jejak sriwijaya di sumatera selatan ketika sejarah dan alam menjadi potensi wisata berkelanjutan - News | Good News From Indonesia 2026

Jejak Sriwijaya di Sumatera Selatan: Ketika Sejarah dan Alam Menjadi Potensi Wisata Berkelanjutan

Jejak Sriwijaya di Sumatera Selatan: Ketika Sejarah dan Alam Menjadi Potensi Wisata Berkelanjutan
images info

Foto oleh Hadi Utama di Unsplash


Di tepian Musi, jejak Sriwijaya masih hidup. Kini, sejarah, alam, dan kreativitas warga membuka jalan bagi wisata Sumatera Selatan yang berkelanjutan.

Mengapa Sumatera Selatan? Satu provinsi, tetapi begitu banyak cerita yang bisa dibawa pulang.

Ada Sungai Musi yang membelah Palembang, Jembatan Ampera yang menjadi ikon kota, jejak Kerajaan Sriwijaya, hingga pegunungan dan desa-desa yang tumbuh dengan potensi wisatanya sendiri. Jika ingin memahami mengapa Sumatera Selatan memiliki modal kuat untuk pariwisata, sejarah Sriwijaya bisa menjadi salah satu pintu masuknya.

Kompas.com mencatat, Sriwijaya muncul sekitar abad ke-7 dan berkembang di sekitar Sungai Musi, Palembang. Kerajaan ini dikenal sebagai kekuatan maritim yang menguasai jalur perdagangan penting di Selat Malaka. Artinya, hubungan masyarakat Sumatera Selatan dengan sungai dan aktivitas perjalanan sebenarnya bukan cerita baru.

Dulu kapal dagang menjadi bagian dari denyut kehidupan. Kini, Sungai Musi menjadi lanskap yang mempertemukan sejarah, ruang publik, kuliner, hingga aktivitas wisata. Bukan kebetulan jika sungai yang dahulu menjadi jalur pergerakan manusia kini kembali dilihat sebagai bagian penting dari daya tarik wisata.

baca juga

Dari Ampera hingga Jejak Sriwijaya

Jembatan Ampera mungkin menjadi gambar pertama yang muncul ketika orang membicarakan Palembang. Namun, Sumatera Selatan tidak berhenti pada satu ikon.

Kompas.com mencatat Sungai Musi sejak masa Sriwijaya hingga sekarang memiliki peran penting sebagai sarana transportasi masyarakat sekitar. Di kawasan Palembang, wisatawan dapat menyusuri jejak sejarah melalui Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya.

Situs yang berada di Karanganyar ini menyimpan artefak, prasasti, struktur bata, hingga kanal dan parit yang menjadi bagian penting dari kawasan peninggalan Sriwijaya. Menariknya, kanal tersebut bukan hanya peninggalan yang dilihat dari balik kaca museum.

Kompas.com menjelaskan bahwa kanal dan parit di kawasan tersebut diduga berkaitan dengan tata air sekaligus jalur yang menghubungkan kawasan pedalaman dengan Sungai Musi. Sejarah akhirnya terasa lebih dekat: bukan hanya tentang kerajaan yang pernah berjaya, melainkan tentang bagaimana manusia dahulu mengelola ruang hidupnya.

Sementara itu, di luar Palembang, bentang alam Sumatera Selatan menawarkan cerita berbeda. Gunung Dempo di Pagar Alam, Danau Ranau, hingga berbagai air terjun dan kawasan pedesaan memperlihatkan bahwa potensi wisata provinsi ini tidak hanya bertumpu pada warisan sejarah.

Ketika Warga Menjadi Bagian dari Cerita

Pariwisata akan terasa berbeda ketika masyarakat setempat tidak hanya menjadi penonton. Contohnya dapat dilihat di Desa Wisata Burai, Kabupaten Ogan Ilir.

DetikSumbagsel melaporkan, Desa Wisata Burai memanfaatkan sungai sebagai bagian dari aktivitas wisata sekaligus mengembangkan kerajinan masyarakat seperti songket Burai, anyaman purun, kemplang tunu, kuningan, dan perak. Di sini, wisata tidak hanya berarti datang, berfoto, lalu pulang.

Ada produk yang dibuat warga, kuliner yang dijual, perahu yang digunakan, dan cerita lokal yang ikut dibawa pulang wisatawan. Model semacam ini memperlihatkan bagaimana ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan dengan pariwisata. Kompas.com menjelaskan bahwa pariwisata berbasis komunitas menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku dalam rantai nilai pariwisata, sekaligus membuka peluang agar manfaat ekonomi dan pelestarian budaya berjalan bersama.

Sumatera Selatan juga memiliki contoh lain di kawasan Gunung Dempo. Desa Wisata Gunung Dempo tidak hanya menawarkan perkebunan teh, tetapi juga berbagai destinasi dan aktivitas yang dikembangkan bersama pelaku wisata setempat.

Pada 2026, kawasan tersebut sempat menghadapi persoalan regulasi dan perizinan lahan hingga sejumlah objek wisata ditutup sementara. ANTARA kemudian melaporkan bahwa Desa Wisata Gunung Dempo kembali dibuka setelah adanya koordinasi antara pemerintah daerah dan pihak perkebunan.

Kisah tersebut menunjukkan satu hal penting: keberlanjutan pariwisata bukan hanya soal menjaga alam, tetapi juga memastikan kelembagaan, perizinan, masyarakat, dan pelaku usaha memiliki ruang untuk bergerak bersama.

baca juga

Menatap Masa Depan Pariwisata Bumi Sriwijaya

Potensinya besar, tetapi pertumbuhan wisata tidak otomatis berarti keberlanjutan.

Data Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan perjalanan wisatawan nusantara ke Sumatera Selatan sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 26,07 juta perjalanan, meningkat 43,67 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Angka tersebut memperlihatkan besarnya pergerakan wisata di Sumatera Selatan. Namun, semakin banyak orang datang, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga destinasi.

Karena itu, pengembangan wisata Sumatera Selatan dapat diarahkan pada beberapa hal: memperkuat peran masyarakat lokal, menjaga kawasan alam dan situs sejarah, memperpanjang lama tinggal wisatawan melalui paket wisata yang saling terhubung, serta memperbesar ruang bagi UMKM dan ekonomi kreatif. Pendekatannya bukan sekadar: Bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan? Tetapi juga: Apa yang tersisa setelah wisatawan pulang?

Jika sungai menjadi ruang hidup, situs sejarah tetap terawat, alam tidak kehilangan fungsinya, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, maka pariwisata tidak hanya menjual masa lalu. Ia menghidupkannya kembali. Sriwijaya pernah tumbuh karena mampu membaca posisi strategis sungai, perdagangan, dan manusia.

Hari ini, tantangannya berbeda. Tetapi semangatnya bisa tetap sama: mengubah kekayaan lokal menjadi kekuatan tanpa kehilangan akar yang membuatnya berharga. Sumatera Selatan tidak kekurangan cerita.

Pertanyaannya, bagaimana kita memastikan cerita itu tetap hidup ketika semakin banyak orang datang untuk mendengarnya?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.