menyelami sisi eksotis tari dolalak warisan budaya purworejo yang penuh karisma - News | Good News From Indonesia 2026

Menyelami Sisi Eksotis Tari Dolalak, Warisan Budaya Purworejo yang Penuh Karisma

Menyelami Sisi Eksotis Tari Dolalak, Warisan Budaya Purworejo yang Penuh Karisma
images info

Tari Dolalak Purworejo | Foto: Wikimedia Commons | Pengarang: Farhan Yodha Prawira


Pernahkah Kawan melihat penari bertopi, berkacamata hitam, dengan hentakan rumbai-rumbai pundak yang tegas? Itulah Tari Dolalak, kesenian khas Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Tarian ini sudah lama dikenal sebagai salah satu seni rakyat paling menarik dari daerah tersebut.

Bahkan peneliti UGM pernah menilai tarian ini sangat digemari warga setempat dan menyebutnya sebagaiΒ primadona tari tradisionalΒ di Purworejo. Daya tariknya datang dari kostum, musik, sampai suasana mistis yang jarang ditemui di tarian lain.

Outfit Tari Dolalak Meniru Kostum Serdadu Belanda

Nama Dolalak berasal dari lafal nada "do la la" yang dulu dinyanyikan serdadu Belanda di tangsi atau markas tentara. Melansir jurnal Kawistara UGM (2013), warga Purworejo menirukan nyanyian itu sampai akhirnya jadi nama tarian. Tiga santri bersaudara, Rejotaruno, Duliyat, dan Ronodimejo, ikut meniru gerak para serdadu itu. Sejak itu Dolalak menjadi hiburan rakyat yang digemari.

baca juga

Selain nama dan gerakan, kostumnya pun meniru seragam tentara Belanda saat itu. Berdasarkan catatan di Kawistara, penari memakai baju lengan panjang berpangkat di bahu, topi pet, celana pendek, kaus kaki panjang, selendang dan kacamata hitam sebagai tambahannya.

Tari Dolalak, tarian tradisional asli saka Kabupaten Purworejo | Wikimedia Commons | Karya: Andum Pamesti
info gambar

Tari Dolalak, tarian tradisional asli saka Kabupaten Purworejo | Wikimedia Commons | Karya: Andum Pamesti


Melansir laman Desa Krandegan Bayan, perpaduan budaya Barat dan Timur ini disebut akulturasi. Penari yang berjumlah delapan hingga dua belas bergerak serempak dalam barisan, mirip parade militer, lengkap dengan unsur dansa dan pencak silat Jawa.

Kini warna dasarnya tetap hitam, tetapi dipadukan motif kuning, merah muda, dan hijau, jika menurut jurnal Ketahanan Nasional (2022).

Trance, Sisi Mistis yang Unik

Sisi eksotis Dolalak yang paling terasa adalah saat menjelang puncak pertunjukan. Sebagian penari tampak tak sadar dan bergerak di luar kendali, kondisi ini kerap disebut ndadi,mendem, atau trance.

Dalam catatan dari beberapa jurnal, ada yang menjelaskan bahwa kondisi itu dipercaya sebagai masuknya roh halus ke tubuh penari. Tarian ini pun dinilai memiliki "unsur mistis yang kental".

baca juga

Musik sering jadi pemicunya. Ritme rebananya dimainkan dari tempo sedang hingga cepat yang menghentak, sehingga bisa memancing penari mendem. Pada situasi tersebut, orang yang ndadi cenderung melakukan hal yang sulit masuk di akal manusia, seperti makan beling, makan bunga mawar, dll.

Tari Dolalak Purworejo | Foto: Web resmi Desa Krandegan Bayan
info gambar

Tari Dolalak Purworejo | Foto: Web resmi Desa Krandegan Bayan


Kacamata hitam juga punya cerita, kacamata ini diyakini menghindarkan kontak mata langsung yang bisa mengundang gangguan gaib, dan pawang disiapkan untuk menjaga penari.

Upaya Melestarikan Dolalak

Pada awalnya Dolalak hanya ditarikan laki-laki dewasa. Berdasarkan jurnal Ketahanan Nasional (2022), perempuan mulai ikut menari sekitar tahun 1970-an, ketika pemerintah daerah mau mengangkat kesenian lokal sebagai daya tarik wisata. Kini hampir semua kelompok Dolalak di Purworejo memakai penari perempuan yang kisaran umurnya belasan tahun.

Gerakannya memadukan ketegasan baris-berbaris, kelembutan penari, dan gerakan yang menggetarkan bahu. Kawistara mencatat, tanpa perempuan, kesenian tradisi terasa "bagai sayur kurang garam atau hambar".

Meski populer, Dolalak punya tantangan. Banyak kelompok kekurangan penari karena remaja merantau ke kota, sedangkan minat anak muda untuk belajar masih rendah. Dana pelestarian dari pemerintah juga masih terbatas.

Dolalak juga pernah mewakili Jawa Tengah di festival kesenian tradisional negara Asia dan Pasifik di Taiwan pada 2011. Kabar baiknya, upaya menjaga Dolalak terus berjalan. Jurnal yang sama mencatat ada 116 kelompok tari di seluruh kecamatan Purworejo. Sajiannya juga dipadatkan menjadi tarian singkat, bahkan untuk penyambutan tamu hanya 12 menit. Peneliti pun mengusulkan Dolalak masuk ekstrakurikuler sekolah agar generasi muda ikut menari dan menjaga warisan ini.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

US
KG
FN
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.