Pesisir Selatan, pasbana - Langkah-langkah peziarah pagi itu berhenti di sebuah makam sederhana di Koto Baru Bayang. Udara masih lembap oleh embun ketika nama itu kembali disebut dengan hormat: Syekh Muhammad Jamil. Orang Bayang mengenalnya sebagai Pakih Jamil—ulama yang tidak hanya mengajar agama, tetapi juga menanam pengaruh yang melintasi zaman.
Makamnya kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah. Sebuah pengakuan yang datang jauh setelah lelaki itu wafat, namun jejaknya ternyata tak pernah benar-benar hilang.
Pakih Jamil lahir dari tradisi keilmuan Minangkabau yang kuat. Sanad ilmunya tersambung kepada ulama besar Syekh Buyung Mudo Puluik-Puluik melalui Angku Tantuo Kapujan. Di masa ketika surau menjadi pusat pendidikan rakyat, hubungan guru dan murid bukan sekadar transfer ilmu. Ia adalah rantai peradaban.


