perayaan grebeg gethuk tradisi magelang yang terus berkembang dan jaga identitas budaya - News | Good News From Indonesia 2026

Perayaan Grebeg Gethuk: Tradisi Magelang yang Terus Berkembang dan Jaga Identitas Budaya

Perayaan Grebeg Gethuk: Tradisi Magelang yang Terus Berkembang dan Jaga Identitas Budaya
images info

Perayaan Hari Jadi ke-1120 Kota Magelang | Pemerintah Kota Magelang


Grebeg Gethuk menjadi salah satu bagian dari perayaan Hari Jadi ke-1120 Kota Magelang. Ribuan warga memadati Alun-Alun Kota Magelang untuk mengikuti puncak tradisi yang ditandai dengan perebutan dua gunungan berisi sekitar 1.120 buah gethuk.

Dua gunungan tersebut terdiri atas Gunungan Jaler (Laki-laki) dan Gunungan Estri (Perempuan) dengan berat keseluruhan mencapai 300 kilogram. Angka 1.120 dipilih untuk melambangkan usia Kota Magelang.

Selain itu, tradisi tersebut juga dipandang sebagai momen kembul bujono atau makan bersama sebagai ungkapan syukur atas kesejahteraan warga.

Menurut Theresia Pinaka Ratna Ning Hapsari dan Hubbi Saufan Hilmi dalam Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya (2026), Grebeg Gethuk berangkat dari tradisi grebeg dalam budaya Jawa. Tradisi tersebut berkaitan dengan pembagian makanan dan hasil bumi kepada masyarakat sebagai bentuk rasa syukur dan berkah, yang kemudian di Magelang sendiri berkembang melalui gethuk.

Pada awalnya, Grebeg Gethuk lebih berkaitan dengan penghormatan terhadap kelahiran Kota Magelang. Perayaannya juga masih berfokus pada aspek keagamaan dan adat lokal, sedangkan gethuk menjadi simbol sederhana dari kekayaan alam Magelang.

β€œGrebeg Gethuk awalnya dimulai sebagai bentuk penghormatan terhadap kelahiran Kota Magelang dan telah berkembang menjadi festival budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat,” tulisnya dalam jurnal tersebut.

Seiring berjalannya waktu, bentuk perayaan tersebut ikut berkembang. Gunungan gethuk kini tampil lebih artistik dan mulai melibatkan warga dari berbagai desa. Tarian tradisional dan teater rakyat juga ikut hadir, sehingga Grebeg Gethuk berkembang menjadi festival seni dan budaya yang lebih luas.

Selain itu, keterlibatan warga dalam menyiapkan gunungan juga memperlihatkan nilai gotong royong. Bagi generasi muda, rangkaian perayaan ini dapat menjadi ruang untuk mengenal sejarah dan nilai budaya lokal yang terus diwariskan.

baca juga

Tradisi Lama di Tengah Perayaan Baru

Perubahan tersebut juga terlihat dalam pelaksanaan Grebeg Gethuk 2026. Dilansir dari Laman resmi Pemerintah Kota Magelang, rute kirab tahun ini dibuat lebih efisien dengan memanfaatkan Pendopo Alun-alun yang baru.

Sementara rangkaian sejarah tetap dipertahankan dengan pementasan fragmen di Pendopo Mantyasih, situs yang disebut sebagai cikal bakal Kota Magelang. Setelah itu, peserta berjalan dalam kirab budaya menuju Alun-alun.

Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menyebutkan bahwa perubahan dalam prosesi merupakan langkah inovasi tanpa meninggalkan nilai historis.

β€œInovasi itu perlu agar tradisi tetap relevan, namun pakem sejarah harus tetap kita jaga,” tegas Damar.

Selain dua gunungan utama tadi, 17 kelurahan juga membawa gunungan berisi hasil bumi dan produk ekonomi kreatif masing-masing. Sebelum gunungan diperebutkan, 250 penari tampil dalam sendratari kolosal Babar Mahardika yang mengisahkan sejarah Magelang pada abad ke-9.

Kemudian pada acara puncaknya, Wali Kota memberikan aba-aba kepada ribuan warga yang hadir untuk menyerbu gunungan gethuk dan hasil bumi.

Sebagai Penanda Identitas Budaya Magelang

Gethuk telah bergeser dari makanan sehari-hari menjadi bagian penting dari festival budaya. Menurut Tri Setyo Nugroho, selaku panitia sekaligus sutradara Grebeg Gethuk 2026, pemilihan gethuk merepresentasikan karakter masyarakat yang sederhana sekaligus memiliki kekuatan ekonomi rakyat.

Hal ini diperkuat sebagaimana menukil dari laman resmi Visit Jawa Tengah yang dikelola langsung olehDinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, bahwa Grebeg Gethuk hadir sebagai simbol kebanggaan daerah dengan mengangkat kuliner gethuk sebagai representasi kekuatan UMKM lokal serta mencerminkan kesederhanaan, daya tahan, dan kreativitas warga Magelang.

Sehingga, perayaan Grebeg Gethuk dapat membuka ruang bagi pariwisata dan ekonomi lokal karena dapat menarik wisatawan sekaligus memberi peluang bagi produsen gethuk, pengrajin, dan pelaku usaha pariwisata.

Dengan demikian, Magelang akan terus dirawat melalui cara yang bisa dinikmati bersama. Karena daya tarik tradisi ini tetap bertumpu pada keterlibatan dan kekompakan masyarakat setempat. Mulai dari gunungan yang disiapkan bersama, kesenian yang ditampilkan, hingga kebiasaan berbagi makanan antarwarga.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HK
FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.