Ketika mendengar istilah "Masjid Asal" di Gayo Lues, ingatan banyak orang mungkin langsung tertuju pada sebuah masjid bersejarah di Kampung Penampaan, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues.
Masjid Asal Penampaan dikenal luas oleh masyarakat dan diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Gayo Lues. Berbagai cerita yang berkembang di masyarakat juga menyebutnya sebagai salah satu awal perkembangan masjid di wilayah Gayo Lues dan sekitarnya.
Namun, ternyata kata “Asal” tidak hanya melekat pada masjid di Penampaan. Di Kampung Peparik Dekat, Kecamatan Blangjerango, terdapat sebuah masjid yang juga menggunakan nama tersebut, yakni Masjid Asal Nurul Ula.
Nama ini tentu menimbulkan pertanyaan. Mengapa masjid di Peparik Dekat dengan jarak yang cukup jauh dari Blangkejeren juga disebut “Masjid Asal”? Apakah memiliki hubungan dengan Masjid Asal Penampaan, atau justru mempunyai cerita sejarahnya sendiri?
Pertanyaan tersebut menjadi awal penelusuran mengenai Masjid Asal Nurul Ula melalui cerita masyarakat dan keterangan sejumlah tokoh yang masih mengetahui sejarah masjid tersebut.
Dari Masjid Asal menjadi Nurul Ula
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pada awalnya masjid ini hanya dikenal dengan nama Masjid Asal saja. Nama Nurul Ula kemudian diberikan oleh Abuya Tgk H. Musa Jailani, seorang ulama kharismatik dari Gayo Lues yang juga sebagai pendiri Pondok Pesantren Bustanul Arifin di Desa Penosan, Kecamatan Blangjerango.
Nama Nurul Ula dimaknai sebagai cahaya kemuliaan atau cahaya pertama. Pemberian nama tersebut dipercaya bermakna filosofis karena masjid ini diyakini masyarakat sebagai salah satu masjid yang pertama dibangun di wilayah Gayo Lues.
Meskipun kemudian memiliki nama Nurul Ula, sebutan Masjid Asal tetap melekat dalam ingatan masyarakat hingga sekarang.
Jejak Pendiri di Balik Kayu Masjid
Cerita mengenai pendiri Masjid Asal Nurul Ula juga menyimpan hal menarik. Di dalam masjid terdapat bekas kaki yang dipercaya sebagai jejak salah seorang pendiri yang masih ada sampai sekarang.
Bekas tersebut berada pada bagian kayu di dekat atap sehingga tidak dapat dilihat secara langsung dari bawah.
Lokasi masjid sendiri diyakini tidak pernah berpindah sejak pertama kali didirikan. Letaknya yang berada di dekat aliran sungai disebut menjadi salah satu alasan lokasi tersebut dipilih karena memudahkan masyarakat mendapatkan air untuk berwudu. Namun, kapan tepatnya Masjid Asal Nurul Ula pertama kali dibangun belum diketahui secara pasti.
Dalam cerita mengenai Masjid Asal Penampaan, terdapat 13 tokoh yang disebut sebagai pendirinya, yaitu Datok Masjid, Syeh Siti Mulya, Syeh Said Ibrahim, Syeh Said Ahmad, Syeh Said Abdul Rahman, Syeh Abdulah, Syeh Abdul Wahab, Said Hasan, Said Husin, Abdul Kodir, Said Ali Muhammad, Datok Gunung Gerudung, dan Mamang Mujra.
Adanya kesamaan cerita mengenai para pendiri kemudian memunculkan dugaan bahwa tokoh-tokoh tersebut juga berkaitan dengan pendirian Masjid Asal Nurul Ula. Namun, hubungan tersebut belum dapat dipastikan. Minimnya catatan tertulis mengenai sejarah awal masjid membuat informasi tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Benarkah Nurul Ula Lebih Dahulu Dibangun?
Hubungan antara Masjid Asal Nurul Ula dan Masjid Asal Penampaan menjadi semakin menarik ketika muncul cerita mengenai waktu pembangunannya.
Menurut Kasim, salah seorang tokoh masyarakat di Peparik Dekat, ia memperoleh cerita dari Abdul Ghafar, seorang yang telah lama menjadi bilal atau muazin di masjid tersebut. Dalam cerita yang disampaikan kepadanya, pembangunan Masjid Asal Nurul Ula disebut telah dimulai lebih dahulu dibandingkan Masjid Asal Penampaan. Namun, Masjid Asal Penampaan disebut selesai lebih dahulu.
Perbedaan antara waktu dimulainya pembangunan dan selesainya bangunan tersebut kemudian menjadi bagian dari cerita masyarakat mengenai mengapa Masjid Asal Penampaan lebih dikenal sebagai masjid tertua.
Jika cerita tersebut benar, Masjid Asal Nurul Ula mungkin memiliki sejarah pembangunan yang lebih awal. Namun, informasi tersebut belum dapat dipastikan karena belum ditemukan catatan tertulis yang menunjukkan secara pasti kapan pembangunan kedua masjid tersebut dimulai dan selesai.
Dengan demikian, cerita tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari sejarah lisan masyarakat yang masih perlu ditelusuri melalui penelitian lebih lanjut. Terlepas dari persoalan mana yang lebih dahulu, keberadaan dua masjid yang sama-sama menggunakan sebutan “Asal” menunjukkan adanya bagian sejarah kehidupan keagamaan masyarakat Gayo Lues yang masih bertahan dalam ingatan.
Dua Kali Renovasi
Seiring berjalannya waktu, Masjid Asal Nurul Ula tentu mengalami perubahan. Menurut ingatan Kasim, sejak ia lahir hingga tahun 2026 ini, masjid tersebut telah mengalami renovasi sebanyak dua kali.
Meski demikian, masyarakat meyakini bentuk bangunan sekarang masih mempertahankan bentuk aslinya. Tidak adanya dokumentasi mengenai wujud bangunan pada masa awal membuat perubahan bentuk dari masa ke masa sulit diketahui secara rinci.
Dalam proses renovasi tersebut, terdapat pula cerita mengenai kemunculan ular di sekitar masjid. Masyarakat setempat tidak mengaitkan kemunculan tersebut dengan sesuatu yang mistis. Bagi mereka, keberadaan ular dianggap sebagai fenomena biasa yang dapat terjadi di lingkungan sekitar masjid. Cerita sederhana itu kemudian menjadi bagian dari ingatan masyarakat mengenai perjalanan Masjid Asal Nurul Ula.
Ketika Sejarah Bertahan dalam Ingatan
Masjid Asal Nurul Ula masih menyimpan sejumlah pertanyaan. Kapan tepatnya masjid ini pertama kali dibangun? Siapa saja yang terlibat dalam pendiriannya? Bagaimana hubungan sejarahnya dengan Masjid Asal Penampaan? Dan mengapa kedua masjid tersebut sama-sama menggunakan sebutan “Asal”? Belum semua pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang dapat dibuktikan melalui catatan tertulis.
Namun, ketiadaan dokumen tidak membuat cerita mengenai masjid ini kehilangan arti. Kesaksian masyarakat dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi dapat menjadi pintu awal untuk menelusuri sejarah yang lebih panjang. Masjid Asal Nurul Ula di Kampung Peparik Dekat adalah salah satu contohnya.
Bangunan yang hingga kini masih digunakan masyarakat itu bukan hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga bagian dari ingatan masyarakat mengenai perjalanan kehidupan keagamaan di Gayo Lues. Tentunya, masih diperlukan penelitian lebih jauh untuk mengungkap sejarahnya secara lebih lengkap.
Namun, sebelum cerita tersebut perlahan hilang bersama pergantian generasi, mendokumentasikannya menjadi langkah kecil untuk menjaga salah satu kepingan sejarah Gayo Lues tetap hidup.


