memikirkan kembali aktor non manusia untuk narasi alternatif sejarah indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Memikirkan Kembali Aktor Non-manusia untuk Narasi Alternatif Sejarah Indonesia

Memikirkan Kembali Aktor Non-manusia untuk Narasi Alternatif Sejarah Indonesia
images info

Memikirkan Kembali Aktor Non-manusia untuk Narasi Alternatif Sejarah Indonesia


Kematian dua ekor Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di kawasan hutan Bentang Alam Seblat, Bengkulu pada akhir April lalu menjadi tamparan keras bagi pemerintah Indonesia. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu mengonfirmasi bahwa kematian gajah sudah sering terjadi di wilayah tersebut karena habitat gajah telah dikonversi menjadi perkebunan sawit.

Fenomena ini menunjukkan bahwa saat ini yang paling penting adalah komoditi sawit, bukan bentang alam maupun binatang-binatang yang ada di dalamnya. Dalam sejarah kolonialisme di Sumatra, ini bukan fenomena yang mengejutkan. Komoditi ekspor (kopi, tembakau, karet, dan sawit) yang ditanam sejak masa kolonial selain mengakibatkan deforestasi juga mempercepat punahnya satwa liar di Sumatra, khususnya gajah.

Dulu Gajah Sumatra diburu untuk diambil gadingnya, sekarang mereka dibunuh karena dianggap mengganggu stabilitas perkebunan sawit. Logika tersebut muncul karena sudut pandang yang masih manusiasentris, menempatkan manusia sebagai pusat dari segala kehidupan di bumi ini.

Manusia semakin arogan karena menurut mereka nyawa binatang tak sebanding dengan nyawa manusia sebagai "pemimpin" di bumi ini. Padahal, binatang sebagai aktor non-manusia (non-human) juga punya hak untuk melangsungkan hidupnya meskipun mereka tidak dapat "berbicara". Nyatanya, hingga saat ini binatang maupun tanaman masih terpinggirkan dalam narasi sejarah Indonesia.

Non-human Actors: Dari Tepian ke Pusat Narasi

Sejarawan Catherine Rigby dalam Weaving the environmental humanities: Australian strands, configurations, and provocations (2019), sejarawan lingkungan dan para akademisi dalam tradisi environmental humanities mulai mengajukan pertanyaan yang lebih kritis: bagaimana jika kita berhenti menempatkan manusia sebagai satu-satunya aktor yang bermakna dalam sejarah?

Penting untuk dijelaskan bahwa bukan berarti tanaman dan binatng bisa beraktivitas seperti manusia, atau bukan berarti mereka bisa berpikir seperti manusia. Yang dipertaruhkan bukan kesetaraan antara manusia dan non-manusia (non-human). Yang dipertaruhkan adalah cara kita membingkai sebab-akibat dalam narasi sejarah. Juga perlu dipikirkan lagi bagaimana memutuskan siapa yang layak disebut aktor dan siapa yang boleh menjadi subjek sebuah kisah sejarah.

Para pemburu dan gajah yang sudah tersungkur mati di perkebunan Deli, sekitar 1905. Sumber: KITLV A299-Jagers met een geschoten olifant dalam digitalcollections.universiteitleiden.nl (open access).
info gambar

Para pemburu dan gajah yang sudah tersungkur mati di perkebunan Deli, sekitar 1905. Sumber: KITLV A299-Jagers met een geschoten olifant dalam digitalcollections.universiteitleiden.nl (open access).


Penelitian Suriani dalam Pemanfaatan dan Perburuan Gajah di Perkebunan Sumatra Timur Pada Awal Abad XX (2023) menunjukkan bagaimana gajah bukan sekadar binatang buruan untuk ajang bersenang-senang elit Eropa. Ia juga merupakan aktor utama yang kehadirannya sangat dibutuhkan untuk perang, pembukaan hutan maupun mobilisasi hasil perkebunan di Sumatra Timur. Tanpa memahami kondisi ekologi perkebunan di Sumatra Timur serta satwa endemik (gajah) di dalamnya, kita tidak bisa memahami mengapa laju kapitalisme perkebunan di Sumatra berjalan cepat di masa kolonial, bahkan hingga saat ini.

Dari kedua penelitian tersebut sangat jelas jika sejarawan dapat menggeser aktor utama sejarah. Dari yang awalnya aktor non-human berada dalam tepian narasi, kita dapat menempatkannya dalam pusat narasi sejarah.

baca juga

Mengapa Ini Menjadi Penting Sekarang?

Ada alasan praktis mengapa pergeseran perspektif ini mendesak, bahkan melampaui perdebatan metodologis di ruang seminar maupun narasi resmi dalam buku teks sejarah Indonesia.

Saat ini kita hidup di tengah krisis ekologis yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah umat manusia. Perubahan iklim saat ini semakin tidak terprediksi. Kepunahan massal spesies berlangsung dengan cepat dan mengkhawatirkan. Deforestasi telah mengubah lanskap dalam hitungan tahun. Muaranya, bencana ekologis sering menghiasi kolom-kolom berita dalam media daring dan konvensional akhir-akhir ini.

Jika dimaknai lebih dalam, semua ini adalah krisis yang lahir—sebagian besar—dari cara kita memperlakukan dunia non-manusia selama berabad-abad. Lingkungan hidup kita anggap sebagai “sumber daya” yang menunggu untuk dieksploitasi. Tanaman, pohon, dan binatang kita anggap makhluk hidup yang bisa kita “matikan” kapan saja asal perut manusia kenyang dan dompetnya terisi.

Seharusnya kita menganggap mereka sebagai “relasi” yang perlu dijaga keseimbangannya. Perlu pendekatan sejarah lingkungan untuk dapat mengkaji lebih dalam fenomena tersebut, khususnya sejak periode yang lampau.

Sejarah Lingkungan untuk Mereka yang Tak Bisa “Bicara”

Sejarah lingkungan menempatkan non-human actors sebagai aktor yang bermakna membantu kita memahami bagaimana relasi yang timpang itu terbentuk secara historis. Perlu narasi-narasi alternatif yang mempertanyakan kapan kita mulai memperlakukan hutan sebagai kayu, lautan sebagai ikan, tanah sebagai hunian, serta binatang sebagai makanan atau buruan. Semua itu terjadi dari kebijakannya siapa, dalam konteks kekuasaan apa, dan dengan konsekuensi jangka panjang yang seperti apa.

Tanpa narasi sejarah itu, kebijakan lingkungan masa kini bekerja dalam kegelapan tanpa memahami akar persoalannya. Di sini relevansi sejarah lingkungan bagi kondisi kekinian Indonesia. Bagaimana kita menceritakan kembali sejarah perkebunan, tambang, dan hutan kita bukan hanya dari sudut pandang manusia (buruh, pemilik modal, pemerintah), tapi juga dari sudut pandang ekosistem yang telah diubahnya.

Sejarah adalah pemaknaan atau interpretasi kita terhadap masa lalu. Oleh karena itu narasinya tidak pernah tunggal. Jika interpretasi kita selama ini hanya mendengarkan suara manusia, maka kita telah menulis sejarah yang setengah tuli. Kita menangkap sebagian percakapan namun melewatkan yang lainnya. Bagaimana nasib binatang dan tanaman yang tak bisa bicara bahasa manusia?

Sudah saatnya kita belajar mendengar suara tanaman yang dipaksa tumbuh di tempat yang bukan habitatnya, suara pohon dalam hutan yang digergaji dengan istiqomah-nya, dan suara gajah yang kehilangan jalur migrasi lamanya yang kini berubah menjadi perkebunan sawit.

baca juga

Maka dari itu, sangat penting untuk menempatkan aktor non-manusia dalam kajian sejarah Indonesia. Karena mereka pun, dengan cara mereka sendiri, dalam bahasa yang berbeda dari bahasa arsip dan dokumen resmi, adalah bagian dari masa lalu Indonesia. Tanpa suara mereka, cerita masa lalu negeri ini tak akan pernah lengkap. Tanpa interpretasi terhadap aktivitas mereka, aktor non-manusia menjadi makhluk yang harus kalah di kondisi saat ini.

Akhirnya mereka akan punah di masa depan, dan anak cucu kita tidak akan bisa melihat lagi binatang dan tanaman endemik Indonesia. Mereka hanya bisa dilihat dalam lemari kaca museum, sebagai bukti arogansi masyarakat Indonesia di masa lalu yang abai terhadap lingkungan hidupnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.