Karakter Sri Asih mengalami pengembangan cerita dan representasi ketika hadir dalam medium Webtoon dan film layar lebar. Meskipun keduanya sama-sama menempatkan Alana sebagai sosok perempuan yang memiliki kekuatan dan memperjuangkan keadilan, Webtoon lebih menonjolkan unsur fantasi dan kekuatan supranatural, sedangkan film Sri Asih (2022) memperluas cerita melalui latar kehidupan, konflik psikologis, serta persoalan sosial yang dihadapi tokoh utama.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa perubahan medium tidak hanya mengubah bentuk penyajian cerita, tetapi juga memengaruhi cara karakter perempuan dibangun. Alana dalam kedua karya tetap digambarkan sebagai tokoh yang aktif, mandiri, dan memiliki kendali terhadap keputusan yang diambilnya.
Perjalanan Karya Sastra Sri Asih
Sri Asih merupakan salah satu karakter superhero perempuan Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam budaya populer. Karakter ini pertama kali diciptakan oleh R.A. Kosasih pada 1954. Seiring perkembangan media, karakter Sri Asih kemudian hadir dalam berbagai bentuk, termasuk komik digital dan film.
Versi Webtoon Sri Asih: Celestial Goddess ditulis oleh Archie The RedCat dengan ilustrasi Devita Krisanti dan diterbitkan melalui LINE WEBTOON. Cerita tersebut memperkenalkan Alana sebagai seorang perempuan yang memiliki kemampuan melihat makhluk gaib. Kehidupannya kemudian berubah ketika kekuatan Sri Asih dalam dirinya mulai muncul.
Sementara itu, film Sri Asih yang dirilis pada 2022 menghadirkan Pevita Pearce sebagai Alana. Film tersebut disutradarai Upi dan menjadi bagian dari jagat sinema Bumilangit.
Dalam versi film, perjalanan Alana dikembangkan dengan latar kehidupan yang lebih panjang, mulai dari masa kecil, kehilangan keluarga, kehidupan di panti asuhan, hingga kehidupannya sebagai petarung profesional.
Perbedaan tersebut membuat karakter Alana dalam film memiliki latar belakang yang lebih kompleks dibandingkan penggambaran dalam Webtoon.
Struktur Cerita yang Berbeda
Dalam Webtoon, cerita Sri Asih bergerak lebih ringkas dengan menempatkan unsur fantasi dan supranatural sebagai bagian penting dalam perkembangan cerita. Kemampuan Alana melihat makhluk gaib menjadi pintu masuk menuju identitasnya sebagai Sri Asih.
Alur tersebut membuat perkembangan tokoh berlangsung melalui rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan kemunculan kekuatan, pertarungan, serta upaya menghadapi kekuatan jahat. Visual panel, ekspresi karakter, dan dialog menjadi unsur penting dalam menyampaikan perubahan Alana.
Film Sri Asih membangun cerita dengan alur yang lebih kompleks. Kehidupan masa lalu Alana menjadi bagian penting untuk memahami karakter dan konflik yang dihadapinya. Film memperlihatkan pengalaman kehilangan keluarga, kehidupan di panti asuhan, hubungan dengan keluarga angkat, hingga pergulatan Alana dalam mengendalikan emosinya.
Tokoh pendukung seperti Eyang Mariani, Tangguh, Mateo, dan Prayogo juga memberikan lapisan konflik yang lebih luas. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut membuat persoalan Alana tidak hanya berkaitan dengan kekuatan supranatural, tetapi juga dengan hubungan antarmanusia dan ketimpangan kekuasaan.
Latar film juga lebih beragam. Panti asuhan, arena pertarungan, lingkungan keluarga elite, dan ruang perkotaan menjadi bagian dari perjalanan Alana. Latar tersebut membantu memperlihatkan persoalan sosial yang tidak terlalu menonjol dalam cerita Webtoon.
Kekuatan Sri Asih Tidak Hanya tentang Fisik
Perbedaan paling menarik terlihat pada cara kedua karya menggambarkan kekuatan Alana.
Webtoon lebih banyak memperlihatkan kekuatan Sri Asih sebagai kemampuan supranatural yang membuat Alana mampu menghadapi berbagai ancaman. Identitas superhero menjadi bagian penting dalam perkembangan cerita.
Film kemudian memperluas pengertian mengenai kekuatan tersebut. Alana tidak hanya harus mampu melawan musuh, tetapi juga harus menghadapi kemarahan dan konflik dalam dirinya sendiri.
Kekuatan fisik menjadi salah satu kemampuan yang dimiliki Alana, tetapi pengendalian diri juga menjadi bagian penting dalam perjalanan karakternya. Hal tersebut membuat Alana tidak hanya digambarkan sebagai superhero yang kuat secara fisik, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki kelemahan dan harus belajar mengatasinya.
Perubahan ini memperlihatkan bagaimana medium film memberikan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan sisi psikologis tokoh melalui ekspresi aktor, dialog, adegan, musik, dan sinematografi.
Representasi Perempuan dalam Sosok Sri Asih
Kedua karya juga menunjukkan representasi perempuan sebagai tokoh yang aktif dan memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri.
Alana tidak ditempatkan sebagai karakter yang hanya menunggu pertolongan tokoh lain. Ia menjadi pusat cerita, mengambil keputusan, menghadapi konflik, dan menggunakan kekuatannya untuk melindungi orang lain.
Representasi tersebut dapat dilihat melalui perspektif feminisme. Perempuan ditampilkan sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan dan bertindak berdasarkan kehendaknya sendiri.
Dalam film, representasi tersebut terlihat lebih luas karena Alana berhadapan dengan persoalan sosial dan kekuasaan. Ia tidak hanya melawan ancaman secara fisik, tetapi juga berada dalam posisi untuk menentukan sikap terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya.
Karakter Sri Asih dengan demikian tidak hanya berfungsi sebagai superhero perempuan, tetapi juga menjadi gambaran perempuan yang memiliki keberanian, kemandirian, dan tanggung jawab terhadap kekuatan yang dimilikinya.
Perubahan Medium Mengubah Cara Cerita Disampaikan
Perbedaan antara Webtoon dan film juga tidak dapat dilepaskan dari karakteristik masing-masing medium.
Webtoon mengandalkan panel, ilustrasi, warna, ekspresi, dan dialog untuk membangun cerita. Pembaca memiliki ruang untuk menghubungkan satu panel dengan panel berikutnya serta membentuk imajinasi terhadap gerakan dan suasana.
Film menggunakan perangkat yang lebih beragam, seperti akting, gerakan kamera, musik, pencahayaan, tata suara, kostum, efek visual, dan latar. Unsur-unsur tersebut memungkinkan pengalaman hidup Alana ditampilkan secara lebih konkret.
Karena itu, perbedaan antara Webtoon dan film tidak semata-mata menunjukkan perubahan cerita, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebuah karakter dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik medium yang digunakan.
Film Sri Asih juga tidak dapat disebut sebagai adaptasi langsung dari keseluruhan cerita Webtoon. Keduanya memiliki karakter Alana sebagai Sri Asih, tetapi film mengembangkan latar dan konflik tersendiri. Versi film juga mengambil unsur dari berbagai versi Sri Asih yang telah hadir sebelumnya.
Sri Asih Tetap Relevan bagi Generasi Baru
Perjalanan Sri Asih dari komik klasik, Webtoon, hingga film memperlihatkan kemampuan karakter tersebut untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Webtoon menghadirkan Sri Asih dalam bentuk yang lebih dekat dengan pembaca digital, sedangkan film memperkenalkannya melalui pengalaman sinematik dengan konflik yang lebih kompleks.
Meski memiliki perbedaan dalam alur, latar, dan pengembangan karakter, kedua versi tersebut tetap mempertahankan Alana sebagai sosok perempuan yang berani dan memiliki kekuatan untuk menentukan tindakannya sendiri.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa karakter superhero perempuan Indonesia dapat terus dikembangkan tanpa kehilangan gagasan utama tentang keberanian dan keadilan. Dari panel digital hingga layar lebar, Sri Asih tetap hadir sebagai sosok perempuan yang tidak hanya memiliki kekuatan super, tetapi juga memiliki pilihan, tanggung jawab, dan peran penting dalam menghadapi ketidakadilan.


