Bayangkan ada seorang ibu, rela mengubah rute perjalanan agar anaknya bisa bermain bersama teman sebaya. Perilaku serupa ternyata ditemukan pada orang utan Kalimantan yang hidup liar di hutan Tuanan, Kalimantan Tengah.
Orang utan selama ini dikenal sebagai primata yang cenderung hidup menyendiri. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa induk orang utan tidak selalu bergerak hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Mereka juga mempertimbangkan kesempatan bagi anaknya untuk bertemu dan bermain dengan orang utan muda lainnya.
Temuan ini terungkap melalui penelitian selama 15 tahun yang hasilnya diterbitkan pada 6 Oktober 2026 dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Penelitian tersebut berjudul βMaternal ranging strategies facilitate offspring social play at energetic cost in the most solitary apeβ.
32.000 Jam Pengamatan
Untuk memahami perilaku tersebut, para peneliti mengumpulkan sekitar 32.000 jam pengamatan terhadap 31 pasangan induk dan anak orang utan liar. Pengamatan ini membantu mereka mempelajari hubungan antara pergerakan induk dan kesempatan anaknya untuk bermain dengan orang utan muda lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk orang utan dapat mengarahkan perjalanan menuju lokasi yang memungkinkan anaknya bertemu individu lain. Artinya, pergerakan mereka tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan mencari makanan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk bersosialisasi.
Keputusan ini tentu memiliki konsekuensi. Berpindah tempat di hutan tropis membutuhkan energi, terutama bagi orang utan yang harus bergerak di antara pepohonan. Ketika induk mengubah arah perjalanan demi membuka peluang interaksi bagi anaknya, mereka menghadapi biaya energi tambahan.
Meski demikian, kesempatan bermain tidak selalu tersedia. Para peneliti mencatat bahwa aktivitas tersebut hanya terjadi pada sekitar 6 persen hari pengamatan. Ketika anak orang utan berhasil mendapatkan kesempatan bermain, interaksi mereka berlangsung rata-rata selama 20 menit.
Durasi itu memang relatif singkat. Namun, bagi orang utan yang cenderung hidup menyendiri, pertemuan dengan individu seusianya merupakan kesempatan sosial yang tidak selalu mudah diperoleh.
Bermain Membantu Anak Belajar
Interaksi dengan teman sebaya berpotensi membantu anak orang utan melatih kemampuan bergerak sekaligus mengenali perilaku sosial.
Saat bermain, mereka dapat melakukan berbagai aktivitas fisik, seperti bergulat dan bergelantungan di antara pepohonan. Interaksi tersebut memberi mereka kesempatan untuk beraktivitas bersama individu lain di luar hubungan dengan induknya.
Proses tumbuh kembang orang utan sendiri berlangsung selama bertahun-tahun. Anak bergantung kepada induknya untuk mempelajari keterampilan yang dibutuhkan agar dapat bertahan hidup di hutan, mulai dari mengenali sumber makanan hingga berpindah di antara pepohonan.
Dalam proses panjang tersebut, kesempatan berinteraksi dengan orang utan muda lainnya menjadi aspek menarik untuk memahami perkembangan sosial mereka.Β
Mirip Playdate pada Manusia
Perilaku induk orang utan ini mengingatkan pada playdate, istilah yang digunakan untuk menggambarkan pertemuan anak-anak agar bisa bermain bersama. Pada manusia, kesempatan tersebut biasanya diatur oleh orang tua agar anak dapat berinteraksi dengan teman sebaya.
Meski demikian, istilah playdate dalam konteks orang utan merupakan analogi untuk memudahkan pemahaman. Penelitian ini tidak berarti bahwa induk orang utan merencanakan jadwal bermain seperti manusia.


