Pasbana -Pada awal abad ke-20, ketika hutan masih rapat dan sungai menjadi jalan utama, sebuah rencana besar diam-diam disusun di meja para insinyur kolonial Belanda. Rencana itu ambisius: membelah rimba Sumatra Tengah dengan rel kereta api.
Tujuannya jelas—menghubungkan kekayaan alam pedalaman dengan dunia luar.
Dokumen bertajuk Verslag eener spoorwegverkenning in Midden-Sumatra (1920) karya Ir. W.J.M. Nivel menjadi saksi bisu betapa seriusnya rencana itu. Dari lembaran laporan teknis tersebut, terkuak satu fakta penting: Solok Selatan, Rantau Ikil, dan Kerinci bukan wilayah pinggiran, melainkan jantung ekonomi masa depan—setidaknya menurut hitungan kolonial.


