Ngawimadang.com - Sebuah kutipan Tan Malaka kembali ramai beredar di media sosial: “Mereka tidak takut ketika rakyatnya miskin, mereka takut ketika rakyatnya cerdas.” Kalimat ini kerap dibagikan sebagai poster motivasi, namun di balik popularitasnya tersimpan pesan politik yang tajam. Bukan sekadar ungkapan romantis, melainkan peringatan tentang relasi kekuasaan dan kesadaran publik.
Sejumlah pengamat menilai, kemiskinan sering diperlakukan sebagai persoalan teknis. Negara hadir melalui program bantuan, subsidi, dan berbagai skema perlindungan sosial. Di sisi lain, kecerdasan publik yang tumbuh lewat pendidikan bermutu, literasi kritis, dan ruang diskusi terbuka dianggap sebagai persoalan struktural yang lebih kompleks dan menantang.


