Ada pemandangan yang semakin akrab bagi masyarakat pesisir utara Jawa: jalan tergenang, rumah yang harus ditinggikan, dan air laut yang seolah semakin mudah masuk ke daratan.
Persoalannya bukan hanya air laut yang naik. Di sejumlah kawasan Pantura, permukaan tanah juga terus mengalami penurunan.
Kompas.com mencatat, penurunan muka tanah di sejumlah kawasan pesisir seperti Semarang, Demak, dan Pekalongan dapat mencapai 10β20 sentimeter per tahun. Kondisi ini membuat banjir rob semakin sulit ditangani karena daratan yang menjadi tempat manusia tinggal justru terus bergerak turun.
Di tengah persoalan tersebut, perlindungan pesisir tidak cukup hanya berbicara tentang membangun tanggul setinggi mungkin. Dibutuhkan pula teknologi yang mampu bekerja menghadapi energi gelombang, mengurangi gerusan, sekaligus mempertimbangkan efisiensi material. Salah satu inovasi yang menarik perhatian datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN): BRINPod.
1. Pantura dan Masalah yang Tidak Selesai Hanya dengan Tanggul
Banjir rob mungkin menjadi persoalan yang paling mudah terlihat. Namun, di baliknya terdapat persoalan yang lebih kompleks. Penurunan muka tanah, kenaikan muka air laut, gelombang, abrasi, hingga perubahan kondisi garis pantai dapat saling memperburuk kerentanan kawasan pesisir.
Kompas.com menjelaskan, penurunan muka tanah di pesisir Semarang antara lain dipengaruhi faktor antropogenik seperti penurunan muka air tanah dan beban bangunan.
Fenomena tersebut bahkan telah meluas ke arah Demak. Karena itu, pembangunan perlindungan pantai membutuhkan pendekatan yang lebih spesifik. Tanggul atau breakwater harus mampu menghadapi hantaman gelombang, sementara kawasan yang mengalami penurunan tanah tetap membutuhkan strategi adaptasi tersendiri. Di sinilah teknologi pelindung pantai seperti BRINPod menjadi menarik untuk diperhatikan.
2. BRINPod, Bukan Tanggul Raksasa, tetapi βBaju Zirahβ untuk Pesisir
Jika tanggul adalah struktur utama, BRINPod dapat dibayangkan seperti baju zirah yang melindungi bagian luar struktur dari hantaman laut. Secara teknis, BRINPod merupakan concrete armor unit atau unit lapis lindung beton yang dirancang dengan sistem saling mengunci (interlocking) dan dapat ditempatkan dalam satu lapisan secara teratur.
Riset mengenai BRINPod diterbitkan dalam Marine Systems and Ocean Technology pada 2025. Penelitian tersebut dilakukan melalui simulasi numerik menggunakan ANSYS serta pengujian model fisik di wave flume BRIN. Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi BRINPod dengan BPPT-lock dapat mengurangi kebutuhan beton sekitar 29,1 persen, dengan tetap mempertahankan stabilitas struktur dalam pengujian.
Angka tersebut penting karena perlindungan pantai tidak hanya soal apakah sebuah struktur kuat atau tidak. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: Berapa banyak material yang dibutuhkan untuk membuatnya?
Semakin efisien desainnya, semakin terbuka peluang untuk mengurangi kebutuhan material dalam pembangunan struktur pelindung pantai.
Pada Agustus 2026, ANTARA melaporkan bahwa BRINPod menjadi bagian dari pengembangan berkelanjutan teknologi armor unit BRIN, setelah BPPTLock dan BRINLock. Kepala BRIN Arif Satria menyebut BRINPod sebagai iterasi 2025 yang dirancang untuk fungsi toe antiscouring, yaitu membantu menahan gerusan pada bagian dasar struktur.
3. Bagaimana BRINPod Bekerja Menghadapi Gelombang?
Kuncinya ada pada bentuk dan cara unit-unit tersebut disusun. BRINPod tidak bekerja sendirian sebagai sebuah βtembokβ. Unit-unit beton ditempatkan secara teratur dan saling mengunci sehingga membentuk lapisan pelindung.
Dalam pengujian penelitian, BRINPod menunjukkan kemampuan mengurangi wave run-up dan refleksi gelombang.
Simulasi drop test juga menunjukkan unit tersebut tetap tidak mengalami kerusakan ketika dijatuhkan dari ketinggian hingga 1,5 meter. Namun, ada satu hal yang perlu digarisbawahi.
BRINPod bukan obat untuk seluruh persoalan Pantura. Teknologi ini dapat membantu melindungi struktur pesisir dari tekanan gelombang dan gerusan, tetapi tidak menghentikan penyebab penurunan muka tanah.
Dengan kata lain, membangun perlindungan pantai tidak serta-merta membuat tanah yang sudah ambles kembali naik. Karena itu, teknologi struktur harus berjalan bersama kebijakan pengelolaan air tanah, tata ruang, adaptasi permukiman, dan pemulihan ekosistem pesisir.
4. Bisakah Teknologi dan Mangrove Berjalan Bersama?
Jawabannya: justru pendekatan seperti inilah yang menarik untuk dikembangkan. Mangrove memiliki fungsi berbeda dari struktur beton. Akar mangrove dapat membantu meredam energi gelombang, menahan sedimen, melindungi garis pantai dari abrasi, sekaligus menyediakan habitat bagi berbagai biota.
Kompas.com mencatat, mangrove di sejumlah wilayah pesisir telah dimanfaatkan sebagai pelindung alami dari abrasi sekaligus penopang ekonomi masyarakat. Di Subang, misalnya, masyarakat memanfaatkan mangrove sebagai perlindungan terhadap rob dan abrasi.
Artinya, masa depan perlindungan Pantura tidak harus dipertentangkan sebagai beton atau mangrove. Dalam kondisi tertentu, pendekatannya bisa menjadi: struktur pelindung + ekosistem pesisir + pengelolaan wilayah yang lebih baik.
Namun, penerapannya tetap harus berdasarkan kondisi setiap lokasi. Tidak semua pantai membutuhkan struktur beton, dan tidak semua lokasi cocok langsung ditanami mangrove.
5. Tantangannya: Dari Laboratorium ke Pesisir Nyata
Hasil penelitian BRINPod memang menjanjikan, tetapi penelitian juga menegaskan bahwa masih diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk menyempurnakan koefisien stabilitas dan menguji penerapannya pada kondisi lingkungan yang berbeda.
Ini penting. Laut bukan laboratorium yang gelombangnya selalu dapat diprediksi. Setiap pesisir memiliki karakter gelombang, arus, sedimen, kedalaman, kemiringan pantai, dan aktivitas manusia yang berbeda.
Karena itu, keberhasilan BRINPod nantinya tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat beton tersebut. Pertanyaan yang lebih besar adalah: di mana teknologi itu digunakan, bagaimana desainnya disesuaikan, dan apakah pembangunan tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat pesisir?
Pantura membutuhkan perlindungan. Namun, perlindungan terbaik bukan sekadar membuat tembok semakin tinggi. Ia harus membuat pesisir menjadi lebih tahan, adaptif, dan tetap layak dihuni.
Mungkin, di situlah BRINPod menemukan perannya: bukan sebagai satu-satunya jawaban untuk Pantura, melainkan sebagai salah satu bagian dari puzzle besar untuk menjaga garis pantai Indonesia.
Sebab ketika laut terus bergerak maju, pertanyaannya bukan lagi sekadar βbagaimana kita menahan air?β Melainkan: βBagaimana kita melindungi pesisir tanpa kehilangan masa depannya?β

