masjid merah panjunan cirebon masjid tua bergaya arab dan tiongkok sejak 1480 - News | Good News From Indonesia 2026

Masjid Merah Panjunan Cirebon, Masjid Tua Bergaya Arab dan Tiongkok Sejak 1480

Masjid Merah Panjunan Cirebon, Masjid Tua Bergaya Arab dan Tiongkok Sejak 1480
images info

Dok. Bilal Sezgin (Googlr Maps)


 

Di sebuah sudut Jalan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, berdiri masjid kecil berpagar bata merah yang usianya sudah lebih dari lima abad.

Namanya Masjid Merah Panjunan, dan bangunannya memang tidak seperti masjid pada umumnya. Atapnya mengingatkan pada bangunan Jawa, dindingnya ditempeli piring dan keramik dari Tiongkok, dan letaknya persis di tengah permukiman yang dikenal sebagai Kampung Arab.

Masjid ini dibangun sekitar 1480 oleh Syarif Abdurrahman, tokoh keturunan Arab yang dikenal sebagai Pangeran Panjunan. Awalnya bangunan ini hanya musala atau tajug kecil bernama Al-Athyah, tempat beribadah bagi para pedagang dan pendakwah keturunan Arab yang singgah di Cirebon. Seiring waktu, musala itu berkembang menjadi masjid dan lebih dikenal dengan sebutan Masjid Merah.

Usianya yang lebih tua dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa membuat tempat ini punya cerita tersendiri. Menurut pengurus masjid, dulu salat Jumat digelar di sini sampai jamaahnya tidak muat, hingga akhirnya dibangun Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan salat Jumat dipusatkan di sana. Sampai sekarang, Masjid Merah Panjunan tidak menggelar salat Jumat, tetapi salat lima waktu dan kegiatan keagamaan lain tetap berjalan seperti biasa.

 

 

Sekilas Mengenai Masjid Merah Panjunan

Nama Panjunan berasal dari kata anjun yang berarti gerabah atau tembikar. Julukan itu melekat pada Syarif Abdurrahman karena keahliannya membuat gerabah, dan ilmunya ia bagikan kepada warga sekitar sehingga kampung ini dulu dipenuhi pengrajin tembikar. Para pengrajin itu kini sudah tidak ada, tergantikan pertokoan sejak zaman kolonial Belanda.

Syarif Abdurrahman adalah putra Syekh Datuk Kahfi dan kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati. Ia menikah dengan Matasari, putri dari Keraton Japura, dan keturunannya kelak berperan di Sumedang Larang. Ada pula versi yang menyebut masjid ini dibangun oleh Sunan Gunung Jati lalu dirawat oleh Pangeran Panjunan, dan kedua cerita itu sama-sama beredar di kalangan pengurus masjid.

Tentang asal nama Masjid Merah sendiri, ada dua penjelasan. Yang pertama menyebut warna bata merah pada bangunan dan pagarnya. Yang kedua, menurut cerita pengurus, nama itu muncul setelah salat Jumat dipindahkan ke Sang Cipta Rasa, yakni ketika kegiatan Jumatan di sini dicoret atau ditiadakan. Pengurus lain menjelaskan warna merah melambangkan keberanian menyuarakan kebenaran.

 

 

 

Daya Tarik Utama Masjid Merah Panjunan

Masjid Merah Panjunan menarik karena hampir setiap bagiannya punya cerita dan makna yang bisa ditanyakan langsung kepada pengurusnya.

Dindingnya dipenuhi keramik dan piring asal Tiongkok yang ditempel sebagai hiasan. Menurut penuturan pengurus, keramik itu merupakan peninggalan Putri Ong Tien, istri Sunan Gunung Jati. Sebelum masuk ke area masjid, Kawan akan melewati gapura kembar dan pagar bata merah berukir bercorak Tiongkok, yang memperlihatkan jelas perpaduan budaya Arab, Jawa, dan Tiongkok di bangunan ini.

Di dalam, masjid ditopang 17 tiang. Enam belas di antaranya berbentuk silinder dan satu berbentuk kotak, jumlah yang dimaknai sebagai 17 rakaat salat dalam sehari. Pintu menuju ruang utama dibuat pendek sehingga siapa pun harus menunduk saat masuk. Pengurus menyebut itu pengingat untuk tawaduk dan meninggalkan sifat sombong, dan ciri seperti ini dipercaya khas bangunan peninggalan wali.

Bagian yang paling sering diceritakan adalah ruang di bagian depan masjid yang hanya dibuka dua kali setahun, yaitu saat Idulfitri dan Iduladha. Konon ruang itu dulu menjadi tempat para wali bermusyawarah dan disahkan oleh Sunan Gunung Jati sebelum bertugas menyiarkan Islam, ibarat wisuda bagi para wali. Pengurus bercerita bahwa pernah ada orang yang memaksa masuk di luar waktu yang ditentukan dan tidak lama kemudian jatuh sakit.

Kawasan sekitarnya juga layak dijelajahi. Masjid ini berada di Kampung Arab, jadi Kawan bisa berjalan kaki sebentar menyusuri permukiman yang masih menyimpan suasana lama kota pelabuhan Cirebon.

 

 

Akses Menuju Masjid Merah Panjunan

Masjid Merah Panjunan berada di Jalan Panjunan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Lokasinya di tengah kota sehingga mudah dicapai dengan kendaraan pribadi, ojek daring, maupun becak dari berbagai titik di Cirebon. Kawan yang sedang menjelajahi wisata sejarah kota bisa menggabungkan kunjungan ini dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Keraton Kasepuhan dalam satu rute.

 

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Masjid Merah Panjunan terbuka untuk dikunjungi dan tidak ada tiket masuk yang tercatat dalam referensi yang saya baca. Karena masjid ini masih aktif dipakai untuk salat lima waktu, sebaiknya Kawan datang di luar waktu salat. Untuk jam kunjungan yang pasti, tanyakan langsung kepada pengurus masjid.

 

 

Ayo Berkunjung ke Masjid Merah Panjunan!

Masjid Merah Panjunan cocok untuk Kawan GNFI yang tertarik pada sejarah penyebaran Islam di Cirebon dan perpaduan budayanya. Datang pagi hari agar suasananya tenang, berpakaian sopan, dan sempatkan berbincang dengan pengurus masjid, karena banyak cerita di balik tiang, pintu, dan keramiknya yang tidak tertulis di papan informasi mana pun.

 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.