Kita cuma sedang menyiapkan generasi penerus yang rajin bayar pajak, pintar baca statistik, tapi pikirannya tetap terjajah sampai akhir hayat.
Kemarin sore, pas lagi nongkrong di warung kopi langganan, saya merenungkan satu hal yang bikin agak mengelus dada: kenapa ya orang kita gampang banget manut? Maksudnya begini. Kalau ada aturan aneh dari kantor, pejabat ngomong sesuatu yang bikin mengernyitkan dahi, atau ada kebijakan publik yang konyol, reaksi pertama mayoritas dari kita kerap kali cuma, โYa mau gimana lagi, memang sudah begitu ketentuannya.โ Seolah-olah semua hal di dunia ini sudah jatuh dari langit lengkap dengan stempel โBENAR DAN WAJIB DITURUTIโ.
Sikap kritis untuk mempertanyakan โLho, kok bisa gitu?โ atau โAturan ini yang bikin siapa dan buat menguntungkan siapa?โ sepertinya sudah pelan-pelan punah. Kita lebih sibuk menyesuaikan diri daripada mempertanyakan keadaan. Nah, dari situlah saya makin yakin: filsafat itu harusnya jadi pelajaran wajib dari Sekolah Dasar, bukannya cuma jadi bahan obrolan anak kuliahan yang bajunya jarang disetrika.
Jurnal Tier Atas dan Tradisi โNelan Mentah-Mentahโ
Cobalah sesekali iseng membuka jurnal internasional kelas wahidโyang katanya tier 1 alias bereputasi tinggi itu. Kalau dibaca baik-baik, jarang sekali ada riset yang berani secara frontal mengadu atau mempertanyakan benturan antar-teori mendasar. Sebagian besar artikel itu isinya cuma: mencari bukti tambahan demi menguatkan bahwa sebuah teori Barat yang sudah ada itu memang benar.
Baca Selengkapnya

