main ke aceh jangan pulang dulu sebelum mencicipi 8 kue tradisional khas aceh ini - News | Good News From Indonesia 2026

Main ke Aceh? Jangan Pulang Dulu Sebelum Mencicipi 8 Kue Tradisional Khas Aceh Ini

Main ke Aceh? Jangan Pulang Dulu Sebelum Mencicipi 8 Kue Tradisional Khas Aceh Ini
images info

Dok. Si Gam (Wikimedia)


Selain dikenal dengan wisata alamnya yang indah, Aceh juga punya tradisi kuliner yang kaya dan beragam. Salah satu yang paling menarik adalah deretan kue tradisionalnya, yang sebagian besar sudah ada sejak lama dan masih dijaga keberadaannya hingga sekarang.

Banyak di antaranya punya cerita tersendiri, ada yang hanya dibuat menjelang Lebaran, ada yang menjadi bagian dari seserahan pernikahan, ada pula yang proses pembuatannya memerlukan keahlian khusus yang diwariskan turun-temurun.

Kue Khas Aceh yang Wajib Kawan Bawa Pulang

Bagi Kawan yang berencana berkunjung ke Aceh, berikut delapan kue tradisional yang layak dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

1. Kue Bhoi

Kue bhoi adalah salah satu kue tradisional Aceh yang paling mudah dikenali karena bentuknya yang unik, yaitu cetakan berbentuk ikan, bintang, atau bunga. Kue yang teksturnya lembut seperti bolu kering ini konon sudah ada selama ratusan tahun dan kerap hadir dalam momen penting seperti seserahan pernikahan maupun perayaan hari raya.

Cara menikmatinya pun sederhana, bisa langsung dimakan atau dicelupkan ke kopi hangat. Jika disimpan dengan kemasan yang baik, bhoi bisa bertahan hingga berbulan-bulan.

2. Keukarah

Keukarah adalah kue yang benar-benar memanjakan mata sebelum lidah. Berbentuk seperti jaring atau sarang burung, kue ini dibuat dari campuran sederhana tepung beras, gula, dan air. Namun prosesnya jauh dari sederhana karena dibutuhkan cetakan khusus dari batok kelapa dan keahlian tangan yang sudah terasah bertahun-tahun.

Tidak sembarang orang bisa membuat jaring-jaringnya rapat dan konsisten. Rasa manisnya ringan dan teksturnya renyah, cocok dinikmati bersama teh atau kopi. Tersedia dalam varian original dan wijen.

3. Kue Adee

Kue adee adalah ikon kuliner dari Kabupaten Pidie Jaya yang sudah lama menjadi incaran wisatawan yang melintas di jalur Banda Aceh menuju Medan. Terbuat dari singkong atau ubi yang dipadukan dengan telur, santan, dan taburan bawang goreng, kue ini menghasilkan aroma yang khas.

Teksturnya manis dan kenyal, sekilas mirip bika ambon, tapi dengan karakter rasa yang berbeda. Kini adee sudah bisa ditemukan di luar Aceh, tapi rasanya tetap paling autentik kalau dibeli langsung dari daerah asalnya.

4. Samaloyang

Samaloyang atau kembang loyang adalah kue renyah yang sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Aceh sejak lama, terutama saat perayaan Idulfitri. Sekilas bentuknya mirip kue kembang goyang khas Betawi, tapi samaloyang punya ciri khasnya sendiri.

Cetakan khusus bernama bruek samaloyang yang terbuat dari tembaga digunakan untuk membentuk adonan dari tepung beras dan santan. Uniknya, kue ini bisa divariasikan menjadi rasa manis maupun pedas, dan dibentuk dalam berbagai pilihan seperti segitiga, segi empat, atau bulat.

5. Meuseukat

Di antara semua kue dalam daftar ini, meuseukat menempati posisi yang paling istimewa di mata masyarakat Aceh. Meuseukat adalah dodol khas Aceh yang dihiasi ukiran cantik berbentuk bunga atau motif pintu Aceh di permukaannya.

Bahan utamanya adalah tepung terigu, nanas, gula, dan air jeruk, yang dimasak dengan sabar selama sekitar dua jam hingga mengental sempurna. Kue ini memiliki makna filosofis sebagai lambang kejernihan dan kemuliaan dalam menjamu tamu, sehingga hampir selalu hadir di acara adat dan pernikahan.

6. Timphan

Timphan adalah kue tradisional Aceh yang punya tempat spesial di hati masyarakatnya, bahkan sampai diabadikan dalam sebuah peribahasa lokal. Dibuat dari adonan tepung ketan dan pisang raja yang kemudian diisi dengan berbagai pilihan seperti srikaya, kelapa, atau durian, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus.

Dulu timphan hanya dibuat sehari sebelum Lebaran, tapi kini sudah bisa ditemukan di pasar dan sentra oleh-oleh. Jika Kawan berencana membawanya pulang, perlu diingat bahwa daya tahannya hanya sekitar satu minggu.

7. Kue Pia Sabang

Kue pia memang bukan asli dari Aceh, berawal dari pengaruh budaya Tionghoa yang kemudian menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Tapi versi Sabang punya penggemarnya tersendiri.

Bakpia khas Aceh ini tersedia dalam varian rasa kacang hijau, durian, cokelat, dan berbagai pilihan lainnya, dengan pusat produksinya di kawasan Pantai Kasih, Sabang. Bagi wisatawan yang datang ke ujung barat Indonesia, kue pia Sabang hampir selalu masuk dalam daftar belanjaan yang tidak boleh terlewat.

8. Sale Pisang

Sale pisang mungkin terdengar familiar, tapi versi Aceh punya cara pembuatan yang sedikit berbeda. Pisang dijemur terlebih dahulu hingga kering, ada yang dibalut gula tebu dan ditusuk lidi, lalu dikukus atau digoreng sesuai selera.

Hasilnya adalah camilan manis dengan tekstur kenyal yang bisa bertahan cukup lama sehingga aman dibawa sebagai oleh-oleh perjalanan jauh. Sederhana memang, tapi justru kesederhanaannya itulah yang membuat sale pisang Aceh tetap dicari dari dulu hingga sekarang.

Ragam kue tradisional Aceh memang layak untuk dicoba langsung. Tapi, jangan lupa bagi Kawan GNFI menyisakan waktu dan ruang di tas atau koper untuk membawa pulang setidaknya satu atau dua dari daftar ini.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.