Kebiasaan masyarakat desa mengatasi sampah dengan cara dibakar, foto: Istimewa.
Sobat EBT Heroes! Bagi banyak masyarakat yang tinggal di desa, membakar sampah masih menjadi pemandangan yang lumrah. Ketika sampah rumah tangga mulai menumpuk, sebagian warga akan mengumpulkannya di halaman atau lahan kosong, lalu membakarnya. Sampah organik biasanya dikubur di dalam tanah, sementara sampah plastik dan anorganik lainnya ikut dibakar agar cepat habis.
Cara ini memang dianggap paling praktis. Tidak perlu menunggu truk pengangkut sampah datang atau membayar iuran kebersihan seperti yang umum dijumpai di kawasan perkotaan. Sayangnya, kebiasaan tersebut juga menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di banyak desa masih menghadapi keterbatasan fasilitas.
Hal itu terlihat dari hasil Pendataan Potensi Desa (Podes) 2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Sebanyak 69,84% keluarga di desa masih menangani sampah dengan cara menguburnya di dalam lubang atau membakarnya. Sementara itu, hanya 21,52% keluarga di desa yang memiliki sistem pembuangan ke tempat sampah yang kemudian diangkut oleh petugas.
Tingginya praktik membakar sampah di desa sebenarnya bukan semata-mata karena masyarakat enggan mengelola sampah dengan lebih baik. Di banyak wilayah, pilihan yang tersedia memang masih sangat terbatas.
Baca Selengkapnya

