Tumpukan sampah di TPA PLTSa, foto: Citarum Harum
Sobat EBT Heroes! Upaya Jakarta dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus memenuhi kebutuhan energi terus menunjukkan arah yang semakin serius. Salah satu langkah strategis yang tengah dipersiapkan adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Proyek ini dirancang tidak hanya untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga mengonversi sampah kota menjadi sumber energi listrik yang bernilai.
Berdasarkan data PLN dan pengembangan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terdapat empat lokasi utama PLTSa yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta, yaitu PLTSa Sunter, Rorotan, Cakung, dan Pesanggrahan. Keempat proyek ini memiliki karakteristik lokasi, kapasitas, serta kebutuhan sampah yang berbeda, namun secara umum mengusung teknologi yang sama, yakni direct combustion. Berikut penjelasan lengkapnya.
Jakarta sebagai megapolitan menghasilkan ribuan ton sampah setiap hari. Jika tidak dikelola secara inovatif, sampah berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan dan kesehatan. Di sisi lain, kebutuhan energi listrik terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan populasi. PLTSa hadir sebagai solusi dua arah yang menjawab tantangan tersebut.
Teknologi direct combustion yang digunakan pada seluruh PLTSa di Jakarta bekerja dengan cara membakar sampah secara terkontrol untuk menghasilkan panas. Panas ini kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan uap yang menggerakkan turbin pembangkit listrik. Dengan sistem ini, volume sampah dapat berkurang signifikan sekaligus menghasilkan listrik yang dapat disalurkan ke jaringan PLN. Melalui skema ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya.
Baca Selengkapnya

