pada sapi jantan dewasa, warna tersebut dapat berubah menjadi hitam. Ciri khas lainnya adalah bagian kaki yang berwarna putih serta bagian pantat berwarna putih yang membentuk pola seperti cermin.
Tubuh sapi Bali juga cenderung kompak dengan bentuk yang relatif seragam. Sapi Bali dewasa dapat memiliki bobot sekitar 300 hingga 400 kilogram.
Berbeda dengan sapi Bali, sapi Bima berwarna yang lebih beragam, mulai dari cokelat tua hingga kehitaman. Sapi ini tidak memiliki pola putih khas pada bagian kaki dan pantat seperti sapi Bali.
Bentuk tubuh sapi Bima juga lebih bervariasi. Ukurannya dapat dipengaruhi oleh pakan dan perawatan yang diterimanya. Karena itu, warna tubuh serta pola putih pada bagian kaki dan pantat dapat menjadi petunjuk untuk membedakan sapi Bali dari sapi Bima.
Sama-Sama Memiliki Daging yang Padat
Selain dari tampilan fisik, kedua sapi ini juga memiliki karakteristik daging yang cukup dikenal unggul.
Sapi Bali memiliki tulang yang relatif kecil dengan daging yang padat. Kondisi tersebut membuat bagian daging yang dihasilkan cukup banyak dibandingkan ukuran tulangnya, sehingga sapi Bali banyak digunakan sebagai sapi pedaging dan hewan kurban.
Sapi Bima juga dikenal memiliki daging yang padat. Pola pemeliharaan yang lebih bebas dan kebiasaan sapi mencari makan sendiri menjadi salah satu karakteristik yang membedakannya dari sapi yang dipelihara secara intensif.
Meski begitu, karakteristik daging sapi juga berkaitan dengan kondisi pemeliharaannya. Pakan, bobot tubuh, serta masa penggemukan sebelum sapi dijual dapat memengaruhi kondisi daging yang dihasilkan.
Dengan karakteristik tersebut, sapi Bali dan sapi Bima sama-sama memiliki tempat di pasar hewan kurban. Perbedaannya dapat dikenali dari asal-usul, cara pemeliharaan, ciri fisik, serta karakteristik dagingnya.
Jadi, kalau Kawan GNFI menemukan sapi berwarna cokelat dengan kaki dan pantat berwarna putih, kemungkinan besar yang dilihat adalah sapi Bali. Sementara sapi dengan warna yang lebih beragam dan tanpa pola putih khas tersebut dapat merupakan sapi Bima.


