benteng madang hulu situs pertempuran perang banjar yang lima kali gagalkan serangan belanda - News | Good News From Indonesia 2026

Benteng Madang Hulu, Situs Pertempuran Perang Banjar yang Empat Kali Gagalkan Serangan Belanda

Benteng Madang Hulu, Situs Pertempuran Perang Banjar yang Empat Kali Gagalkan Serangan Belanda
images info

Dok. Volstand (Wikimedia)


 

Di atas Gunung Madang, bagian dari bentangan Pegunungan Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, pernah berlangsung lima kali pertempuran dalam rentang kurang dari empat bulan.

Kelima serangan pasukan Belanda itu datang berturut-turut antara September hingga Desember 1860, dengan keempat serangan berhasil digagalkan oleh para pejuang Banjar yang mempertahankan benteng dari dalam. Benteng Madang adalah tempat peristiwa tersebut.

Situs ini terletak di Desa Madang, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekitar 8 km dari pusat Kota Kandangan. Untuk mencapai puncak Gunung Madang tempat benteng berada, pengunjung harus mendaki sekitar 400 anak tangga.

Di atas, tersedia replika benteng dari semen yang dibangun untuk mengenang keberadaan benteng aslinya, dan dari sini pemandangan ke kawasan sekitar terbuka dengan cukup luas.

 

Sekilas Mengenai Benteng Madang

Benteng ini dibangun atas permintaan Pangeran Antasari dan Demang Lehman kepada Tumenggung Antaludin, seiring meletusnya Perang Banjar pada 1859.

Lokasinya dipilih di atas bukit yang merupakan bagian dari Pegunungan Meratus karena memberikan keuntungan strategis dalam pertahanan karena posisi tinggi memudahkan pengintaian, sementara medan yang terjal menyulitkan pasukan musuh untuk menaiki gunung.

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, para pejuang menggelindingkan batang pohon besar dari atas gunung untuk menghalau pasukan Belanda yang mencoba naik.

Benteng diperkirakan berukuran sekitar 400 meter persegi dengan dua tingkat, sehingga pengawasan terhadap area di bawahnya bisa dilakukan dari jarak yang lebih jauh. Kawasan sekitarnya dikelilingi semak belukar yang sangat rapat, sehingga keberadaan benteng tidak mudah terlihat dari bawah.

Lima pertempuran berlangsung secara beruntun. Serangan pertama pada 3 September 1860 dipukul mundur setelah pasukan Banjar melancarkan serangan balik yang menewaskan beberapa tentara Belanda. Keesokan harinya serangan kedua gagal karena tiga granat Belanda tidak meledak, dan Letnan De Brauw tertembak sehingga pasukannya mundur.

Serangan ketiga pada 13 September 1860 yang dipimpin Kapten Koch berakhir dengan hancurnya roda meriam Belanda. Serangan keempat pada 18 Desember 1860 menjadi yang paling besar, dengan 91 opsir Eropa dan meriam howitzer, namun berakhir dengan kematian Kapten Koch.

Serangan kelima pada 22 Desember 1860 mendapati benteng sudah dikosongkan, hanya menyisakan satu jenazah.

 

Daya Tarik Utama Benteng Madang

Daya tarik utama Benteng Madang ada pada dua hal yang saling melengkapi, yaitu nilai sejarahnya yang sangat kuat dan bisa ditelusuri hingga detail tanggal dan nama, serta kondisi alam di sekitarnya yang masih sangat alami sebagai bagian dari kawasan Pegunungan Meratus.

Replika benteng dari semen yang dibangun di puncak Gunung Madang menjadi titik tujuan pendakian 400 anak tangga tersebut.

Dari sini, pemandangan ke kawasan perbukitan dan lembah sekitarnya cukup luas, memberikan gambaran langsung tentang mengapa lokasi ini dianggap strategis sebagai benteng pertahanan lebih dari 160 tahun lalu.

Perjalanan naik melewati 400 anak tangga itu sendiri melewati kawasan yang masih cukup hijau dan teduh, dengan udara sejuk khas kawasan pegunungan. Ini membuat kunjungan ke Benteng Madang menjadi perjalanan kecil yang punya nilai tersendiri.

 

Akses Menuju Benteng Madang

Benteng Madang terletak di Desa Madang, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekitar 8 km dari pusat Kota Kandangan. Dari Banjarmasin, perjalanan menuju Kandangan membutuhkan waktu sekitar dua hingga dua setengah jam menggunakan kendaraan pribadi melalui jalur Jalan Nasional Banjarmasin-Rantau-Kandangan.

Dari Kandangan, perjalanan ke Desa Madang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 hingga 20 menit. Kendaraan roda dua dan roda empat bisa menjangkau kaki gunung, kemudian dilanjutkan dengan mendaki 400 anak tangga menuju puncak tempat replika benteng berada.

Tidak ada angkutan umum yang langsung menuju lokasi, sehingga kendaraan pribadi atau sewa dari Kandangan menjadi pilihan paling praktis.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Benteng Madang terbuka setiap hari tanpa jam operasional resmi yang tercatat. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hingga siang hari agar pendakian bisa dilakukan dalam kondisi cahaya yang cukup dan sebelum suhu terlalu panas.

Tidak ada informasi resmi mengenai tiket masuk yang tersedia dari pengelola. Berdasarkan data yang ada, kunjungan ke kawasan ini tidak dipungut biaya masuk. Fasilitas di lokasi masih sangat sederhana. Disarankan untuk membawa bekal air minum dan makanan sendiri, serta menggunakan alas kaki yang nyaman untuk pendakian anak tangga.

 

Ayo Berkunjung ke Benteng Madang!

Benteng Madang cocok untuk Kawan GNFI yang sedang menjelajahi Kalimantan Selatan dan ingin mengenal Perang Banjar dari sebuah situs yang konkret dan masih bisa didatangi langsung.

Persiapkan kondisi fisik untuk mendaki 400 anak tangga, datanglah pagi hari, dan luangkan waktu untuk membaca ulang cerita lima pertempuran yang pernah terjadi di tempat yang sama dengan tempat Kawan berdiri. Selamat berkunjung!

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.