Bagi Kawan yang aktif di media sosial, barangkali tidak asing dengan guyonan di mana netizen berterima kasih kepada orang yang baru mencuci mobil, apalagi jika menambahkan wax, karena "ritual" ini dinilai memicu hujan turun lebih deras yang bisa membuat kabut asap berkurang.
Di tengah kondisi udara saat ini, benarkah hujan bisa menghilangkan kabut asap? Memangnya bagaimana hujan bantu bersihkan partikel kabut asap itu? Mari temukan bersama jawabannya melalui artikel ini.
Apakah Hujan Bisa Menghilangkan Kabut Asap?
Seperti yang disinggung salah satu tulisan Media Center Provinsi Riau, datangnya hujan tidak langsung menjamin daerah yang terdampak kabut asap bisa terbebas dari kepungan asap tersebut.
Menurut Science Centre Singapore, rintik air hujan memang dapat mengurangi konsentrasi atau kepekatan kabut asap dengan menangkap partikel asap bersamaan dengan jatuhnya tetesan hujan ke tanah. Namun, intensitas hujan menjadi faktor penentu efektivitasnya. Hujan yang semakin deras semakin membantu membersihkan partikel asap di udara.
Meski begitu, teknologi seperti hujan buatan atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memang banyak dipakai pemerintah untuk menangani karhutla sekaligus dampak kabut asap yang ditimbulkan.
Syaifullah (2014) menjelaskan bahwa harapannya turunnya hujan di area yang mengalami kebakaran maupun di sekitarnya bisa membantu memadamkan sejumlah hotspot dan membuat kabut asap lebih tipis. Dari situ, kualitas jarak pandang yang kerap mengganggu aktivitas penerbangan dan kesehatan warga membaik.
Jadi, dibandingkan dengan langsung menghilangkan kabut asap, peran hujan di sini adalah sebagai penangkap partikel dan pemadam titik-titik panas sehingga jumlah lahan yang terbakar berkurang serta jumlah asap yang timbul dari aktivitasnya bisa direduksi.
Bagaimana Hujan Bantu Bersihkan Partikel Kabut Asap?

Apakah Hujan Bisa Menghilangkan Kabut Asap? Yuk, Pelajari Bagaimana Hujan Menubruk Partikel Asap! @Unsplash @Running Child
Virginia Climate Center dari George Mason University mempelajari lebih dalam soal dua ukuran PM yang umum disebut, yakni PM 2.5 dan PM 10. Kawan barangkali familiar dengan istilah ini sejak isu karhutla merebak dan kondisi udara di Indonesia memburuk.
Sebelum beranjak lebih jauh, materi partikulat atau particulate matter (PM) adalah partikel sangat mungil yang melayang di udara. Angka-angka di atas merujuk pada ukurannya. PM2.5 merujuk pada partikel yang ukurannya lebih kecil dari 2,5 mikrometer, sementara PM10 adalah partikel yang ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan PM2.5, tepatnya lebih kecil dari 10 mikrometer.
Nah, hujan membawa tetesan air yang mampu mengumpulkan partikel yang melayang di udara dan membawanya ikut jatuh ke permukaan tanah. Proses ini dinamakan wet scavenging atau pembersihan oleh air hujan.
Meski begitu, intensitas hujan, komposisi partikel asap, ukurannya, hingga jumlah polusi yang terkandung di udara memengaruhi seberapa banyak materi yang dapat dihilangkan oleh hujan.
Mereka berbagi lebih lanjut bahwa kabut asap yang ditimbulkan oleh karhutla mengandung material organik yang kaya akan karbon. Penelitian mereka menunjukkan bahwa atmosfer selama peristiwa asap akibat kebakaran hutan merespons curah hujan dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan kondisi atmosfer pada keadaan normal.
Selama terjadi kabut asap akibat karhutla, hujan menghilangkan lebih sedikit particulate matter dibandingkan dengan kondisi normal tanpa adanya asap.
Mengapa Kabut Asap Bisa Bertahan Meski Hujan Sudah Turun?

Mengapa Kabut Asap Bisa Bertahan Meski Hujan Sudah Turun? | Unsplash @Jerry Zhang
Seperti yang sudah disinggung, efektivitas hujan untuk menghilangkan kabut asap tergantung pada intensitasnya. Di samping itu, faktor lain seperti komposisi kabut asap, ukuran partikel di dalamnya, hingga jumlah polusi di udara juga berpengaruh.
Virginia Climate Center menyinggung bagaimana asap juga dapat memengaruhi tetesan awan (cloud droplets) itu sendiri, di mana konsentrasi partikel asap yang tinggi dapat menghasilkan cloud droplets yang lebih banyak, tetapi ukurannya menjadi lebih kecil.
Ukuran partikel yang lebih kecil ini mengurangi proses tumbukan yang berperan dalam pembentukan awan yang lebih besar serta memengaruhi seberapa deras hujan bisa turun.
Melihat Operasi Modifikasi Cuaca untuk Bantu Kurangi Kabut Asap

Apakah Hujan Bisa Menghilangkan Kabut Asap? Yuk, Pelajari Bagaimana Operasi Modifikasi Cuaca Bekerja! Unsplash @Tyler Hardie
Kita sempat menyinggung bagaimana teknologi hujan buatan atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) banyak digunakan untuk menangani karhutla serta dampak kabut asapnya. Namun, apakah Kawan GNFI tahu bagaimana cara kerja operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi kabut asap?
Belum lama ini Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melakukan modifikasi cuaca untuk menurunkan kabut asap. Mereka membagikan langkah yang diambil untuk mengeksekusi rencana tersebut.
Bahan seperti natrium klorida (NaCl) akan dibawa menggunakan pesawat. Pesawat kemudian akan terbang di ketinggian tertentu untuk menaburkan bahan tersebut dan merangsang pembentukan hujan.
Meski terkesan sederhana, pelaksanaan metode tersebut perlu memperhatikan kondisi atmosfer sekitar. Pesawat perlu mencari keberadaan awan yang dinilai sesuai sebelum menyemai NaCl.
Di samping itu, prosesnya pun tidak instan. Operasi modifikasi cuaca Pemprov Sumut ini berjalan selama 3 hari, dengan proses penyemaian NaCl sebanyak 2 kali sehari, dan durasi per penerbangan hingga 2 jam.
Hujan Bukan Satu-satunya Jawaban untuk Atasi Kabut Asap

Apakah Hujan Bisa Menghilangkan Kabut Asap? Ternyata Bukan Satu-satunya Jawaban | Unsplash @do huong
Hujan dan operasi modifikasi cuaca memang dapat membantu mengatasi kabut asap. Meski begitu, upaya mengurangi kabut asap membutuhkan usaha berkelanjutan dan penanganan langsung pada sumber kebakaran serta pemantauan kualitas udara yang konsisten.
Upaya memperkuat mitigasi dan sosialisasi kepada masyarakat dapat membantu warga yang terdampak agar tidak lagi perlu menghadapi problem yang berulang setiap tahunnya.
Penelitian Prayoga dan Koestoer (2021) misalnya, dapat menjadi contoh acuan. Mereka melihat dan membandingkan bagaimana Pemerintah Kanada yang juga punya hutan luas dan problem deforestasi bertindak untuk membangun langkah preventif dibanding reaktif terhadap isu karhutla.
Penggunaan Canadian Forest Fire Danger Rating System (CFFDRS) yang mempertimbangkan beragam aspek fisik seperti cuaca, kondisi tanah, dan riwayat perilaku penyebaran api disebut sangat membantu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap karhutla di Kanada.
Indonesia pun dapat mengamati sistem CFFDRS lalu menggunakan hasil analisis risiko karhutla yang didapatkan sebagai dasar perumusan kebijakan terkait pengelolaan kebakaran hutan. Misalnya, melalui pengamatan parameter cuaca dan kondisi tanah.
Dengan referensi tersebut, pengelolaan kebakaran hutan dalam skala nasional dapat dilakukan secara lebih efisien dan efektif, entah itu untuk mengatasi api maupun membatasi potensi penyebarannya.
Di samping soal pergeseran paradigma dalam menyikapi karhutla, penegakan hukum serta penerapan regulasi yang ketat terkait fungsi kawasan juga perlu terus ditingkatkan agar jumlah karhutla dan dampak kabut asap bisa ditekan.
Mari gali beragam informasi menarik soal alam dan lingkungan, gratis di laman resmi Good News From Indonesia!


