mitigasi risiko bencana banjir jakarta mulai bersihkan sungai dari sampah yang menahun di kali krukut - News | Good News From Indonesia 2026

Mitigasi Risiko Bencana Banjir, Jakarta Mulai Bersihkan Sungai dari Sampah yang Menahun di Kali Krukut

Mitigasi Risiko Bencana Banjir, Jakarta Mulai Bersihkan Sungai dari Sampah yang Menahun di Kali Krukut
images info

Foto oleh David Kristianto di Unsplash


Lagi-lagi masalah sampah yang terus berulang masih menjadi PR Jakarta. Satu bungkus makanan, botol plastik, hingga sampah rumah tangga menumpuk menahun dan membuat aliran air sungai perlahan dipenuhi berbagai material. 

Gimana Jakarta enggak langganan banjir, ya?

Bahkan, saat meninjau pengerukan Anak Kali Krukut di Kebon Melati, Tanah Abang, Senin (28/9), Gubernur DKI Jakarta kembali mengingatkan warga agar tidak membuang sampah ke sungai. Sebab, percuma dilakukan perbaikan jika kebiasaan kita membuang sampah sembarangan masih ada. Hal ini hanya akan membuat sungai cepat tersumbat kembali. 

Pesan ini rasanya relevan dengan Jakarta yang mulai bersiap memasuki musim penghujan di akhir 2026 sampai awal tahun 2027. Walaupun memang, banjir tidak lahir hanya dari penumpukan sampah di aliran sungai. Hujan dengan intensitas tinggi, kapasitas drainase, kondisi sungai, limpasan air, hingga kondisi kawasan ikut menentukan. 

baca juga

Setelah hampir 60 tahun, Anak Kali Krukut kembali dikeruk. Tiga ekskavator berukuran kecil digunakan karena kondisi alirannya yang sempit. Terdapat beberapa kawasan padat yang membuat proses pengerukan dan pengangkutan material harus dilakukan secara manual.

Anak Kali Krukut yang berada di kawasan Tanah Abang ini membentang dengan panjang sekitar 2.315 meter dan melewati tiga kelurahan, yaitu Kebon Melati, Kebon Kacang, dan Kampung Bali. Pengerjaannya dibagi menjadi beberapa segmen karena kondisi di sepanjang aliran tidak sama. 

Progres pengerukan paling signifikan terlihat di Segmen 1C, mulai dari sepanjang Jalan Jati Bunder hingga Jalan Lontar Raya. Hingga saat ini, pekerjaan telah mencapai 376 meter dari total 390 meter. Sekitar 2.494,2 meter kubik material telah berhasil diangkat dari aliran kali.

Sementara itu, pengerjaan di Segmen 1B, dari Jembatan Rel hingga Jalan Jati Bunder, baru mencapai 91 meter dari total panjang 345 meter dengan volume material sekitar 236 meter kubik.

baca juga

Kondisi permukiman yang padat membuat mobilisasi alat berat cukup terbatas. Segmen 1A sepanjang 270 meter belum dikeruk karena masih terdapat bangunan di sisi jalan dan proses penataan kawasan masih diperlukan. 

Di Segmen 2, pengerukan baru berjalan sepanjang 35 meter dari total 430 meter. Material dikeruk secara bertahap dan estafet, tetapi belum masuk ke tahap pemuatan atau loading. Sementara itu, penanganan Segmen 3 yang membentang 880 meter dari Blok G Pasar Tanah Abang hingga Jalan Jatibaru masih berada pada tahap perencanaan. Keterbatasan akses bagi alat berat dan area pemuatan menjadi pertimbangan dalam menentukan metode pengerjaannya.

Penanganan Anak Kali Krukut direncanakan termasuk pada pembangunan turap (struktur dinding penahan), pembenahan MCK komunal, serta penghijauan di sepanjang bantaran sungai. Pekerjaan fisik seluruh kawasan ditargetkan mulai awal 2027 dan rampung pada 2028. 

Jika bantaran tidak tertata, fasilitas sanitasi tidak memadai, dan sampah masih mudah masuk ke aliran air, pekerjaan pengerukan akan menghadapi masalah yang sama di kemudian hari. Oleh sebab itu, kita ssebagai warga membutuhkan adaptasi baru dalam mengambil peran untuk menjaga kelangsungan kebersihan sungai. 

baca juga

Anak Kali Krukut menjadi reminder bersama kita bahwa kesiapan menghadapi banjir membutuhkan kontinuitas. Setelah hampir 60 tahun tidak adanya perbaikan, apa yang dilakukan hari ini tentu perlu dijaga agar tidak kembali ke kondisi yang sama.

Begitu pula dengan kesadaran warga yang tinggal di sepanjang alirannya. Jangan sampai kali yang baru saja dibersihkan kembali menjadi tempat akhir pembuangan sampah.

Sudah menjadi tugas kita bersama untuk memastikan banjir tidak lagi mengisi apa yang seharusnya tidak berada lingkungan kita.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BL
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.